
Selesai menunaikan shalat maghrib di kamar hotel, Anya dan Husein akhirnya berangkat ke rumah sakit tempat Ayah Anya dirawat. Ibu dan Kak Zaki berada disana menunggui Bapak yang sedang bersiap di ruang perawatan.
"Harusnya kalian tidak perlu datang kemari, insyaallah operasi Bapak akan berjalan lancar, selesai menikahkan kalian saja Bapak sudah merasa jauh lebih baik..."
"Sudah seharusnya kami berada disini menunggu Bapak, kami juga tidak akan tenang kalau tidak disini..."
"Makasih nak, kalian tahu nggak? Sebelum ini Bapak berfikir, bapak ini sudah sakit-sakitan, rasa-rasanya waktu Bapak tidak lama lagi, sewaktu-waktu Bapak bisa saja dipanggil, tapi rasanya Bapak belum ikhlas kalau Bapak pergi tapi belum melihat Anya menikah. Waktu kamu bilang mau melamar Anya, Bapak kaget sekaligus lega sekali, tapi ternyata Bapak malah jadi drop. Setelah sadar Bapak berdoa, semoga masih sempat melihat Anya menikah, setelah itu Bapak sudah ikhlas kalau memang sudah waktunya. Tapi ternyata setelah menikahkan kalian, pikiran Bapak jadi berubah. Bapak jadi lebih bersemangat. Rasa-rasanya Bapak nggak cukup melihat kalian menikah saja, Bapak jadi punya banyak keinginan lain. Bapak ingin melihat anak-anak Bapak hidup bahagia, ingin melihat Zaki menikah juga, ingin melihat dan menggendong cucu-cucu Bapak nanti. Ternyata Bapak ini manusia yang tamak ya nak, sudah dikabulkan satu permintaan, tapi malah pengen yang lain-lain juga..."
"Nggak papa Pak, itu wajar dan bagus sekali. Bapak harus semangat, harus punya banyak impian di dalam hidup supaya hidup jadi berwarna, tidak ada yang salah selama keinginan-keinginan kita adalah dalam kebaikan. Tinggal di dukung dengan usaha dan doa, masalah terlaksana atau tidak itu urusan Allah..."
"Ya..ya Bapak tahu, Bapak akan selalu berdoa untuk kebaikan dan kebahagian kalian...hanya itu saja harapan Bapak"
Bapak tampak senang mengobrol dengan menantu barunya. Dan Husein pun merasa senang bisa diterima baik oleh semua keluarga Anya
"Sudah-sudah jangan terlalu banyak bicara Pak, sebentar lagi Bapak harus masuk ke ruang operasi, sebaiknya kita banyak-banyak berdoa saja..."
"Kalau berdoa Bapak sudah berdoa dari kemarin-kemarin Bu, sekarang mumpung Anya dan menantu baru kita ada disini Bapak pengen ngobrol-ngobrol dulu, dari pada tegang mikirin operasi..."
"Betul itu Bu, Bapak tidak boleh banyak pikiran biar rileks nanti kalau dioprasi..."
Zaki ikut menimpali sambil terus mengunyah jajanan yang di bawakan Anya dan Husein.
__ADS_1
"Dasar anak sama Bapak sama aja, sini bagi sama Ibu jajannya jangan dimakan sendiri!", kata Ibu sambil merebut datu bungkusan makanan dari pangkuan Zaki.
Suasana pun seketika mencair.
Anya pun ikut tersenyum menyaksikan kehangatan keluarganya. Meski tak banyak ikut bicara, dalam hati Anya sangat bersyukur atas anugrah yang diterimanya secara bertubi-tubi. Bertemu kembali dengan keluarga yang dirindukan, juga menikah dengan orang yang diam-diam dicintainya. Hanya satu lagi doa Anya saat ini. Semoga operasi Ayahnya benar-benar berjalan dengan lancar, dan Ayahnya bisa kembali sehat dan ikut merasakan kebahagian yang kini tengah dirasakannya.
Tidak lama berselang perawat masuk. Bapak dipindahkan ke ruangan operasi. Semua tawa yang tadi sempat mewarnai ruang perawatan berubah menjadi hening. Semua mengikuti Bapak, meski harus menunggu di luar ruang operasi.
Husein mengenggam tangan Anya dan tersenyum samar, mencoba memberi kekuatan untuk istrinya yang terlihat cemas.
Ibu dan Zaki juga saling mengenggam, tak bisa menyembunyikan kegelisahan meski berkali-kali Zaki menawari Ibunya makan untuk mengalihkan pikiran. Akhirnya mereka hanya duduk diam, sambil harap-harap cemas.
"Selamat malam, bisa saya bicara dengan keluarga Bapak Abdullah sholeh?"
Zaki langsung mendekat untuk berbicara dengan dokter.
"Ya dok, bagaimana operasinya?"
"Operasi berjalan lancar dan sudah berhasil, namun saat ini pasien masih dipantau kondisinya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan...."
"Baik dok, terimakasih banyak..."
__ADS_1
"Alhamdulillah hirabbil alamin..."
Semua ikut mencuri dengar penjelasan dokter dan mengucap hamdallah. Ahkirnya mereka bisa tenang sekarang.
"Anya sebaiknya kamu dan suamimu pulang ke hotel saja, istirahatlah...kalian pasti lelah...", ucap Ibu pada Anya.
Anya merasa berat untuk meninggalkan Bapak, tapi juga merasa sungkan pada Husein.
"Sebaiknya Ibu saja yang istirahat di hotel, biar kami yang menunggu Bapak...sepertinya Anya masih kangen..."
Husein sepertinya tahu isi hati Anya.
"Tapi Nak..."
"Kak Zaki tolong temani Ibu ke hotel ya, biar kami yang menunggu Bapak malam ini, baru besok pagi gantian...kalian pasti lelah kan belum sempat tidur, aku dan Anya sudah cukup beristirahat tadi siang.."
"Baiklah, titip jaga Anya dan Bapak...ayo Bu, nanti Ibu bisa ikut sakit kalau kecapekan..."
Akhirnya Ibu setuju untuk beristirahat. Sementara itu Anya dan Husein tetap duduk di ruang tunggu rumah sakit. Husein ingin memberi kesempatan seluas-luasnya pada Anya untuk menghabiskan waktu dengan keluarganya. Toh nanti setelah kembali ke ibu kota mereka masih punya banyak waktu untuk berdua.
Husein terus mengenggam tangan Anya, hingga Anya terkantuk-kantuk dan tertidur sambil duduk.
__ADS_1