
Fitri terlihat mengobrol cukup akrab dengan Dokter Alina, menceritakan kajian yang baru saja berlangsung dengan lancar juga membahas tentang agenda-agenda komunitas kedepannya. Sepertinya Fitri bukan sekedar anggota biasa di komunitas ini, melainkan salah satu pengurus yang diberi kepercayaan besar oleh dokter Alina untuk mengkoordinir anggota juga berbagai macam acara. Aktivitas yang dilakukan komunitas Berani Hijrah bukan hanya kajian rutin, tapi juga ada acara bakti social, kunjungan ke panti, sampai kegiatan outbond. Hanya saja waktunya tidak rutin seperti kajian, jadwalnya akan disepakati bersama.
Sementara Fitri sibuk berdiskusi dengan Dokter Alina, Anya hanya diam sambil mengekor di belakang Fitri, seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya.
Sebenarnya Anya ingin sekali langsung pergi dari sana, tapi belum ada kesempatan untuk berpamitan. Tak enak rasanya jika harus memotong pembicaraan mereka yang sedang asyik-asyiknya. Dan juga tidak sopan jika Anya pergi begitu saja tanpa berpamitan.
Namun tiba-tiba, Anya ingat sesuatu. Anya ingat apa yang dikatakan Fitri saat di awal acara tadi. Bukankah Fitri bilang tempat acara ini adalah rumah Dokter Alina. Dan itu berarti, rumah itu juga adalah rumah Dokter Heru, orang yang harus dihindarinya. Anya menjadi panik dan keberaniannya muncul begitu saja.
"Maaf saya boleh pulang duluan? Saya ada urusan mendadak...", kata Anya ditengah-tengah Fitri dan Dokter Alina.
Tapi tanpa di duga Dokter Alina justru menahannya dengan memegang tangannya.
"Apa urusanmu sangat penting? Bisa saya bicara berdua denganmu sebentar saja?"
Dokter Alina bertanya dengan tatapan memohon.
"Ya, apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?"
"Ikutlah denganku, kita bicara di dalam mobil saja. Saya akan mengantarmu ke tempat yang akan kamu tuju, supaya kamu tidak terburu-buru..."
Anya menurut saja karena hari itu Anya datang dengan ojek online. Mereka berpamitan pada Fitri dan yang lainnya, lalu pergi. Anya bisa merasakan orang-orang disana menatapnya, karena dirinya pergi bersama dengan Dokter Alina.
__ADS_1
"Kamu mau pergi kemana? Aku akan mengantarmu...", tanya Dokter Alina begitu mereka sampai di mobil.
"Saya hanya akan pulang, sebenarnya saya tidak ada acara apapun. Tiba-tiba saya ingat kalau tempat kajian adalah rumah Anda, dan saya tidak ingin bertemu dengan suami Anda...", jawab Anya dengan jujur.
Dokter Alina agak terkejut mendengar jawaban Anya.
"Maaf, bukan maksud saya..."
"Tidak apa-apa, rumah itu rumah orang tua saya dan suami saya jarang sekali datang. Sekalipun datang dia akan lewat pintu yang berbeda dan tidak mungkin melihatmu, jadi kamu tidak perlu khawatir untuk datang ke acara kajian lagi..."
"Oh.."
"Ya, rumah itu sangat nyaman, sampai sekarang saya masih tinggal disana. Terimakasih banyak..."
"Baguslah kalau begitu..."
"Ngomong-ngomong, sebenarnya apa yang ingin Anda bicarakan?"
"Oh ya, apa kamu masih menemui suamiku?"
Anya terkejut mendengar pertanyaan itu.
__ADS_1
"Tidak, saya sama sekali tidak pernah bertemu dengan Dokter Heru lagi, juga tidak berhubungan lagi dengannya lewat apapun!", jawab Anya dengan tegas.
"Maaf, saya hanya bertanya tidak bermaksud menuduhmu..."
"Ya, tidak apa-apa..."
"Sudah satu minggu lebih suamiku pergi dari rumah dan aku tidak tahu dia berada dimana..."
Jelas Dokter Alina dengan putus asa. Ternyata masalah rumah tangganya tidak serta merta selesai dengan menyingkirkan Anya.
"Saya turut prihatin mendengarnya. Maaf saya tidak bisa membantu. Semoga suami Anda cepat pulang dan semua akan baik-baik saja.."ucap Anya dengan tulus.
"Ya..ya..terimakasih banyak.."
"Turunkan saja saya disini.."
Anya merasa tak enak jika merepotkan Dokter Alina.
"Tidak apa-apa saya akan mengantarmu pulang..."
Anya pun menurut dan Dokter Alina mengantarnya sampai ke depan rumahnya.
__ADS_1