
Dengan ragu-ragu akhirnya Anya memutuskan untuk menghampiri wanita itu.
"Selamat malam...", sapa Anya.
Wanita itu terlihat kaget dan langsung beringsut menghadap Anya.
"Maaf, saya belum sempat berterimakasih tadi. Terimakasih banyak, karena sudah mau membantu dan membawa saya kesini. Maaf jika saya menganggu dan merepotkan Anda...sekarang saya sudah merasa lebih baik dan Anda bisa pulang"
Perempuan itu lalu terlihat sibuk untuk mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Ini sedikit sebagai ucapan terimakasih saya, tolong diterima..."
Perempuan itu mengangsurkan sejumlah uang kepada Anya.
Anya hanya berdiri mematung tanpa menyambut tangan perempuan itu.
"Boleh saya tahu apa yang terjadi pada Anda sampai seperti ini?", Anya bertanya sambil menatap tajam pada wanita itu.
Wanita itu terlihat ketakutan dan ragu-ragu untuk menjawab.
__ADS_1
"Maaf bukan maksud saya untuk mencampuri urusan Anda. Tapi saya adalah orang yang membawa Anda kesini dan dokter memberi saya amanah untuk mendampingi Anda..."
Wanita itu masih diam, bingung untuk menjawab pertanyaan Anya.
"Jika Anda keberatan untuk menjawabnya, tolong hubungi keluarga anda agar datang kemari..."
"Saya tidak punya keluarga....", Jawab wanita itu akhirnya.
"Menurut dokter, Anda mengalami kekerasan dari seseorang, saran saya sebaiknya Anda mau terbuka dengan seseorang yang anda percaya dan mencari solusi. Jangan sampai berlarut-larut, karena kekerasan fisik yang anda dapatkan cukup berbahaya dan bisa saja anda meninggal karenanya...",
Anya mencoba menjelaskan agar wanita itu tidak keras kepala. Setahu Anya, banyak kasus kekerasan dimana korban enggan melapor karena takut akan rusaknya hubungan atau takut membuka aib. Padahal resikonya sangat besar.
Sejenak Anya terpana dengan jawaban wanita itu.
Sungguh malang nasib wanita yang ada di depannya. Selama ini Anya merasa hidupnya paling menyedihkan. Tapi mendengar kisah wanita di depannya membuat Anya sedikit merasa beruntung.
Sedikit saja. Sebab Tante Bela, mucikarinya selalu menjaga dan melindungi anak buahnya. Tante Bela menyeleksi para pelanggan, memastikan mereka tidak punya kelainan mental. Tante Bela juga mengharuskan semua anak buahnya memakai kontrasepsi, agar tidak ada anak yang terlahir dari pekerjaan haram ini. Dan yang paling penting, Tante Bela memfasilitasi anak buahnya untuk melakukan cek up berkala untuk memastikan anak buahnya bebas dari penyakit menular. Tentu saja itu semua menggunakan uang anak buahnya juga.
Anya lalu mendekat dan memeluk wanita itu.
__ADS_1
"Maaf sudah bertanya terlalu banyak..."
Perempuan itu membalas pelukan Anya.
"Tidak apa-apa, saya yang harus berterimakasih pada Anda..."
Anya melepaskan pelukannya, lalu mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.
"Namaku Anya, aku juga seorang pelac*r, ternyata kita sama..."
"Namaku Fitri.."
Sejak itulah mereka berkenalan dan kemudian menjadi teman.
Setelah masa pelariannya hingga tiba di ibu kota, bisa dikatakan Anya sama sekali tidak memiliki teman.
Anya tidak suka terlalu dekat dengan seseorang, karena jika identitasnya terbongkar, mereka pasti akan malu atau membencinya.
Sedangkan berteman dengan sesama wanita malam, Anya terlalu takut.
__ADS_1
Tapi sekarang, entah mengapa Anya sangat iba dan merasa senasib dengan Fitri. Sama-sama hidup sebatang kara dan menekuni pekerjaan kotor yang sama.