Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 96


__ADS_3

Adrian merutuki nasibnya di dalam hati. Bagaimana mungkin sekarang dirinya bisa berada di balik jeruji besi dengan keadaan yang amat sangat mengenaskan. Ya amat sangat mengenaskan. Adrian sungguh tidak menyangka bahwa hidupnya akan berakhir di tempat menjijikkan ini. Ruangan dengan ukuran hanya 4 × 4 meter itu harus dihuni bersama lima tahanan lainnya dalam keadaan yang kotor, jorok, dan bau.


Pertama kali Adrian menginjakkan kakinya disana bahkan dirinya hampir saja muntah. Tapi Adrian berusaha kuat untuk menahannya, sebab tatapan tajam para penghuni lapas lama seolah akan memangsanya. Mereka semua terlihat dekil, hitam dan jorok, dengan prilaku dan bahasa yang jauh sangat berbeda dari orang-orang berpendidikan dimana selama ini Adrian biasa bergaul. Tidak ada sambutan yang diterimanya, selain tatapan dingin yang mencekam.


Adrian melangkah masuk dan mencari tempat di sudut yang kosong. Semua orang tidak ada yang peduli dengan kehadirannya. Sampai kemudian waktunya makan tiba. Seorang sipir datang untuk mengantarkan makanan mereka. Salah satu teman sesama penghuni lapas memberikan makanan bagian Adrian yang berupa nasi bungkus. Adrian menerimanya dan membukanya dengan enggan. Isinya adalah sekepal nasi yang berwarna kekuningan, sedikit sayuran hijau dan sepotong tempe. Melihat isinya Adrian sama sekali tidak berselera. Adrian lalu meletakkan bungkusan itu disampingnya.

__ADS_1


"Buruan dimakan, kalau nanti-nanti keburu basi!"


Seloroh salah satu rekan yang duduk di sampingnya. Adrian mengamati sekitar dan melihat rekan-rekan satu selnya sedang makan dengan lahab. Bagaimana bisa mereka makan makanan tak layak ini dengan serakus itu?


"Biarin aja, tar juga kalau udah ngrasain laper dia juga doyan, biasalah orang baru, masih belagu!, seloroh teman yang lainnya.

__ADS_1


Adrian mencoba tersenyum menanggapi candaan ala teman teman napinya itu. Tapi pastilah senyumnya terlihat aneh.


"Makan sekarang! daripada nanti lo kelaparan terus pingsan, bikin repot aja! Asal lo tau porsi makan yang secuil ini amat berharga untuk mengganjal perut kita sampai jam makan berikutnya. Dari tampang lo gue bisa lihat pasti sebelumnya hidup lo enak, tapi di dalam sini lo harus belajar bersyukur dengan keadaan yang serba terbatas ini..."


Adrian hanya bisa mengangguk takzim mendengar ceramah singkat dari sesama napi yang terlihat sudah cukup berumur itu. Ternyata ada juga orang bijak di dalam penjara. Entah kesalahan apa yang dilakukan orang tua itu sampai berakhir di bui.

__ADS_1


Adrian mengambil bungkusan di sampingnya, memakannya perlahan-lahan dan menelannya dengan susah payah. Nasinya mengembang karena dimasak dengan banyak air dan sedikit berbau apek, sayurnya hambar, sedangkan sepotong tempe sangat asin. Sungguh kombinasi rasa yang kacau. Setelah menghabiskan secuil nasi itu dengan susah payah, Adrian segera mengenggak air putihnya. Akhirnya usai sudah makan siang yang terasa menyiksa itu.


Begitulah kehidupan Adrian di dalam penjara. Jauh berbeda dengan kehidupan Adrian sebelumnya. Meski bukan berasal dari keluarga konglomerat, tapi sejak kecil Adrian selalu hidup berkecukupan dan mendapatkan semua kebutuhannya dengan amat layak. Ayah adrian adalah salah satu pedagang di tanah abang yang cukup sukses dengan bisnisnya. Sementara Ibunya adalah pemilik bakery dengan dua cabang yang cukup laris. Adrian adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Karena itulah Adrian tak pernah merasakah kehidupan susah di kala kedua orang tuanya masih jatuh bangun membangun bisnis. Adrian lahir di saat usaha orang tuanya sudah stabil dengan kekayaan di atas rata-rata orang kebanyakan. Jadi, tidak seharipun dalam hidupnya Adrian merasakan hidup susah. Sangat berbeda dengan kehidupannya di dalam lapas saat ini.


__ADS_2