
Flashback.
Sore itu Husein sedang memancing bersama Hasan. Mereka duduk bersisian di tepi kolam sambil memegang kail dengan pandangan jauh kedepan.
Seperti biasa Hasan akan bercerita apa saja pada Husein. Tentang betapa manis masa kecil mereka, tentang hoby mereka yang sama, tentang pertengkaran-pertengkaran kecil yang membuat hubungan mereka semakin berwarna. Begitulah usaha Hasan untuk memancing ingatan Husein tentang kenangan-kenangan manis mereka.
Tapi sore itu, tiba-tiba saja sekelebat ingatan melintas di benak Husein. Ingatan di tempat yang sama dengan dirinya berada sekarang dengan orang yang sama pula, Hasan. Ingatan itu, adalah ingatan tentang kali terakhir mereka berdua pergi memancing, tepat sebelum kecelakaan itu terjadi. Entah bagaimana Husein tiba-tiba mengingat detail percakapan mereka tentang istrinya, Fara.
"Jadi, kapan kau akan menemaniku memancing lagi? Beban pekerjaan di kantor sungguh membuatku hampir gila..."
"Minggu depan bro, minggu depan aku janji akan menemanimu..."
"Benarkah minggu depan kau akan menemaniku? Apakah tidak apa-apa kalau istrimu yang manja itu ditinggal sebentar saja?",
"Ya minggu depan, kali ini aku berjanji dan tidak akan mengingkarinya. Lagi pula aku juga sudah minta izin pada Fara dan dia juga sudah setuju..."
"Hahhaha, jadi kau jenis laki-laki takut istri sekarang?"
"Hey, jangan meledekku bro, kau belum tahu saja. Suatu saat kalau sudah punya istri kau juga akan merasakannya!"
"Benarkah?"
__ADS_1
"Tentu saja. Wanita memang akan selalu minta perhatian dan seolah menguasai dirimu, tapi kau akan dengan senang hati melakukannya. Sebab diapun akan berkorban banyak untukmu. Dan Fara....sekarang Fara sedang mengandung buah hatiku, jadi sudah sewajarnya aku harus lebih perhatian padanya..."
"Benarkah? Jadi tidak lama lagi aku akan jadi seorang paman dan kau akan jadi seorang Ayah? Wah..wah, selamat bro...aku senang sekali mendengarnya..."
Itulah sepenggal percakapan yang terlintas di benaknya.
Husein menoleh dan menatap Hasan, dengan tatapan tajam yang membingungkan.
"Ada apa bro? Apa aku salah bicara?"
"Fara...Fara...dimana Fara? Dimana Fara istriku?"
Kemudian kepingan-kepingan ingatan yang lain muncul kembali di kepalanya. Semua datang dan pergi, timbul kemudian tenggelam digantikan kepingan ingatan yang berbeda.
Husein berusaha mencerna apa yang sedang terjadi dengan dirinya, pada tubuh dan otaknya. Tapi kemudian Husein tidak bisa mengendalikan diri. Husein tidak bisa mengendalikan pikirannya.
Kepalanya terasa penuh, terasa berat dan sangat pusing. Husein memegangi kepala dengan kedua tangannya, sementara disampingnya Hasan menatap dengan bingung.
"Husein...Husein...ada apa? katakan padaku?"
Hasan memegang kedua bahu Husein, mencoba menahan berat tubuhnya saat melihat Husein memegang kepala dan mulai kehilangan keseimbangan.
__ADS_1
"Aku...aku...bisa mengingatnya...Fara...Fara adalah istriku..."
Ucap Husein dengan terbata.
"Apa? Apa saja yang kau ingat? Sebanyak apa dan tentang apa?"
Tanya Hasan dengan sangat penasaran.
"Banyak...dan tidak beraturan...sekarang kepalaku terasa pusing dan berat sekali...."
"Sudah...sudah...pejamkan matamu dan tenangkan dirimu, lihatlah pemandangan di depanmu, jangan berfikir terlalu berat, kita masih punya banyak waktu untuk menunggumu pulih dengan perlahan..."
Husein menurut, memejamkan matanya. Tapi sakit di kepalanya tidak serta merta hilang, malah semakin menjadi.
Husein lalu berbaring perlahan di atas rumput, dan entah bagaimana sedikit demi sedikit kesadarannya melemah dan menghilang.
"Husein...Husein...bangunlah, jangan tidur disini!"
Hasan terus berteriak. Tapi Husein tak lagi mendengarnya.
Hasan segera menelpon supirnya, memintanya membantu memindahkan tubuh Husein ke mobil untuk di bawa ke rumah sakit.
__ADS_1