Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 66


__ADS_3

Hari ini Anya sudah kembali bekerja seperti biasanya. Anya mengambil pekerjaan setiap hari di setiap malamnya. Anya tidak mengambil hari libur, karena hidupnya ingin dia habiskan untuk bekerja dan bekerja. Siang hari akan Anya habiskan untuk tidur, dan sisanya Anya akan pergi ke salon, berbelanja, makan diluar, atau melakukan kesenangan-kesenangan lainnya sesuka hati. Dengan begitu uang Anya akan cepat terkumpul dan Anya tidak akan sempat untuk meratapi kesepian ataupun jalan hidup yang telah dipilihnya.


Anya ingin bahagia, atau hanya ingin terlihat bahagia? Entahlah. Yang jelas Anya tidak ingin menunjukkan kerapuhannya kepada siapapun juga.


Malam itu seperti biasa Anya pergi bekerja. Kliennya membawa Anya ke sebuah hotel berbintang lima. Tidak ada yang spesial, Anya melewatkan malam-malam panjang seperti biasa. Melayani seorang pria yang telah membayar untuk tubuhnya. Anya mencoba menikmati setiap adegan yang dilakukannya. Kenikmatan yang hanya akan lewat sesaat. Benar-benar hanya sesaat, karena ketika semua telah selesai yang tertinggal adalah perasaan kotor yang melekat pada dirinya. Yah, dirinya adalah wanita kotor. Itulah yang dirasakan Anya. Meski Anya selalu coba memungkirinya. Dan sejumlah nominal yang masuk ke rekeningnya akan menjadi penghibur yang menguatkan Anya. Tenang, selama ada uang semua akan baik-baik saja. Begitu pikiran logisnya mulai bekerja.


Setelah transaksi berakhir, maka berakhir sudah semua. Mereka akan kembali menjadi orang asing. Bertemu dimana pun saja mereka tidak akan saling sapa.


Tapi malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Saat keluar dari kamarnya Anya melihat seorang perempuan keluar dengan terseok-seok dari kamar disampingnya. Anya melangkah mendekat. Sebab satu-satunya jalan keluar adalah melewati lorong searah dengan kamar wanita itu. Betapa terkejutnya Anya saat melihat wajah wanita itu penuh dengan luka lebam, bahkan dari bibirnya masih mengalir darah segar.


Sesaat Anya merasa bingung. Haruskah dia bertanya atau membiarkan saja wanita itu. Mengingat terlibat dengan urusan orang tidak dikenal bisa jadi membahayakan diri sendiri. Tapi Anya tidak bisa mengabaikan saat wanita itu jatuh bersimpuh di depannya.

__ADS_1


"To...long...saya...", ucapnya dengan terbata.


"Apa yang harus saya lakukan?"


"To..long...antarkan sa..ya kerumah sakit!"


Maka dengan susah payah Anya memapah wanita itu keluar dari hotel, memesan taksi online dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Kali ini bukan tempat Heru bekerja, karena Anya masih menghindari pria itu.


Dokter jaga segera memberikan penanganan dadurat, tapi saat ditanya bagaimana wanita itu bisa mendapatkan luka lebam di sekujur tubuhnya, wanita itu hanya diam. Dokter tidak bertanya lebih jauh karena merasa wanita itu membutuhkan privasi.


Kemudian dokter itu menghampiri dan bicara pada Anya.

__ADS_1


"Apakah anda keluarganya?"


"Bukan, saya hanya temannya..."


"Baiklah, teman anda sepertinya mengalami luka-luka akibat kekerasan yang dilakukan oleh seseorang. Karena dia tidak mau terbuka pada kami, kami tidak bisa memaksa. Sebaiknya anda yang mendampingi teman anda agar mau terbuka, juga agar kekerasan ini tidak berlarut-larut dan bisa membahayakan nyawa teman anda..."


"Baik dok, terimakasih banyak..."


Anya kemudian berjalan ke ruang perawatan di mana perempuan itu berada. Wanita itu sedang berbaring seorang diri sambil memainkan ponselnya. Sejenak Anya berfikir, apakah dirinya sudah terlibat terlalu jauh dengan orang asing, seperti yang terjadi antara dirinya dan Anton?


Dengan ragu-ragu akhirnya Anya memutuskan untuk menghampiri wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2