Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 166


__ADS_3

Anya terbangun dan melihat Husein duduk disampingnya sambil mengganti-ganti chanel televisi.


"Sudah bangun?"


Anya mengangguk malu-malu. Begini ternyata rasanya menikah dengan orang yang diam-diam kita sukai? Hatinya berdebar-debar setiap saat dan selalu salah tingkah.


Husein lalu mendekat dan tiba-tiba mencium keningnya.


"Jangan malu, aku akan sering-sering melakukannya..."


"Aku mau cuci muka dulu!"


Anya buru-buru pergi ke kamar mandi dan terkejut saat melihat wajahnya dihiasi air liur. Itulah kebiasaan buruk Anya, suka tidur sambil meneteskan air liur tanpa sadar. Dan Husein sudah melihatnya di hari pertama mereka menikah. Memalukan.


"Anya, sedang apa di dalam? Cepatlah, aku sudah lapar? ayo temani aku makan!"


Anya berdecak sebal, ternyata Husein suka sekali menganggu kesenangannya di kamar mandi.


Anya keluar setelah mencuci wajahnya.


"Ayo makan, aku sudah memesan layanan kamar, atau kamu mau makan di luar?


"Tidak usah, ayo kita makan.."


Ternyata Husein sudah menyiapkan semuanya. Mereka makan di sofa yang ada di balkon. Mereka menyantap makanan dengan pemandangan kota juga kolam renang hotel.


Kali ini Husein memilihkan menu nusantara untuk makan siang mereka. Ada sup buntut, nasi uduk lengkap, dan karedok. Juga dua gelas minuman secang yang hangat.


Mereka menikmati makan sore itu masih dengan canggung.


"Bagaimana pekerjaanmu di kantor? Apakah tidak apa-apa ditinggal selama ini?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku masih bisa mengontrolnya dari sini...dan tidak ada hal yang terlalu mendesak..."


"Maaf, membuatmu harus terjebak disini..."


"Jangan bicara begitu, aku tidak merasa terjebak. Aku memang sudah berniat untuk menikahimu, hanya saja ini menjadi lebih ceoat dan aku justru bersyukur karenanya..."


Anya terlihat diam dengan pandangan menerawang.


"Anya, sebenarnya apa yang kau khawatirkan?"


Tanya Husein ingin tahu.


Anya menggeleng, belum siap untuk berbagi pada Husein.


"Jangan terlalu banyak berfikir, jika sekarang kita menikah, itu karena kita memang berjodoh..."


"Husein, nanti malam ayahku akan menjalani operasi, bolehkah aku ikut menungguinya?"


"Tidak perlu, kamu beristirahat saja di hotel..."


"Mana bisa, mulai sekarang Ayahmu juga ayahku, aku akan pergi bersamamu dan jangan menolak..."


"Baiklah..."


"Sekarang habiskan makananmu, aku ingin mengajakmu jalan-jalan sebentar sebelum nanti kita perginke rumah sakit.."


Anya menurut, menyantap makanannya dengan lebih cepat lalu menghabiskan minumannya.


Selesai makan, mereka berdua bersiap-siap, lalu turun ke lobby hotel.


Di sana sudah ada kendaraan yang menunggu mereka, tapi bukan mobil dengam sopir pribadi Husein seperti biasanya, tapi sebuah delman dengan kuda putih yang gagah.

__ADS_1


Di kota Anya, delman yang mulai langka memang masih banyak ditemukan, terutama di daerah-daerah wisata. Dan tiba-tiba Husein punya ide memesannya untuk jalan-jalan sore bersama Anya.


"Apa ini?"


"Ini delman, masa kamu tidak tahu? Ayo naik, kita jalan-jalan keliling kota!"


Anya menurut mengikuti Husein, meski dalam hati masih terkejut dan bertanya-tanya dengan tingkah aneh Husein.


Sore itu udara cerah dengan sinar matahari yang masih terasa hangat. Duduk di atas delman, membuat mereka bisa merasakan angin yang bertiup sepoi-sepoi.


"Nikmatilah perjalanan ini dan tenangkanlah pikiranmu Anya..."


Husein mengenggam tangan Anya dan meletakkan kepala Anya agar bersandar di pundaknya.


"Aku lihat kamu seperti merasa tertekan dengan pernikahan ini, nikmatilah...aku janji akan berusaha membahagianmu karena akupun merasa sangat bahagia dengan pernikahan ini.."


Mendengar ungkapan hati Husein membuat Anya terharu. Tapi Anya sebisa mungkin menahan air matanya agar tidak jatuh karena malu jika menangis di tempat umum.


Untunglah kemudian Husein meminta kusir berhenti.


Husein turun dan membeli cilok pada pedagang kali lima yang sedang mangkal. Husein membeli tiga bungkus, untuk dirinya sendiri, Anya dan juga pak kusir. Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan sambil makan cilok.


Husein kemudian kembali meminta berhenti saat melihat gerobak es potong dipinggir jalan. Husein mengulangi aksi yang sama, membeli tiga buah es potong untuk mereka bertiga. Lalu delman kembali berjalan.


Husein sepertinya ingin membeli sesuat lagi, saat meminta Pak Kusir berhenti, tapi Anya buru-buru mencegahnya.


"Aku sudah kenyang sekali!"


"Kalau begitu kita bungkus saja untuk Ibu dan Kak Zaki..."


Husein kemudian membeli batagor, cimol, dan arumanis yang mereka lewati. Husein memesan dibungkus, untuk Ibu, Kak Zaki, dan Pak Kusir.

__ADS_1


Setelah puas berkeliling, mereka akhirnya kembali ke hotel. Husein terlihat sangat puas dan bahagia dengan apa yang dilakukannya.


__ADS_2