
Belum ada sebulan Husein kembali bekerja di kantor. Husein sangat menikmati pekerjaannya , juga rutinitasnya di kantor, lebih dari sebelumnya. Seolah pekerjaan itu bisa kembali membawa dunianya yang hilang. Dan Husein kembali bersemangat menjalani hari-harinya. Tapi alasan sebenarnya, tentu bukan hanya sekedar pekerjaan. Ada hal lain yang membuat dirinya lebih bersemangat dan bergairah belakangan ini, yaitu kehadiran rekan kerja baru yang membuat hatinya selalu dipenuhi bunga-bunga. Kehadiran Anya bisa membuat Husein melupakan permasalahan hidupnya dan menjalani hari-harinya dengan lebih positif. Tapi ternyata kesabarannya masih harus di uji ketika calon mantan istrinya kembali berulah. Husein tak habis pikir, sebenarnya apa yang diinginkan wanita itu darinya. Bukankah dia telah memberikan semua? Kenapa masih tak puas juga?
Bahkan hari setelah kabar fitnah itu berhembus, Fara masih berani datang ke kantornya tanpa merasa bersalah.
Hebatnya lagi, Fara berhasil menarik perhatian sekaligus simpatik dari para pegawai di kantornya. Salah satu pegawainya bahkan ada yang dengan bodohnya memberikan dukungan dan kata-kata penyemangat pada Fara.
"Yang kuat ya Ibu...Ibu pasti bisa memenangkan hati suami Ibu dibandingkan pelakor itu..."
Husein begitu muak sampai hanya bisa tertawa mendengarnya. Dasar perempuan licik.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?"
Tanya Husein tanpa basa-basi begitu Fara masuk ke ruangannya.
"Tentu saja kamu, suamiku...aku tidak rela kamu jatuh ke pelukan perempuan lain..."
"Dasar perempuan gila! Pergi kamu dari sini atau kusuruh orang ku mengusirmu!"
__ADS_1
"Coba saja kalau berani! Mereka pasti kasihan ke padaku. Aku adalah seorang istri yang diselingkuhi dan sekarang kamu tega mengusirku! Hahahaha.."
Husein benar-benar mati kutu. Tak ingin berdebat lagi, Husein memilih meninggalkan kantor dan menyuruh Rayhan mengawasi Fara di ruangannya.
Husein memilih pergi ke kantor Hasan untuk menenangkan diri dan menceritakan semua masalahnya.
Sampai di kantor Hasan, saudara kembarnya itu menyambutnya dengan begitu antusias.
"Bagaimana kabarmu bro? Berita di luaran sana pasti membuatmu stres bukan? Kurang ajar sekali perempuan nenek sihir itu!"
Ternyata tanpa bercerita, Hasan sudah tahu permasalahannya.
"Itulah akibatnya kalau kamu terlalu baik pada orang licik!"
"Ya kamu benar, perempuan itu benar-benar ular berbisa. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan. Apa menurutnya dengan bertindak seperti ini bisa membuatku kembali?"
"Dia hanya sedang frustasi, sebab tujuannya gagal tercapai? sebagai gantinya dia membuat ulah murahan seperti ini. Tenang saja, sangat mudah bagi kita untuk mengurusnya. Dia hanya sedang menggali kuburannya sendiri. Bukankah kita sudah menutup masalah ini dan juga semua aibnya? Tapi lihatlah, betapa bodohnya dia, memancing kita untuk membukanya lagi..."
__ADS_1
"Ya, aku akan menyuruh pengacara mengurus ini dengan cepat, aku sudah tak nyaman dengan semua pemberitaan yang beredar..."
"Ya itu sudah pasti, pengacara kita pasti akan mengurus semuanya dengan baik. Tapi bagaimana dengan Anya?"
"Anya? Oh, dia mengambil cuti juga karena masalah ini..."
"Apakah kamu sudah menghubunginya?"
"Hmmm, belum..masalah ini membuatku sedikit melupakannya..."
"Sebaiknya kamu segera hubungi Anya dan pastikan dia baik-baik saja, dalam hal ini Anya adalah korban yang paling dihujat dan pasti itu akan menjatuhkan mentalnya..."
Kata-kata Hasan baru saja menyadarkannya. Bagaimana bisa dia melupakan Anya dalam keadaan seperti ini?
Husein lalu langsung menghubungi Anya, tapi berkali-kali mencoba panggilannya tidak mendapatkan jawaban. Bahkan nomor Anya sidah mati.
"Anya tidak bisa dihubungi, bagaimana ini?"
__ADS_1
"Carilah kerumahnya! Carilah kemanapun sampai ketemu dan kamu harus memastikan bahwa dia baik-baik saja!"
Husein baru menyadarinya, ternyata dirinya sangat bodoh dan tidak peka.