
Anya merasa sangat senang dan bersyukur dengan keputusan yang diambilnya. Keputusan yang akhirnya membuatnya bisa keluar dari dunia malam. Ternyata jika sudah berkehendak, Allah punya seribu satu cara dan jalan untuk menolong hambanya, bahkan yang tidak terduga sekalipun.
Hari itu, senyuman tak henti-hentinya menghiasi wajah Anya, seperti orang yang sedang kasmaran, tapi lebih bahagia lagi. Anya sudah tak sabar menunggu Fitri pulang dari supermarket, untuk berbagi cerita. Ternyata begini rasanya punya seorang sahabat yang bisa dipercaya. Anya bisa sangat antusias, bahkan hanya untuk sekedar berbagi cerita.
Tidak perlu menunggu lama, Anya mendengar pintu di buka dari luar. Itu pasti Fitri. Anya segera keluar untuk menyambutnya.
"Sudah pulang Fit?"
"Sudah, aku belanja banyak Anya...aku akan masak untukmu juga..."
"Tidak usah, simpan saja dikulkas, ayo kita makan diluar saja..."
"Ada apa memangnya? Bukannya kita sepakat untuk berhemat agar bisa lekas memulai hidup baru dan keluar dari pekerjaan ini?"
"Kali ini saja Fit, biar aku yang traktir...ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu..."
"Baiklah, biar aku simpan belanjaan dulu, lalu aku mau mandi..."
"Baiklah, aku juga baru mau mandi, bersiaplah, aku akan bersiap-siap juga..."
"Ok..."
Sejenak mereka mandi dan bersiap-siap dan kembali bertemu diruang tengah. Anya siap lebih dulu dan Fitri menyusul kemudian.
__ADS_1
"Tumben Anya, ada apa sih?"
"Ssttt, nanti aku cerita lengkapnya, ayo kita berangkat! Naik taksi online saja ya..."
"Terserah kamu Anya, hari ini kan kamu bosnya..."
Merekapun segera meluncur ke cafe langganan. Cafe itu bergaya minimalis dengan harga menengah namun mempunyai rempat yang cozy dan nyaman.
Sampai disana Anya langsung memesan banyak makanan tanpa bertanya pada Fitri.
"Anya kenapa pesan banyak banget makanannya, apa ada teman lain yang mau gabung?"
"Nggak ada, aku lagi pengen makan banyak aja, lagi pula kalau nggak habis bisa kita bungkus buat makan malam nanti..."
"Jadi apa yang mau kamu ceritakan?"
Anya lalu menceritakan kisah pertemuannya tanpa sengaja dengan Husein hingga kini kemudian Hasan menebusnya dari Tante Bela, bahkan memberinya pekerjaan yang bagus.
Fitri mendengarkan semua cerita Anya dengan antusias.
"Kamu orang yang sangat baik, mau menolong orang tanpa pamrih. Bahkan aku masih ingat, awal perkenalan kita juga karena waktu itu kamu yang menolongku. Pantas saja jika Allah membalas kebaikanmu dengan pertolongannya dengan jalan yang tidak kamu duga...sebagai teman aku turut senang, semoga kamu selalu bahagia dan sukses di jalan yang halal..."
Anya tahu Fitri berucap dengan sangat tulus, tapi entah mengapa Anya justru menangkap raut kesedihan dibwajah Fitri.
__ADS_1
"Fitri, ada apa?", tanya Anya kemudian.
""Hmm, apa maksudmu?"
"Wajahmu terlihat sedih, apa ada masalah?"
"Hah? tidak, hahaha..."
Fitri berusaha tertawa untuk menyamarkan kesedihannya. Tapi Anya tak bisa dibohongi begitu saja.
"Jangan berpura-pura, maaf tadi aku sedang terlalu senang sampai tidak peka padamu..."
"Tidak apa Anya, bukan salahmu. Aku hanya bersedih memikirkan nasibku. Entah sampai kapan aku akan terjebak dalam kehidupan seperti ini, mungkin akan selamanya..."
"Jangan bicara begitu, dulu kamulah yang menasehatiku supaya tetap yakin dan berprasangka baik pada pertolongan Allah...."
"Ya, ternyata menasehati orang lain lebih mudah daripada menasehati diri sendiri..."
"Fitri, kamu juga orang baik, bersabarlah sebentar lagi, giliranmu pasti akan tiba, jangan menyerah dan teruslah berdoa...itu satu-satunya cara untuk menggapai hidayahnya..."
"Ya kamu benar, aku harus berusaha lebih lagi, melakukan amalan-amalan baik dan tetap berprasangka baik..."
"Sudah...sudah, ayo kita makan lagi, makan yang banyak supaya tubuh kita kuat dan hati lebih gembira..."
__ADS_1
Mereka lalu kembali sibuk menghabiskan aneka makanan yang sudah terhidang di meja.