Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 141


__ADS_3

Husein merasa lega setelah perceraiannya resmi ketuk palu. Seperti ada beban berat yang seketika terangkat dari pundaknya. Dan sekarang langkah kakinya terasa lebih ringan.


Husein kembali menjalani hari-harinya, bekerja dan bekerja untuk mengisi waktunya. Tapi rasanya ada sebuah ruang kosong di hatinya. Husein merindukan Anya. Sudah tiga bulan berlalu, segala cara telah dilakukannya untuk mencari Anya. Banyak tempat sudah didatanginya, tapi tak sedikitpun petunjuk di dapat tentang keberadaan Anya.


Harapan terakhir Husein hanyalah pada Fitri, satu-satunya sahabat Anya yang dikenalnya. Entah mengapa Husein yakin, suatu saat Anya pasti menghubungi sahabatnya itu.


"Tolong kabari aku, kapanpun Anya menghubungimu, tolong langsung hubungi aku, aku akan memberikakan apapun yang kamu inginkan, kamu mengerti kan?"


Setelah berfikir sejenak, Fitri akhirnya mengangguk. Fitri adalah harapan terakhirnya untuk bisa bertemu dengan Anya. Satu-satunya orang yang bisa menjadi penghubung antara dirinya dan Anya. Dan Husein tidak akan melepaskannya begitu saja. Husein menyewa mata-mata untuk terus memantau pergerakan Fitri, agar gadis itu tidak lepas dari pengawasannya seperti Anya dulu.


Selepas kepergian Anya, Fitri kembali menjalani hari-harinya seperti biasa. Fitri masih menekuni pekerjaan kotornya demi bertahan hidup. Ketiadaan Anya terkadang membuat Fitri merasa kesepian. Kalau sudah begitu Fitri lantas menghamburkan uangnya untuk hal-hal tak berguna yang kemudian disesalinya. Kalau begitu terus bagaimana dia bisa menabung untuk memulai usaha? Mungkin karena uang yang dikumpulkannya adalah uang haram, jadi mudah menguap begitu saja. Sesekali Fitri juga masih mengikuti kegiatan di komunitas. Hal itu lumayan membuatnya kembali bersemangat dan pikirannya kembali terarah. Fitri memilih tetap tinggal di rumah itu, karena setahunya rumah itu sudah disewa selama satu tahun, jadi akan mubadzir jika tidak ditempati. Rencananya Fitri baru akan pindah dari rumah mewah itu setelah masa sewanya habis.


Hari itu Fitri sedang menjalani rutinitasnya seperti biasa. Dua kali seminggu, Fitri akan berbelanja ke pasar untuk mengisi persediaan bahan makanan dirumah. Tiba-tiba saat sedang berjalan seseorang menyentuh lengannya. Fitri terkejut dan reflek menarik tangannya. Tapi saat menoleh, Fitri terkejut dengan sosok seorang wanita yang amat dikenalnya.


"Sstt, ini aku Anya, jangan takut Fit..."


"Anya? Beneran kamu Anya??"


Fitri menatap lekat-lekat tubuh Anya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

__ADS_1


"Dari mana aja kamu? main ngilang-ngilang segala?"


"Ssttt, ceritanya panjang, aku sebenarnya butuh bantuanmu? bisa kita ngobrol sebentar? Gimana kalau di warung seberang?"


"Hmm, boleh...ayo!"


Fitri dan Anya akhirnya berjalan menuju warung makan sederhana yang ada di sebrang jalan.


Untunglah suasana warung makan itu cukup sepi, jadi Fitri dan Anya bisa mengobrol dengan leluasa di dalamnya. Mereka memesan makan dan minum lalu memilih meja di luar ruangan.


"Jadi kemana saja kamu pergi setelah pergi dari rumah waktu itu?", tanya Fitri yang tak sabar dan sangat penasaran dengan kehidupan Anya.


"Wah itu bagus sekali Anya. Tidak masalah dimana dan seperti apa tempat tinggal kita, selama merasa nyaman dan bahagia..."


"Ya, aku merasa cukup nyaman tinggal disana karena hati dan pikiranku juga lebih tenang..."


"Lalu bagaimana aktifitasmu sehari-hari, apa kamu sudah kembali bekerja? Sebenarnya sayang sekali kamu harus meninggalkan sebagai asisten pribadi Husein..."


Mendengar nama Husein disebut, entah mengapa hati Anya masih juga berdesir. Padahal selama ini Anya sudah susah payah membuang semua ingatan tentang pria itu

__ADS_1


"Ya, aku bekerja menjadi pelayan di sebuah toko. Tapi baru sebentar bekerja, ada karyawan lain yang mencari masalah denganku sampai aku dipecat..."


Ternyata meski sudah lepas dari pekerjaan haramnya, hidup Anya tidak menjadi mudah. Mungkin inilah yang dinamakan ujian orang yang ingin bertobat. Dulu, sebelum Anya membuang nomor lamanya, Anya sempat menerima sebuah pesan dari Tante Bela. Tante Bela bilang, jika sewaktu-waktu Anya membutuhkan, dia bisa kembali bekerja tanpa ikatan kontrak seperti sebelumnya. Sepertinya orang-orang semacam Tante Bela benar-benar tahu kelemahan mangsanya. Untunglah Anya masih punya iman dan ingat kembali perjuangan untuk lepas dari dunia hitam itu. Jika tidak mungkin sekarang Anya sudah menghubungi Tante Bela. Dan sekarang Anya lebih memilih minta pertolongan kepada sahabatnya, Fitri.


"Fit, sebenarnya aku lagi butuh bantuanmu sekarang..."


"Bantuan apa? Bilang saja Anya! Kalau bisa aku pasti akan membantu..."


"Aku baru saja di pecat dan belum menemukan pekerjaan baru, bolehkah aku meminjam uang untuk membayar kos bulan ini?"


"Oh, jadi itu masalahnya. Tentu saja akan bantu, berapa yang kamu butuhkan?"


Anya lalu menyebut sejumlah nominal. Tanpa berfikir lama Fitri langsung mengeluarkan uang cash untuk Anya.


"Terimalah ini dan tidak perlu dikembalikan..."


"Terimakasih banyak, nanti pasti akan ku kembalikan setelah dapat pekerjaan..."


Anya dan Fitri terus mengobrol dan mengobrol. Melepas kerinduan dan berbagi cerita. Tapi tanpa disadari, seorang pria sengaja duduk di dekat mereka dan mencuri dengar semua pembicaraan mereka.

__ADS_1


__ADS_2