
Anya tidak menyangka akhirnya dirinya memiliki keberanian untuk melakukan perjalanan ini. Di dalam kereta yang melaju, Anya membuang pandangannya keluar jendela. Memandangi hamparan persawahan yang menghijau, jalan raya, juga pemukiman dan pedesaan yang dilewatinya sepanjang perjalanan dari ibu kota ke kota kelahirannya. Tak terasa sudah lebih dari lima tahun dia pergi meninggalkan kota kelahirannya. Kota tempat dia tumbuh dan dibesarkan, dengan cara paling tragis yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Ya, Anya memilih kereta api sebagai mode tranportasi kepulangannya. Sama saat dulu dia berangkat ibu kota. Untuk apa? Untuk mengulur waktu mungkin atau untuk sedikit menunda pertemuan yang sangat dia nantikan sekaligus dia takutkan.
Akhirnya Anya jatuh tertidur dalam perjalanan yang menghabiskan waktu hampir enam jam itu. Anya kemudian terbangun saat suara hiruk pikuk penumpang yang mau turun membuatnya tersadar dari mimpi.
Anya mengambil tasnya lalu menyeret langkah kakinya turun dari kereta mengikuti penumpang lainnya. Sejenak Anya menatap bangunan stasiun yang terlihat sangat berbeda di banding dulu saat dia berangkat. Sepertinya banyak hal yang telah berubah dari kota kelahirannya. Seperti halnya dirinya yang telah banyak berubah. Meski entah dirinya berubah menjadi lebih baik atau justru sebaliknya. Yang jelas, Anya masih merasa tidak pantas untuk kembali. Meski begitu, Anya berusaha meyakinkan diri dan menegakkan kepalanya. Anya memesan ojek online dengan tujuan sebuah alamat yang masih sangat diingatnya. Sebuah pondok pesantren tempat dia pernah tinggal dan dibesarkan.
"Assalamulaikum"
Anya mengucap salam, sambil mengetuk pintu rumah sederhana di lingkungan pondok yang dulu pernah jadi tempat tinggalnya.
Tapi ternyata bukan Ayah atau Ibunya yang membukakan pintu, melainkan Pak dhe nya alias kakak dari Bapaknya, yang terlihat sangat terkejut saat melihatnya datang.
"Walaikumsalam...", jawab Pak dhe nya seraya melangkah keluar. Lalu menatap Anya dengan pandangan menelisik.
__ADS_1
"Anya? Kamu akhirnya pulang nduk?"
Tanya Pak dhe dengan hati-hati.
"Ya Pak dhe, maaf Pak dhe, dimana Bapak dan Ibu?"
"Bapak Ibumu sudah lama pindah nduk, sejak kamu pergi. Kamu kemana saja selama ini nduk? Kami semua kebingungan mencarimu, terutama orang tuamu..."
"Ya sudah kalau begitu, kamu bisa menceritakan lain kali, yang penting sekarang kamu baik-baik saja, bahkan semakin cantik dan segar, kami senang kamu akhirnya pulang...bagaimana? Apa perlu Pak dhe antarkan ke rumah orang tuamu atau mau istirahat disini dulu? Simbahmu yang sudah sepuh dan mulai pikun juga sering menanyakanmu nduk..."
"Saya ingin ketemu Bapak dan Ibu dulu Pak dhe, boleh minta alamatnya saja? saya ingin datang sendiri Pak dhe..."
"Ya...ya..tentu saja, sebentar biar Pak dhe tuliskan...tapi nanti kamu harus mampir kesini lagi ya Anya...simbah pasti senang kalau tahu cucu kesayangannya datang..."
__ADS_1
Kalimat itu sedikit menyentil perasaan Anya. Ya, dirinya adalah cucu kesayangan, sampai kemudian peristiwa itu terjadi.
"Baik Pak dhe, sekarang saya pamit dulu..."
Anya bergegas pergi meminggalkan lingkungan pondok sebelum ada orang yang mengenalinya. Anya lalu memesan ojek ke alamat yang di berikan Pak dhenya. Alamat rumah di sebuah perkampungan yang juga tidak asing bagi Anya. Rumah itu sudah lama menjadi milik Anyahnya. Tapi dulu karena Kakek meminta keluarga Anya tinggal di pondok, rumah itu dikontrakkan. Dan sekarang kedua orang tuanya memilih tinggal disana.
Rumah itu masih tampak seperti terakhir kali Anya melihatnya. Hanya saja catnya semakin pudar dan terlihat kusam. Sepertinya rumah itu tidak dirawat dengan baik. Anya memberanikan diri melangkah masuk, melintasi pagar lalu mengetuk pintu.
"Assalamualaikum..."
Tak perlu menunggu waktu lama, terdengar langkah kaki terburu yang kemudian membukakan pintu untuknya.
Wanita paruh baya itu tampak sangat terkejut melihat gadis yang datang. Wanita itu masih berdiri mematung menatap Anya, tapi air mata lebih dulu luruh sebelum wanita itu mengucapkan sepatah katapun.
__ADS_1