
Sampai di rumah sakit dokter segera melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Disampingnya Hasan terus berjaga dengan khawatir, menimbang apa perlu mengabari orang rumah tentang keadaan Husein. Hasan akhirnya memilih menunggu penjelasan dokter lebih dulu.
"Tenanglah saudara Anda baik-baik saja...mungkin dia kelelahan atau ada beban yang menguras pikirannya, tunggulah beberapa saat sampai dia sadar..."
"Baik Dok, terimakasih..."
Beberapa saat kemudian Husein sadar. Dokter bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan mereka diperbolehkan untuk pulang. Karena hari itu dokter spesialis yang biasa menangani Husein sedang tidak praktek jadi mereka diminta datang lagi keesokan harinya untuk memantau perkembangan Husein.
Hasan menahan diri untuk tidak bertanya tentang ingatan Husein. Hasan tidak ingin Husein memikirkannya dan merasa tertekan, lalu pingsan lagi. Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak diam. Dan Husein sedang sibuk menata ingatannya yang muncul perlahan. Mungkin karena tadi sudah minum obat, sekarang kepalanya sudah tidak terlalu pusing dan dia sedikit banyak bisa mengendalikan pikirannya.
Keesokan harinya Husein pergi ke dokter spesialisnya untuk berkonsultasi. Untunglah bukan Hasan yang mengantarnya, melainkan hanya pelayan pribadinya. Hasan sedang ada rapat yang tidak bisa ditinggalkan di kantor dan Husein justru senang dengan hal itu.
Husein lalu menceritaian pada dokter apa yang dialaminya kemarin.
"Itu perkembangan yang sangat bagus, mungkin sebentar lagi tuan akan pulih. Rilekaskan pikiran anda jika ingatan-ingatan itu mulai berdatangan dan jangan memaksakan diri. Saya akan meresepkan obat untuk meringankan sakit kepala yang menyertai..."
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan dokter, Husein bisa pulang dengan perasaan lega. Husein memilih tidak menceritakan pada Hasan tentang kepingan-kepingan peristiwa yang mulai diingatnya. Husein tahu, Hasan dan keluarganya masih sengaja menyembunyikan banyak hal darinya. Jadi Husein akan berusaha sendiri. Selama seminggu Husein hanya berdiam diri dirumah, menenangkan diri sambil menyusun puzle dari kepingan-kepingan ingatannya. Akhirnya dia bisa mengingat semuanya dengan jelas. Semua asal usul dan kehidupan yang dulu dijalaninya.
Setelah merasa yakin dengan semua ingatannya akhirnya Husein memberanikan diri meminta izin pada keluarganya.
"Ayah...Hasan...hari ini aku ingin pergi menemui Fara..."
Ucap Husein di sela-sela acara sarapan bersama keluarganya.
Hasan dan Ayah yang terkejut dengan perkataan Husein langsung mengangkat kepalanya.
Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana mungkin Husein bicara begitu? Apa ada seseorang yang memberitahunya?
"Ayah, sepertinya Husein mulai mengingat semuanya...", Hasan akhirnya memberi penjelasan. Selama ini dia ingin menceritakan perkembangan Husein pada Ayahnya. Tapi rasanya waktunya tidak pernah tepat karena sang Ayah selalu sibuk, juga ada beberapa masalah di perusahaan. Hasan tidak ingin membebani pikiran Ayahnya.
"Sejak kapan? Kenapa tidak bilang pada Ayah? Apa saja yang kau ingat?", Ayahnya terlihat bertanya dengan panik.
__ADS_1
"Aku mengingatnya kira-kira sejak seminggu yang lalu, dan aku sekarang aku sudah menemukan sebagian besar ingatanku. Hasan juga sedikit banyak sudah menceritakan padaku tentang perkembangan kasus kecelakaan itu...", Husein mencoba menjelaskan setenang mungkin.
Ayah terlihat sedikit shock dengan penjelasan Husein. Harun lalu mengambil air putih di depannya, meminumnya beberapa teguk untuk menenangkan dirinya.
"Husein, Ayah sangat senang kamu akhirnya bisa mengingat kembali, pasti sangat menyakitkan bagimu mengetahui kenyataan ini...maafkan Ayah...maafkan Ayah..."
"Tidak apa Ayah, Ayah tidak perlu meminta maaf..."
"Tapi sedikit banyak Ayahlah penyebab kamu harus mengalami situasi ini..."
"Ayah, aku sudah dewasa saat mengambil keputusan untuk menikahinya, jadi sekarang aku juga akan bertanggung jawab atas keputusanku sendiri..."
"Husein, apa yang akan kau lakukan nak? Jangan temui dia...jangan temui dia..."
"Ayah dia masih istriku, statusnya masih istri sahku...dia masih jadi tanggung jawabku...aku ingin menemuinya..."
__ADS_1
Harun tahu, keinginan putranya tidak akan mudah dihalangi. Meski dengan berat hati akhirnya Harun mengizinkan.