
Heru merasa kesal dengan sikap Anya yang begitu santai dan terkesan mempermaiankannya. Bagaimana mungkin gadis kecil itu berani memperlakukannya demikian? Harga dirinya sebagai lelaki sangat terluka dan Heru tidak akan diam saja. Setelah apa yang dia korbankan dan tidak sedikit uang yang dikeluarkannya untuk Anya, Heru harus memastikan Anya akan menjadi miliknya. Yah, dia harus mendapatkan Anya. Jika tidak dengan hatinya, pertama-tama Heru harus menguasi tubuhnya. Begitulah Heru telah bertekad. Bahkan kini Heru semakin tidak perduli dengan keluarganya. Kalau dulu Heru masih bermain cantik karena tidak ingin ketahuan dan menyakiti hati istrinya, sekarang Heru sudah tidak terlalu perduli. Toh dirinya adalah lelaki yang boleh memiliki lebih dari satu wanita.
Maka misi pertama yang akan dilancarkan Heru adalah menyingkirkan Anton dari sisi Anya. Entah mengapa sejak pertama kali, Heru tidak menyukainya meski sempat jatuh kasihan pada kondisinya ketika itu. Heru tidak suka karena pria itu bahkan lebih banyak mendapatkan perhatian Anya dengan kelemahannya dibandingkan dirinya yang punya segalanya.
Maka hari itu Heru datang ke rumah Anya dengan rencana jahat di kepalanya.
Seperti biasa, Heru datang dan bertamu ke rumah Anya. Dan seperti biasa pula Anya mengabaikannya dengan bersembunyi dikamarnya. Dan justru Antonlah yang datang menemuinya sekedar untuk menyuguhkan minuman.
"Selamat siang Pak Dokter, silahkan diminum dulu, kak Anya sedang istirahat...", sapa Anton dengan ramah.
Begitulah Anton selalu berusaha bersikap baik dan netral terhadap kedatangan Heru.
"Terimakasih banyak, bisa temani aku sebentar anak muda, aku ingin sedikit mengobrol denganmu?"
"Oh, tentu saja..."
Anton lalu urung pergi dan memarkirkan kursi rodanya di depan Heru duduk.
__ADS_1
"Benar kamu adiknya Anya?"
"Benar Pak..."
"Sejauh apa kamu tahu tentang Anya?"
Anton sedikit salah tingkah, sebab memang tidak banyak yang diketahuinya tentang Anya. Dan Anton bingung harus menjawab apa.
"Begini..."
"Anya pasti menyembunyikannya dari mu, tapi aku akan memberitahumu yang sebenarnya..."
Kata-kata Heru menggantung, membuat Anton semakin penasaran.
"Sebelum kamu datang, Anya sedang mengalami kesulitan keuangan...dan tentu kehadiranmu disini akan menambah beban baginya, bahkan beberapa kali Anya sempat minta bantuan dariku..."
Tanpa mereka berdua sadari, Anya sudah keluar dari kamarnya dan tanpa sengaja lewat di ruang tengah sehingga sempat mendengar perkataan Heru, meski kurang begitu jelas.
__ADS_1
"Jangan dengarkan dia! Semua itu omong kosong!", teriak Anya dengan sangat keras.
"Kalau kamu tahu diri seharusnya kamu lekas mencari tempat lain, lagi pula...", Heru masih terus melanjutkan kata-katanya dengan intonasi yang tajam lalu berhenti dan menggantung kalimatnya.
"Anton jangan dengarkan dia dan pergi ke kamarmu sekarang juga!", teriak Anya dengan berapi-api.
Anton yang sejak tadi mematung, langsung panik melihat Anya yang marah dengan wajah memerah. Tentu Anton menuruti perintah Anya, dengan melajukan kursi rodanya menuju kamarnya. Tapi tentu Anton pergi dengan lamban dan terseok-seok karena panik. Sementara itu, Heru kembali meneruskan kata-katanya.
"Lagi pula jika kamu tahu yang sebenarnya, kamu akan merasa jijik disini, sebab Anya membiayaimu dengan bekerja sebagai pelac*r..."
Anton sudah hampir sampai ke kamarnya, tapi masih bisa mendengar dengan jelas kata-kata Heru yang diucapkan dengan lantang.
Sementara itu Anya sudah tidak bisa lagi menahan kesabarannya.
"Keluar sekarang dari rumahku, atau aku akan memanggil warga untuk mengusirmu!", teriak Anya dengan putus asa.
Heru pun tersenyun licik dan melangkah pergi dari rumah Anya.
__ADS_1