Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 69


__ADS_3

Sepulangnya dari kos-kosan Fitri, Anya memilih untuk mandi lalu melanjutkan tidurnya. Semalam Anya hanya sedikit tidur dan tidak begitu nyenyak. Perutnya sudah kenyang dan tidak ada hal yang perlu dilakukannya selain tidur. Ya begitulah hidup Anya. Hanya melakukan rutinitas itu-itu saja. Anya merasa hidupnya tidak berarti, tidak punya tujuan dan kurang bersemangat. Tapi apa boleh buat, Anya hanya bisa menjalaninya saja seperti air yang mengalir. Sedikit banyak Anya sudah melupakan Anton dan tidak mengharapkan apa-apa lagi. Anton tidak lebih dari orang asing yang singgah, dan sekarang sudah kembali kepada keluarganya. Anya tidak perlu khawatir lagi dan tidak boleh merasa kehilangan. Sebab yang dilakukannya hanyalah sebuah bentuk dari tanggung jawab karena kelalaian yang diperbuatnya, tidak lebih.


Di hari-hari berikutnya, Anya sesekali akan mampir ke warung makan yang ditunjukkan Fitri kemarin. Anya merasa cocok dengan rasa masakan disana. Menunya sangat lengkap dan bervariasi, harganya juga lumayan murah. Jaraknya juga tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima sampai sepuluh menit jika mengendarai motor dari rumah kontrakan Anya. Jika sedang malas memasak Anya hanya akan membeli sayur dan lauk pauk disana untuk dimakan seharian.


Suatu hari, setelah selesai membeli lauk pauk entah mengapa sepeda motor Anya tidak bisa dinyalakan. Beberapa kali Anya mencoba menghidupkan mesin, tapi tetap tidak mau menyala. Anya bingung, karena seingatnya letak bengkel terdekat masih lumayan jauh jika harus ditempuh dengan berjalan kaki, apalagi sambil mendorong sepeda motor yang sedang mogok ini. Pasti akan sangat melelahkan berjalan kaki sambil mendorong sepwda motor di siang bolong begini.


Akhirnya Anya memutuskan untuk menghubungi Fitri. Jika runititas mereka hampir sama, maka seharusnya Fitri ada kosnya sekarang. Anya lalu menghubungi nomor Fitri yang disimpan di kontaknya. Hanya dalam hitungan detik panggilannya dijawab. Anya menceritakan masalah yang sedang dialaminya kepada Fitri. Tidak berselang lama Fitri datang dan membantunya mendorong motir Anya sampai ke kosnya.


"Terimakasih banyak, maaf jadi merepotkan...", kata Anya merasa tak enak hati.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, tidak perlu sungkan, sudah semestinya kita saling menolong. Dulu kamu menolongku dan sekarang akhirnya aku punya kesempatan untuk menolongmu..."


"Apa kamu tahu bengkel yang dekat dari sini? Aku harus membawanya ke bengkel secepatnya, karena aku membutuhkannya untuk aktifitas sehari-hari..."


"Tenanglah sebaiknya kamu masuk dan istirahat dulu di kamarku...siang ini panas sekali. Aku punya bengkel langganan, mungkin dia bisa mengambil motormu dan memperbaikinya. Biar coba kuhubungi dulu..."


"Baiklah, terimakasih banyak..."


"Kalau lelah kamu bisa tiduran, tidak perlu sungkan. Ayo minum dulu kamu pasti haus..."

__ADS_1


Fitri meletakkan minuman dingin di depan Anya. Karena benar-benar haus, Anya langsung meminumnya sampai setengah.


"Terimakasih banyak, bagaimana tukang bengkelnya?"


"Sudah beres, akan ada orang yang datang sebentar lagi, jika kerusakannya tidak parah bisa dikerjakan disini, kalau parah dia yang akan membawanya ke bengkel dan bisa diantar ke rumahmu setelah selesai...."


"Baiklah, sekali lagi terimakasih.."


"Ya, sama-sama, istirirahatlah, aku tinggal sebentar ya.."

__ADS_1


"Ya..."


Fitri lalu terlihat masuk ke kamar mandi, lalu keluar lagi dengan wajah yang basah. Setelah itu Fitri mengambil sesuatu dari lemari yang ternyata adalah mukena. Anya lalu menyaksikan Fitri menunaikan shalat dengan khusyuk. Sejak itu Anya menjadi yakin Fitri adalah teman yang baik dan bisa dia percaya.


__ADS_2