Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 54


__ADS_3

"Adrian, tolong perlakukan Husein dengan baik saat dia tinggal dirumahmu!", perintah Fara dengan tegas.


"Kenapa? Apa sekarang kamu mulai mencintai suamimu? Setelah semua yang telah kita lakukan padanya? Hahahaha..."


"Adrian!", teriak Fara dengan putus asa.


"Ada apa Fara, tidak perlu berteriak, aku masih bisa mendengarmu!"


"Tujuan kita hanya menyembunyikannya dari Hasan dan keluarga yang lain, bukan untuk menyiksanya..."

__ADS_1


"Tapi maaf, sepertinya tujuanku berbeda...selama ini aku tak berdaya, hanya bisa diam melihat di kejauhan dan tidak pernah dianggap ada. Sedangkan dia bisa melakukan apapun yang diinginkannya, merebutmu dariku dan menikahimu. Tapi lihatlah sekarang, dia ada di rumahku dan menjadi pelayanku. Aku adalah orang yang paling berkuasa pada dirinya, hahahaha!"


"Adrian hentikan, apa kau ingin membunuhnya? Hentikan penyiksaanmu padanya dan fokuslah pada tujuan kita..."


"Memang apa yang salah jika dia meninggal? Bukankah sebelumnya memang kita ingin menghabisi nyawanya? Bahkan sekarang dia sudah dianggap sebagai orang mati. Jadi apa salahnya jika aku benar-benar membunuhnya?"


"Adrian jangan! Mari kita mengubah rencana kita! Sebentar lagi uang asuransi cair dan warisan untukku juga segera dibagikan. Aku akan menjual semua warisan dalam bentuk rumah dan saham dan setelah itu, mari kita pergi sejauh-jauhnya dari sini...dia sudah hidup sebagai orang baru dan punya identitas baru, jadi mari kita tidak mengusiknya dan mengotori tangan kita lagi!"


Mereka terus berdebat dan tak ada yang mau mengalah. Untunglah ruang kerja Adrian kedap suara, jadi pertengkaran mereka tidak terdengar dari luar.

__ADS_1


Di luar, Anton masih berusaha menyelesaikan pekerjaannya meskipun badannya terasa amat lelah. Anton tidak ingin jika Tuan Adrian keluar dan memeriksa, pekerjaannya belum selesai. Setidaknya Anton hanya ingin mengerjakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Siapa tahu dengan begitu, Tuan Adrian akan kembali bersikap ramah seperti saat pertama kali menemuinya dulu.


Namun sambil bekerja, pikiran Anton ternyata tidak bisa fokus. Anton terus terbayang-bayang dengan wajah wanita yang baru saja masuk ke rumah Tuan Adrian. Wajah seorang perempuan yang terasa sangat familiar baginya. Seolah wanita itu adalah orang yang tidak asing. Berbagai pertanyaan turut berputar di benaknya. Siapa sebenarnya wanita itu? Apakah dia sebenarnya mengenalnya dan apakah wanita itu juga mengenal dirinya? Dan apa hubungan wanita itu dengan Tuan Adrian. Berbagai pertanyaan itu berputar-putar bagaikan benang kusut di kepalanya. Sekeras apapun Anton mencoba mengingat, hanya kebuntuan yang di dapatinya. Dan akhirnya kepalanya justru di hantam rasa sakit yang hebat.


"Obat...obat.. dimana obatku?", racau Anton seorang diri.


Anton lalu berjalan menuju kamarnya dengan sempoyongan. Berniat untuk mengambil obatnya dan meminumnya. Tapi disaat niatnya belum sempat terlaksana, tubuhnya lebih dulu limbung dan jatuh ke lantai. Anton pingsan karena beban pikiran dan juga kelelahan.


Setelah beberapa waktu berdebat dan tak juga menemukan kata sepakat, akhirnya Fara memutuskan untuk keluar dari ruang kerja Adrian. Fara merasa apapun yang dikatakannya sia-sia karena Adrian sedang dikuasai emosi. Dan Adrian pun merasa lelah dan kepalanya kembali terasa pusing, karena terlalu emosi.

__ADS_1


Tapi saat Fara baru saja keluar, Fara melihat Husein sudah tergeletak di lantai.


"Husein! Kamu kenapa sayang?", tanpa sadar Fara berucap sambil menghampiri Husein.


__ADS_2