Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 125


__ADS_3

Husein sangat terkejut ketika menyadari kehadiran Anya di kantornya. Husein ingin mendekati Anya, berbicara pada gadis itu dan meninta penjelasan. Tapi Anya malah memilih bersembunyi di antara kerumunan. Dan kemudian banyaknya orang-orang yang menyapanya membuat Husein kehilangan kesempatan untuk mencari Anya.


Sejenak Husein tenggelam dengan kesibukannya, mengobrol dan berbincang dengan para petinggi perusahaan juga para manager. Sudah lama mereka tidak berjumpa dan sudah lama Husein tidak mengikuti perkembangan juga gosip yang beredar di perusahaan, membuat perbincangan mereka terasa seru. Mereka tidak membahas tentang kecelakaan atau apapun tentang keadaan Husein, sebab Hasan sudah berpesan kepada seluruh pegawai di kantor agar tidak menyinggung hal itu. Husein merasa sangat senang bisa kembali bekerja dan berbincang dengan para karyawannya, tapi kemudian Rayhan mengingatkannya untuk kembali ke ruangannya dan meminta Husein fokus kembali pada pekerjaannya yang menumpuk.


Sialan! Berani sekali asistennya itu memerintahnya.


Tapi Husein pun tak urung menurutinya. Menyudahi perbincangan asyiknya, menyuruh semua kembali bekerja dan diapun melangkah menuju ruangannya. Ruang kerja yang sudah sangat dirindukannya.


Tapi, belum sampai masuk ke ruangannya, Husein melihat Rayhan duduk di mejanya bersama seorang gadis yang amat dikenalnya. Huseinpun segera menghampirinya.


"Anya, kamu disini?"


Rayhan tersenyum penuh arti ke arah bosnya.


"Pak Husein, perkenalkan, ini Anya yang akan jadi asiten baru bapak..."


Husein memandang Anya yang masih menunduk tanpa bicara sepatah katapun.

__ADS_1


"Maaf, saya permisi ke toilet dulu Pak..", Pamit Rayhan sengaja meninggalkan Bos dan asisten barunya.


Anya memberanikan diri menegakkan kepalanya dan menatap Husein dari ujung kepala sampai ujung kaki sambil meneliti keadaan pria itu. Sepertinya Husein baik-baik saja. Batin Anya menilai. Sepertinya dia telah ditipu. Entah untuk tujuan apa Hasan menjebaknya disini.


"Sepertinya kamu baik-baik saja...", ucap Anya kemudian.


Husein masih berdiri mematung menatap Anya dengan takjubnya.


"Anya, kamu benar-benar disini?"


Husein begitu senangnya melihat Anya setelah sekian lama menahan rindu. Tanpa sadar Husein memegang pundak Anya, lalu memeluknya erat-erat.


Menyadari wajah pucat Anya, Husein langsung melepaskan pelukannya.


"Maaf...maaf...apa aku membuatmu takut? Aku hanya terlalu senang melihatmu disini...", ucap Husein kemudian.


Dulu, Anya tidak pernah berfikir apapun jika akan berbicara pada Anton, lelaki yang ditemukannya dalam keadaan amnesis. Tapi sekarang, lelaki di depannya terasa sangat asing dan jauh darinya. Seperti orang asing, meski diam-diam Anya juga merindukannya.

__ADS_1


Anya bahkan hampir tak punya keberanian untuk bicara pada sosok di depannya. Laki-laki itu kini tampak sangat tampan, berkharisma, juga disegani semua orang. Dirinya tidaklah oantas bergaul dengan orang semacam itu.


"Anya...Anya...kenapa diam saja?"


"Maaf, aku berada disini karena Tuan Hasan memintaku berada disini, aku tidak tahu apa alasannya, tapi sekarang aku tahu aku tidak pantas berada disini..."


Husein terkejut dengan kata-kata Anya. Anya sekarang, nampak sangat berbeda dengan Anya yang dikenalnya dulu. Anya sekarang bersikap dingin dan seolah menjaga jarak dengannya. Apa dirinya telah melakukan kesalahan? Tentu saja! Husein merasa sangat bodoh dan menyesali kelakuannya. Dia adalah laki-laki bodoh yang tidak tahu diri dan tidak tahu terimakasih. Dan sekarang dia pun tidak tahu harus bagaimana dan melakukan apa.


"Anya...maafkan aku...maafkan aku belum sempat menemuimu lagi. Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan lebih dulu..."


"Tidak...memang seharusnya kita tidak perlu bertemu lagi, aku tidak seharusnya berada disini..."


Anya mengambil tasnya dan melangkah pergi. Sudah cukup Hasan menebusnya. Mereka tidak lagi berhutang budi atau apapun lagi padanya. Dan tidak sepantasnya Anya berada disini. Anya tidak mau bergantung pada belas kasihan atau berharap apapun pada Husein. Hal itu hanya akan menyakitinya kemudian. Jadi, Anya harus segera pergi sebelum semuanya terlambat.


Tapi baru beberapa langkah Anya pergi, Husein meraih tangannya dan merengkuh tubuhnya ke dalam pelukannya, lagi. Dan entah mengapa Anya hanya pasrah.


"Anya aku merindukanmu, aku merindukanmu...maafkan aku..."

__ADS_1


Husein sudah tak kuasa menahan perasaannya lagi.


__ADS_2