Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 158


__ADS_3

"Apa maksudmu?",


Anya menatap Husein dengan tatapan tajam, menuntut sebuah penjelasan.


"Kenapa Anya apa ada yang salah?",


Husein masih saja asyik menggoda Anya.


"Aku sedang tidak main-main, tolong jawab pertanyaanku? Sejujurnya aku tidak suka ada orang yang ikut camput dengan urusan pribadiku!"


Melihat ketegasan Anya membuat Husein sedikit takut.


"Maaf Anya, aku tidak bermaksud lancang, aku hanya ingin tahu kebenaran tentang keluargamu, aku tidak ingin kamu terlambat dan merasakan penyesalan seperti apa yang ku rasakan, karena kamu adalah teman yang kusayangi dan aku sangat peduli padamu..."

__ADS_1


Husein mencoba menerangkan maksudnya dengan jujur. Teman. Lagi-lagi dia harus berlindung dengan status itu agar Anya tidak lari darinya.


Mendengar penjelasan Husein membuat Anya merasa tersentuh.


"Terimakasih banyak, harusnya kamu tidak perlu repot-repot melakukannya..."


Setelah itu mereka hanya sibuk dengan makanan dan minuman masing-masing. Baik Anya maupun Husein sudah tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Sekuat hatinya Anya mencoba menahan perasaannya lagi, disaat dirinya merasa begitu nyaman dan kadang-kadang merasa besar kepala dengan perlakuan Husein yang manis. Tapi Anya harus sadar, siapalah dia dengan segala kekurangannya. Wanita sepertinya tak boleh berkhayal terlalu tinggi jika tak ingin sakit hati.


Selesai dengan makan siangnya, mereka lalu kembali ke kantor. Tak banyak percakapan yang terjadi, hanya basa-basi sekedarnya untuk memecah kecanggungan. Sesampainya di kantor, baik Anya maupun Husein memilih fokus pada pekerjaan dan hanya berinteraksi seperlunya saja.


Hari itu Husein memilih pulang lebih awal dan langsung pulang ke rumah. Tubuhnya terasa letih belakangan ini, terlebih lagi pikirannya. Husein sadar dirinya harus mengambil keputusan supaya hatinya menjadi tenang. Malam itu setelah makan malam dengan keluarganya, Husein langsung masuk ke kamar dan tidur lebih awal. Saat tengah malam Husein sengaja bangun untuk melaksanakan shalat malam dan banyak berdoa suapaya diberikan kemantapan Hati. Husein sudah memutuskan, dirinya akan menjemput cintanya. Husein akan melamar Anya langsung kepada Ayahnya, setelah itu Husein akan menyerahkan semuanya pada Tuhan. Apapun jawabannya akan diterimanya dengan lapang dada.Bahkan jika setelah itu Anya akan pergi dari sisinya Husein telah siap. Berarti itulah takdir yanh hatus diterimanya.

__ADS_1


Tak ingin membuang waktu, keesokan harinya Husein datang ke kamtor lebih pagi. Husein mengerjakan semua pelerjaan yang harus diselesaikam dan menitipkan sisanya kepada asisten dan para bawahannya.


Setelah itu Husein berkemas dan terbang ke kampung halaman Anya. Husein check in ke hotel, beristirahat sejenak. Semula Husein sudah sangat yakin dan percaya diri. Tapi entah mengapa tiba-tiba keberanian menguap. Husein membutuhkan sedikit waktu untuk menyiapkan hati dan mentalnya. Ternyata melamar wanita yang dicintai tidak semudah yang dibayangkan. Akhirnya Husein memilih untuk beristirahat sejenak sambil menenangkan pikirannya. Sore harinya, barulah Husein mandi dan berganti pakaian. Kini dirinya telah benar-benar siap untuk menjemput takdirnya.


Biarlah kini Husein hanya akan menyampaikan maksudnya seorang dirinya, setelah semuanya jelas baru Husein akan membawa keluarganya untu datang pada keluarga Anya.


Husein membawa mobil yang telah dipesankan asistennya, memyupir sendiri memuju kediaman orang tua Anya. Tidak lupa Husein membawa beberapa buah tangan dengan wujud sederhana, tapi berharga cukup fantastis bagi keluarga Anya.


Seperti sebelumnya, keluarga Anya menerima kedatangannya dengan hangat sebagai tamu sekaligus teman putrinya. Secangkir teh, pisang dan singkong goreng disajikan Ibu Anya sebagai suguhan.


Meski dengam duduk di kursi roda, kali ini Ayah Anya mau menemuinya dan berbincang dengan ramah. Sampai kemudian, setelah ramah tamah dirasa cukup, Husein pun menyampaikan maksud kedatangannya yang sesungguhnya.


"Mohon maaf Bapak dan Ibu, sebenarnya maksud kedatangan saya kemari adalah untuk melamar Anya, putri Bapak untuk saya jadikan istri, sekiranya Bapak dan Ibu berkenan, perkenanlah saya dan keluarga akan datang kembali dengan lebih resmi untuk proses selanjutnya..."

__ADS_1


Husein menyampaikan kalimat itu dengan terbata.


Tapi yang terjadi kemudian, Ayah Anya justru memegang dadanya yang katanya tiba-tiba terasa sakit, sebelum kemudian jatuh pingsan.


__ADS_2