Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 22


__ADS_3

Dari dalam kamar Anton masih bisa mendengar semua keributan di luar. Tubuhnya bergetar hebat karena panik dan takut. Hampir satu bulan mengenal Anya, belum pernah Anton mendengar gadis itu bicara kasar ataupun berkata dengan nada tinggi. Tapi baru saja Anton menyaksikan Anya berubah menjadi serigala buas yang sedang mengamuk. Mungkin itulah sisi lain dari diri Anya yang selama ini masih tersembunyi. Tapi Anton bisa memaklumi itu semua, karena dia pun merasa amat kesal. Bukan kepada Anya tapi kepada pria bergelar dokter yang telah lancang mengganggu hidup Anya. Ingin sekali sebenarnya dia membela Anya dan mengusir pria itu keluar. Tapi apalah daya, dia hanyalah seorang pria yang lemah.


Tapi di dalam kamar, akhirnya Anton bisa bernafas lega, setelah mengintip dan memastikan pria itu pergi dari rumah Anya. Anton merasa kagum sekaligus iba kepada Anya. Seorang perempuan hebat yang mampu berjuang dan membela dirinya sendiri. Dalam hati terbersit sebuah harapan, semoga kelak dirinya bisa menjadi seseorang yang mampu melindungi Anya.


Tidak lama berselang terdengar langkah Anya mendekat masuk ke dalam rumah. Anton berusaha secepat mungkin menutup kembali pintu kamarnya sebelum ketahuan Anya. Dan hanya berselang beberapa saat setelah pintunya tertutup Anton bisa mendengar suara pintu dibanting dari arah samping kamarnya. Itu pastilah Anya yang membanting pintu karena kesalnya. Maka sepanjang sisa hari itu mereka sama-sama mengurung diri di dalam kamar. Meski penasaran, Anton tak punya cukup keberanian untuk bertanya ataupun mengajak Anya bicara.


Beberapa kali Anya hanya keluar untuk ke kamar mandi atau ke dapur untuk mengambil minum. Begitu pula dengan Anton. Tapi semua dilakukan secara bergantian agar mereka tak perlu berpapasan dan menjadi canggung.


Sampai malam beranjak larut, Anton akhirnya pergi ke dapur karena perutnya terasa lapar. Anton menyeduh segelas susu untuk sekedar mengganjal dan menghangatkan perutnya. Ya, hanya itu yang bisa dia santap dan dia buat meski sejak pagi perutnya belum diisi lagi. Anton belum mampu memasak di kompor karena gerakannya masih terbatas.


Tidak lama berselang, Anya juga pergi ke dapur karena perutnya juga terasa lapar. Anya melihat Anton yang sedang meneguk segelas susu, lalu raut wajahnya berubah ketakutan dan langsung membuang muka saat melihat dirinya. Apa sekarang dirinya begitu menyeramkan?

__ADS_1


Lalu kemudian Anya.menyadari sesuatu.


"Maaf, aku lupa menyediakan makanan untukmu, kau pasti sangat lapar?", Anya tahu karena dirinya juga merasakan itu.


"Tidak apa-apa, aku mengerti suasana hatimu pasti sedang buruk...."


"Aku juga lapar, aku akan membuat mie instan untuk kita berdua, tunggulah di ruang tengah, nanti kita makan bersama..."


Anya membuat tiga bungkus mie instan dengan tiga butir telur. Lalu dibaginya mie itu ke dalam dua mangkok. Tadi mereka melewatkan makan siang, makan malam dengan porsi yang lebih besar mungkin bisa mengganti jatah makan siang yang terlewat. Begitu pikir Anya. Anya lalu membawa dua mangkuk mie instan dan dua gelas air putih ke ruang tengan.


"Terimakasih banyak", ucap Anton sambil menerima mangkok mie miliknya.

__ADS_1


"Sama-sama..."


Keduanya segera tenggelam dalam kesibukan mengunyah mie dengan lahab tanpa saling bicara. Bahkan setelah mereka sama-sama selesai dan meneguk gelas air putih hingga habis, suasana masih tetap hening. Hanya suara dari televisi yang menemani kebersamaan mereka. Tampaknya perustiwa tadi pagi masih membuat Anya dan Anton merasa canggung.


"Boleh aku tanya sesuatu?", tanya Anya memecah keheningan diantara mereka.


"Apa?"


"Apa kau percaya apa yang Heru ceritakan padamu?"


"Tentu saja tidak, untuk apa aku mempercayai ucapan pria gila itu! Aku tentu lebih percaya padamu Anya..."

__ADS_1


Jawaban dari Anton cukup untuk membuat Anya merasa lega.


__ADS_2