
Kematian keluarganya menjadi hal yang paling menyakitkan dalam hidup Fara. Rasa kehilangan dan kesedihan begitu dalam dirasakan Fara. Kehidupannya yang nyaman bersama keluarganya berubah menjadi kesendirian dan kesepian yang terasa mencekam. Saat itu adalah saat-saat terendah dalam hidup Fara. Fara merasa dunianya hancur seketika dan tak ada harapan lagi dalam hidupnya. Saat itulah pikiran-pikiran aneh mulai singgah di benak Fara. Ada perasaan takut yang amat sangat, juga ada perasaan hampa dan kosong. Untuk apa dan bagaimana Fara harus hidup tanpa keluarganya? Hal itu sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya. Kenapa dia harus hidup? Seharusnya dirinya ikut mati saja bersama Ayah dan Ibu. Itu pasti jauh lebih mudah dari pada hidup sendirian di dunia yang fana. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Rasanya Fara ingin menyusul dan bertemu kembali dengan Ayah, Ibu, dan Kakaknya. Sungguh dunia Fara takkan sama tanpa kehadiran mereka. Fara tak lagi punya semangat dan keinginan untuk hidup. Fara sengaja tidak mau makan dan minum, mungkin saja itu bisa membuatnya sakit lalu perlahan-lahan bisa menyusul keluarganya di alam sana. Itulah satu-satunya hal yang diinginkan Fara saat itu. Terkadang Fara ingin menyayat nadinya dengan serpihan kaca atau meminum racun serangga. Tapi membayangkan rasa sakitnya membuat Fara takut. Lagipula hal semacam itu pasti akan memancing kehebohan dan Fara tidak suka dengan hal itu.
__ADS_1
Fara tidak menyangka bahwa di tengah rasa frustasinya yang memuncak masih ada orang-orang yang peduli padanya. Mereka membawa Fara ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan. Siapa mereka? Kenapa harus ikut campur dalam hidupnya? Fara benci pada semua orang tapi Fara memilih diam. Seharusnya mereka hanya membiarkan Fara mati kelaparan dan menyusul keluarganya. Bukan malah mencekoki Fara dengan kepedulian yang palsu.
__ADS_1
Setelah beberapa hari dirawat dirumah sakit kondisi fisik Fara berangsur membaik, tapi tidak dengan jiwanya. Jiwanya seperti pergi entah kemana. Fara begitu pucat dengan tatapan kosong. Bagaikan tubuh tanpa jiwa. Merasa khawatir dengan keadaan Fara, Hasan dan Husein lalu membawa Fara ke rumah mereka, juga membawa Fara untuk berkonsultasi kepada psikolog. Setelah melakukan beberapa kali sesi konsultasi akhirnya kondisi psikis Fara sedikit demi sedikit membaik.
__ADS_1
Selama ini Fara adalah anak manja yang semua kebutuhannya dipenuhi orang tuanya. Fara baru saja lulus kuliah. Tapi dari teman-teman dan seniornya yang lulus lebih dulu, Fara tahu mencari pekerjaan yang diinginkan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ayahnya adalah seorang pegawai swasta. Sebagai ahli waris Fara mendapatkan uang pesangon dari kantor tempat Ayahnya bekerja. Selain itu Fara juga mendapatkan uang asuransi, juga mewarisi rumah, kendaraan, juga tabungan keluarganya dalam jumlah yang lumayan. Tapi berapapun banyaknya uang akan habis begitu saja jika Fara hanya duduk berpangku tangan. Biaya hidup, biaya pajak dan perawatan rumah, juga biaya untuk membayar asisten rumah tangganya cukup besar jumlahnya. Entah sampai kapan uangnya akan bertahan di tengah nasibnya yang masih terombang-ambing tak jelas. Fara butuh sandaran. Fara merasa butuh seseorang yang bisa dijadikannya pijakan untuk menopang hidupnya. Sedangkan Adrian, kekasihnya tak juga memberikan kejelasan dalam hubungan mereka. Padahal mereka sudah menjalin hubungan selama lima tahun dan Adrian juga sudah bekerja. Entah apalagi yang ditunggu pujaan hatinya itu.
__ADS_1
Maka saat Husein mulai mendekati Fara dan mengatakan ingin meminangnya meski dalam waktu singkat, sisi logisnya bekerja. Demi masa depannya, Fara memilih menerima pinangan Husein daripada menunggu Adrian yang tak jelas.
__ADS_1