Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 102


__ADS_3

Akhirnya satu per satu urusan selesai juga. Kondisi kesehatan Harun sudah kembali pulih, Hasan lalu mengurus semuanya agar ayahnya tak perlu lagi mendekam di dalam penjara. Tentu saja kecurangan ini tak boleh sampai terendus media. Untuk melakukannya mereka mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat besar. Tapi itu bukanlah masalah bagi keluarga Ar-Rasyid. Uang bisa dicari lagi, yang terpenting Ayahnya bisa kembali pulang kerumah dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apapun.


Setelah Fara dinyatakan sembuh dan tidak ada lagi keluhan secara fisik, akhirnya Fara diperbolehkan untuk pulang. Untuk sementara Hasan membawa Fara ke rumah keluarga mereka. Karena Fara sendiri tidak ingin pulang ke rumahnya yang dipenuhi kenangan tentang keluarganya. Lagi pula akan berbahaya jika Fara dibiarkan tinggal sendirian dalam keadaan emosi yang belum stabil. Dirumah itu, Hasan menyewa satu pelayan wanita yang ditugaskan khusus untuk melayani dan menemani Fara. Untuk memulihkan kondisi Fara mereka membawanya untuk melakukan beberapa kali sesi konsultasi kepada psikolog.


Konsultasi itu rupanya cukup berhasil untuk membuat kondisi Fara jauh lebih baik. Fara mulai mau berbicara pada orang-orang disekitarnya meski tidak terlalu banyak. Fara juga sudah mau bertemu teman-temannya, sekedar hang out dan nongkrong, untuk mengusir kesedihan dan juga kesepiannya. Dua minggu tinggal di rumah keluarga Ar-Rasyid, Fara mulai merasa jengah. Fara mengungkapkan keinginannya untuk kembali ke rumah keluarganya. Melihat perkembangan Fara yang semakin baik, akhirnya Hasan dan Husein setuju untuk mengantar Fara pulang. Tapi tentu mereka tidak melepaskan Fara begitu saja. Di rumah Fara ada Bi Marni, asisten rumah tangga yang sudah mengabdi pada keluarga Fara selama lima belas tahun. Hubungannya dengam Fara sangat dekat. Hasan dan Husein menitipkan Fara pada Bi Marni dan akan tetap memantau Fara lewat Bi Marni. Keluarga Ar-Rasyid juga akan bertanggung jawab untuk menggaji ART itu juga semua kebutuhan di rumah Fara.


Suatu hari, Harun memanggil Hasan dan Husein untuk berbicara empat mata.


"Apa kalian yakin ini tidak akan jadi masalah di kemudian hari?"

__ADS_1


"Kami sudah berusaha sebaik mungkin untuk mengurusnya, dia sudah menandatangi surat perjanjian yang kami sodorkan. Dan kami juga akan bertanggung jawab sebaik mungkin untuk mengurus semua keperluannya...."


"Aku rasa, itu tidaklah cukup...."


"Apa maksud Ayah?"


"Hasan, Ayah punya satu permintaan untukmu..."


"Nikahilah gadis itu!", kata Harun dengan yakinnya.

__ADS_1


"Apa? Apa maksud Ayah? Ah, Ayah pasti sedang bercanda..."


"Aku tidak sedang bercanda! Ini serius Hasan, kamu harus menikahinya....sekarang dia hidup sebatang kara. Pasti tidak mudah baginya untuk melupakan kenangan bersama keluarganya...dengan menikahinya, dia akan jadi bagian keluarga kita, kita akan memperlakukannya dengan baik, melimpahinya dengan materi dan kasih sayang. Dia pasti akan senang dan bisa sedikit melupakan kesedihannya. Dengan begitu dia tidak akan menyimpan dendam..."


"Tapi Ayah, setahuku gadis itu sudah punya kekasih Ayah. Lagi pula, mana mungkin aku bisa menikahi wanita asing dengan tiba-tiba?"


"Hanya kekasih? ikatan itu tidak cukup kuat, lelaki kekasihnya hanya datang sesekali saja bukan? Itu hanya cinta sesaat. Sedangkan pernikahan adalah ikatan yang sakral, dengan ridho Allah, aku yakin nantinya cinta akan tumbuh perlahan-lahan dalam pernikahan kalian..."


"Aku tidak mau Ayah! Ini konyol sekali! Jangan berdalih mengatakan pernikahan suatu ikatan yang sakral kalau Ayah berniat menjadikan aku tumbal untuk menghapus rasa bersalah Ayah pada gadis itu!"

__ADS_1


Hasan berujar dengan marah, lalu pergi keluar dari ruang kerja Ayahnya.


Menikah? Bagaimana mungkin Ayahnya punya pemikiran sekolot itu? Meskipun saat ini Hasan tidak punya kekasih, tapi baginya pernikahan adalah suatu hal yang sakral dan Hasan ingin melakukannya dengan orang yang tepat. Gadis yang diinginkannya dan dicintainya sepenuh hati.


__ADS_2