
Anya pulang ke rumah kontrakannya dengan pikiran kacau. Anya merasa bingung dan sangat takut. Pernyataan cinta Husein entah mengapa membuat perasaannya kacau balau. Bagaimana mungkin Husein yang begitu sempurna begitu bodoh sampai mengungkapnya cinta kepada perempuan seperti dirinya. Bukankah Husein dan keluarganya sudah tahu tentang sisi terkelam dirinya. Anya merasa sungguh tidak pantas bersanding dengan seorang pria. Apalagi dengan pria seperti Husein. Anya sudah menutup rapat-rapat pintu hatinya untuk siapapun juga. Bukan, bukan berarti dia sudah tidak punya hati. Anya hanya ingin mencintai dirinya sendiri dan melindungi hatinya dari laki-laki yang hanya akan mengecewakannya nanti. Anya tidak berharap lagi untuk dicintai, apalagi untuk menikah. Anya hanya ingin hidup dengan baik untuk dirinya sendiri saja.
Anya akhirnya memilih tidur untuk.menenangkan diri dan melupakan sejenak masalahnya. Keesokan harinya Anya bangun pagi-pagi sekali seperti biasa. Anya akhirnya memutuskan untuk mengambil sebuah langkah untuk menyelesaikan masalahnya. Anya akan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Anya pikir, itulah satu-satunya cara untuk menghindari Husein dan berhenti bertemu dengannya.
Tak ingin buang waktu, pagi itu juga Anya segera menulis surat pengunduran dirinya, lalu melipatnya dan dimasukkan ke dalam tas kerjanya. Anya pun berangkat ke kantor seperti hari-hari sebelumnya.
Sampai di kantor, Husein ternyata belum datang. Anya memilih untuk duduk menunggu Husein sambil menyiapkan mentalnya. Begitu Husein datang, selang beberapa saat Anya langsung mengetuk.pintu ruangannya. Lalu Anya masuk setelah Husein memoersilahkannya.
"Selamat pagi Anya, senang melihatmu lagi...", sapa Husein sambil tersenyum.
Anya lalu mengangsurkan sebuah map ke meja Husein.
"Aku mengajukan surat pengunduran diri.."
"Apa?"
Tanya Husein dengan raut bingungnya, belum bisa mencerna apa yang dikatakan Anya.
"Aku ingin mengundurkan diri!", ulang Anya dengan lebih jelas.
__ADS_1
"Oh..", Husein baru mengerti maksud perkataan Anya.
Husein lalu mengambil map yang diserahkan Anya, membukanya dan mengeluarkan isinya. Husein lalu merobek kertas itu tanpa membaca isinya terlebih dahulu.
"Kamu masih terikat kontrak dan punya banyak hutang padaku! Kamu tidak bisa pergi begitu saja atau kamu harus membayar denda yang sangat besar, apa kamu lupa Anya?"
Anya hanya bisa menghembuskan nafas dengaan kesal. Husein benar, kontraknya di perusahan kali ini benar-benar mengikatnya seperti tawanan. Tak ada bedanya dengan kontrak dengan tante Bella sebelumnya. Dia tidak akan bisa lepas begitu saja.
"Dasar licik!", gerutu Anya akhirnya.
"Anya, jika peristiwa tadi malam yang membuatmu ingin pergi dari sini, mari kita lupakan semuanya. Aku benar-benar minta maaf untuk itu. Anggap saja aku tak pernah mengatakan apapun dan kita akan kembali bekerja dan berteman seperti sebelumnya...."
"Apa maksudmu?"
"Keluar dari ruanganku dan lakukan pekerjaanmu seperti biasa, nanti juga temani aku makan siang seperti biasa!"
Husein mendorong tubuh Anya keluar dan menutup pintu ruangannya.
Anya tak punya pilihan, akhirnya Anya kembali bekerja seperti biasanya meski dengan hati yang kesal.
__ADS_1
Di dalam ruangannya, Husein tidak bisa konsentrasi untuk bekerja. Pikirannya tak bisa fokus, terus memikirkan tentang Anya-nya. Husein sudah yakin dengan hatinya dan ingin memiliki Anya seutuhnya. Tapi sepertinya dirinya masih harus bersabar. Tidak, Husein tidak ingin menyerah. Dia hanya mundur satu langkah, untuk mengambil ancang-ancang dan mencapai tujuannya. Husein sangat mengerti keadaan dan perasaan Anya. Tidak mudah bagi Anya untuk membuka hati dan memulai hubungan setelah semua yang terjadi di dalam kehidupannya. Karena itu Husein harus memikirkan cara lain untuk mendapatkan hati Anya.
Husein lalu menelpon orang kepercayaan yang disuruhnya mengikuti Anya kemarin.
"Datanglah keruanganku sekarang, aku ada tugas baru untukmu..."
"Siap Bos..."
Selang beberapa saat orang itu segera tiba diruangan Husein.
"Selidiki dan cari tahu tentang keberadaan keluarga Anya, juga semua tentang seluk beluk keluarganya..."
"Tapi Bos, bukankah kemungkinan besar mereka masih tinggal di kota kelahiran Nona Anya?"
"Ya, kirim orang-orang kita kesana dan cari tahu sebanyak-banyaknya..."
"Baiklah, siap laksanakan!"
"Laporkan padaku secepatnya, nanti aku sendiri yang akan mengurus selanjutnya..."
__ADS_1