
Hari itu perjuangannya benar-benar dimulai. Anton bangun pagi-pagi sekali, mandi, dan menunaikan shalat subuh. Lalu berdoa sebanyak-banyaknya. Entah mengapa Anton merasa langkahnya sudah semakin kuat sekarang. Mungkin itu pertanda baik, bahwa dirinya memang sidah siap untuk bekerja.
Setelah itu Anton masih tetap berada di dalam kamarnya untuk memeriksa kembali berkas-berkas yang telah disiapkannya kemarin. Tampaknya semua sudah baik, tinggal dimasukkan saja ke perusahaan yang dituju nanti. Anton baru keluar dari kamarmya saat pintu kamarnya di ketuk dari luar. Tentu saja itu pasti Anya.
"Wah, sudah rapi sekali pagi-pagi begini?"
Anya sedikit terpesona dengan penampilan Anton yang berbeda dari biasanya.
"Iya, hari ini akan mulai melamar pekerjaan, bagaimana menurutmu, apa seperti ini sudah cukup?", tanya Anton sambil memutar-mutar badannya.
Aneh-aneh saja, pikir Anya.
"Sudah ayo, kita sarapan dulu, tidak baik pergi dengan perut kosong..."
Anton menurut, lalu keluar mengikuti Anya yang berjalan ke ruang tengah. Di meja sudah tersaji dua piring nasi goreng lengkap dengan telur dadar dan juga kerupuk. Tak lupa dua gelas susu coklat hangat juga ikut tersaji disana.
"Wah, sudah menu lengkap? Kamu yang membuat semuanya? Maaf aku tak sempat membantumu tadi..."
"Tidak apa-apa, kamu fokus saja untuk persiapan hari ini. Oh ya, aku juga sudah menyiapkan bekal untukmu, bawalah dan makanlah untuk nanti siang...makanan diluar harganya kadang mahal dan kurang bersih..."
__ADS_1
"Hahaha..."
"Kenapa tertawa?"
"Kamu ini seperti seorang Ibu dan aku adalah anaknya, kamu cerewet tapi perhatian sekali..."
Entah itu pujian atau apa. Mendengar itu Anya sedikut tersipu.
Ya, Anya benar-benar seperti seorang Ibu yang menyiapkan segala sesuatu untuk anaknya. Dan sekarang Anya mulai khawatir.
"Apa kamu yakin benar-benar bisa pergi sendiri?"
"Ayolah Anya, apa kamu harus selalu mengantarkanku pergi kemana-mana? Percayalah, aku ini seorang pria dewasa, bukan anak kecil yang harus kau khawatirkan dengan berlebihan..."
"Baiklah, hati-hati di jalan dan jaga dirimu baik-baik, pulanglah sebelum hari gelap, kalau ada apa-apa cepat hubungi aku..."
Anya menyodorkan sebuah ponsel kepada Anton.
"Apa ini? Ayolah...jangan berlebihan..."
__ADS_1
"Ini hanya ponsel bekas, aku membelinya dengan harga murah. Kalau kau mulai bepergian pasti kau akan membutuhkannya untuk berkomunikasi..."
Dengan berat hati Anton menerimanya.
"Terimakasih banyak, aku akan menggantinya jika nanti sudah punya uang..."
"Jangan terlalu dipikirkan..."
"Baiklah, aku berangkat sekarang..."
"Ya..."
Kali ini Anton benar-benar melangkah pergi. Anya masih berdiri di depan menatap punggung Anton yang menjauh perlahan kemudian menghilang. Biasanya Anton yang melepasnya pergi, sekarang gantian dirinya yang melepas Anton. Betapa cepat waktu berlalu. Sepertinya baru kemarin Anya dilanda kepanikan karena menabrak seseorang. Sekarang mereka malah menjadi seperti teman. Aneh sekali jalan hidup ini.
Anya lalu masuk kembali kerumah, membereskan sisa sarapan mereka, lalu kembali masuk ke kamar, karena berniat untuk melanjutkan tidurnya. Tapi entah mengapa matanya justru tak bisa terpejam.
Anya lalu menyibukkan dirinya dengan berbagai pekerjaan rumah tangga. Mulai dari mencuci baju sampai membersihkan rumah.
Tapi entah mengapa pikiran Anya rasanya tidak tenang. Anya terus saja memikirkan Anton. Bagaimana keadaan pria itu di luar sana?
__ADS_1
Apakah semua akan baik-baik saja? Entah mengapa Anya terus merasa khawatir. Dan kekhawatiran Anya baru berhenti saat Anton muncul kembali di depan pintu rumah di sore harinya. Barulah setelah itu Anya baru bisa benar-benar tidur nyenyak.