
"Ibu..."
Sapa Anya, lalu kemudian Anya berlutut sambil memeluk kaki Ibunya.
"Maafin Anya Bu...", ucap Anya kemudian.
Tapi Ibunya justru ikut bersimpuh dan memeluk Anya erat-erat.
"Anya...darimama saja kamu nduk? kami.semua sangat khawatir nduk..."
Mereka lalu menangis sambil berpelukan.
"Maafkan Ibu nduk, maafkan juga bapakmu...kami tidak sungguh-sungguh mengusirmu, mana mungkin kami tega mengusirmu nduk..."
Anya semakin tenggelam di dalam tangisannya. Tidak menyangka bahwa Ibunya masih memperlakukannya selembut ini setelah kesalahan besar yang dilakukannya.
Tidak lama kemudian seoramg lelaki yang terlihat semkin tua keluar dengan kursi rodanya.
"Ada apa ini Bu? Siapa yang datang?"
Tanya lelaki itu yang belum melihat Anya. Anya lalu menengadah saat mendemgar suara Ayahnya. Lelaki itupun menatap Anya dengan pandangan terpaku.
"Itu Bapakmu nduk.."
"Pak, anak kita datang pak...anak kita akhirnya pulang Pak..."
Lelaki itu hanya terus memandang Anya, lalu air matanya terurai. Anya bangun lalu menghampiri laki-laki itu dan menghambur di pangkuannya.
__ADS_1
"Maafkan Anya Pak..maafkan Anya..."
Lelaki itu mengelus kepala Anya yang menangis di pangkuannya.
"Bapak yang lebih banyak salah nduk, darimana saja kamu? Bagaimana hidupmu selama.ini? Pasti berat ya nduk? Maafkan Bapak, Bapak tidak bermaksud seperti itu nduk....dan Bapak juga terlambat mencarimu sampai kehilangan jejakmu..."
Lama Anya bersimpuh di pangkuan Ayahnya. Meluapkan segala kesedihan dan penyesalannya. Selama itu Ayahnya hanya terus mengusap-usap kepala Anya. Sementara Ibunya memandang dengan perasaan haru sekaligus lega. Akhirnya putrinya yang ditunggu-tunggunya selama bertahun-tahun pulang juga.
"Sudah...sudah nduk, sebaiknya kamu mandi dulu, lalu istirahat...biar Ibu siapkan kamarmu...nanti Ibu mau masak makanan kesukaanmu, lalu kita cerita-cerita sambil makan..."
Anya berdiri dan mengikuti Ibunya untuk meletakkan barang-barang bawannya. Anya masih tidak percaya bahwa kepulangannya akan disambut sehangat ini, berbeda sekali dengan dulu saat dirinya pergi.
Dulu Ayahnya masih gagah perkasa, tapi sekarang lelaki itu terlihat amat ringkih dan hanya bisa duduk di kursi roda. Anya belum mendengar ceritanya, tapi Anya bisa melihat Ayahnya menjadi sosok yang berbeda.
Anya membersihkan diri di kamar mandi. Terasa sangat menyegarkan setelah melakukan perjalanan panjang. Tubuhnya yang lengket berkeringat kini sudah kembali segar. Anya lalu masuk ke kamar yang sudah disiapkan Ibunya.
Anya hanya mengangguk.
Anya membereskan barang-barangnya, lalu memilih menyusul Ibunya ke dapur. Dulu saat masih tinggal dirumah, Anya adalah anak yang manja. Apa-apa sudah disiapkan Ibu dan Anya tinggal menikmatinya. Tapi sekarang, tinggal sebatang kara memaksa Anya untuk hidup lebih mandiri.
"Masak apa Bu? Biar aku bantu...", sapa Anya sambil mengelus pundak Ibunya yang malah membuatnya terkejut.
"Eh kamu nduk, cuma nyayur lodeh, goreng tempe garit sama telor dadar bumbu kesukaanmu, kamu istirahat saja, pasti capek kan?"
"Enggak Bu, sudah nggak capek. Biar Anya bantu..."
Anya lalu mengambil pisau dan mulai memotong-motong sayuran.
__ADS_1
Ibunya memmperhatikan gerakan tangan Anya yang terlihat lincah.
"Pinter masak kamu sekarang nduk?"
"Nggak seenak masakan Ibu, tapi lumayan sudah bisa buat makan sehari-hari..."
"Bagus nduk, Ibu senang kamu jadi lebih mandiri..."
Setelah itu mereka melanjutkan masak bersama tanpa banyak bicara.
Sementara itu, di depan televisi, Bapak masih duduk di kursi roda sambil memandangi dua wanita yang sangat berarti di kehidupannya. Pikirannya melayang ke masa lalu, ketika gadis kecilnya masih berada di pelukannya, kerap ia gendong dan diajaknya jalan-jalan kemana saja. Tidak terasa Anya-nya sudah begitu dewasa, cantik dan menawan seperti istrinya saat muda dulu.
Lelaki itu menyesal telah kehilangan banyak waktu bersama Anya, hanya karena keangkuhannya dulu.
Makanan telah siap dan Ibu telah selesai menatanya di meja makan.
"Ayo Pak, kita makan dulu..."
Dengan cekatan Ibu mendorong kursi roda Bapak menuju meja makan.
Ibu menuangkan makanan ke piring Bapak, lalu sibuk membantu Bapak untuk makan.
"Ayo dimakan nduk, selagi masih hangat..."
Anya pun mengambil makanan dan menyantapnya dengan lahap. Perutnya yang belum terisi sejak pagi ternyata terasa lapar dan masakan Ibu terasa sangat lezat. Sambil menyendok makanannya sesekali Anya mencuri pandang kepada Bapak dan Ibu.
Beberapa saat mereka sama-sama sibuk melahap makanan di piring masing-masing. Tapi saat kemudian selesaipun suasana masih hening. Sepertinya perpisahan yang begitu lama membuat mereka masih sama-sama canggung untuk memulai.
__ADS_1