
Anya tetap menunggu dikamar kos Fitri sambil merebahkan diri. Tidak lama kemudian seorang montir dari bengkel datang dengan membawa beberapa peralatan. Setelah diperiksa, motor Anya ternyata bisa diperbaiki ditempat. Montir pun segera sibuk memperbaiki sepeda motor Anya.
"Fitri, tadi aku beli sayur dan lauk lumayan banyak, bagaimana kalau kita makan siang bersama?"
"Hmm, boleh juga, kebetulan nasiku jiga baru matang dan masih utuh..."
Akhirnya siang itu mereka makan bersama. Anya, Fitri, dan juga montir yang datang dari bengkel juga ikut makan. Makanan sederhana itu pun terasa lebih lezat saat dinikmati bersama-sama.
__ADS_1
Setelah mereka selesai makan, Anya segera membayar ongkos perbaikan motornya, agar montir itu bisa segera kembali ke bengkelnya.
"Terimakasih banyak, aku pamit pulang dulu, boleh kapan-kapan aku main kesini lagi?", tanya Anya pada Fitri.
Entah mengapa Anya percaya dan tertarik untuk berteman dengan Fitri. Mungkin karena Anya merasa kesepian dan sedikit banyak mereka punya persamaan nasib. Nasib yang tak beruntung.
"Tentu saja, kamu boleh datang kapanpun kamu mau...aku senang sekali bisa kenal dan berteman denganmu..."
__ADS_1
"Ya, nanti pasti aku juga akan datang ke rumahmu, nanti aku akan menghubungi nomermu jika sedang ada waktu luang..."
"Baiklah aku pulang sekarang..."
Anya pun melajukan sepeda motornya pulang ke rumah. Hari sudah lumayan sore. Badan Anya terasa lengket. Anya ingin mandi, lalu beristirahat. Nanti malam seperti biasa, Anya harus kembali bekerja. Semoga saja semua berjalan lancar dan tidak ada lagi insiden yang macam-macam.
Keesokan harinya, ternyata Fitri menghubunginya dan bilang ingin mampir ke rumah Anya. Ternyata benar Fitri menepati janjinya. Dengan senang hati, Anya membalas dan memberitahukan alamat rumahnya. Tidak berselang lama, Fitri benar-benar datang. Dirumah Anya mengajak Fitri nonton film bersama. Lalu kerena merasa bosan, Anya mengajak Fitri pergi ke salon seperti kebiasaannya saat sedang suntuk. Ternyata melakukan perawatan bersama seorang teman jauh lebih menyenangkan daripada melakukannya seorang diri. Bisa berbaring sambil dipijat, lalu Anya dan Fitri terus saja asyik mengobrol. Mungkin perasaan senasib dan sepenanggungan membuat mereka mudah akrab. Selesai melakukan perawatan di salon, mereka melanjutkan acara hang out bareng hari itu dengan nongkrong di salah satu cafe kekinian. Fitri memesan makanan berat, sedangkan Anya hanya memesan pancake dan ice cream untuk memperbaiki mood nya yang belakangan kerap naik turun belakangan ini.
__ADS_1
Mereka mengobrol banyak, saling bercerita tentang kisah hidup masing-masing tanpa merasa canggung. Hal yang seharusnya menjadi rahasia terkelam dalam hidup entah mengapa jadi mudah dibagi. Rasa percaya tumbuh begitu saja diantara keduanya. Sebenarnya mereka memang butuh untuk berbagi dan meluapkan perasaan, hanya saja baru sekarang bertemu dengan orang yang dirasa tepat.
Kisah Fitri tak kalah menyedihkan dari Anya. Semula Fitri hidup bahagia dalam kehangatan keluarganya. Sampai kemudian sebuah kecelakaan maut merenggut semua keluarganya. Ayah, Ibu serta adik laki-lakinya tersayang. Sepeninggal keluarganya Fitri hidup bersama tantenya. Tantenya memperlakukan Fitri dengan baik seperti anak sendiri, tapi tidak dengan Omnya. Suami Tantenya mempunyai tempramen yang buruk, suka mabuk-mabukan dan bersikap kasar. Tante Rodiah, tantenya Fitri kemudian meninggal setelah lama menderita sakit. Sepeninggal Tantenya itulah hidup Fitri mulai berbalik. Omnya sering marah-marah dan mulai berani memukulnya. Tidak adanya ikatan darah diantar mereka, membuat Omnya tega berbuat kejam. Kehadiran Fitri dianggapnya sebagai beban dan tidak berguna, hingga akhirnya Om Hasan menjual Fitri pada lelaki beristri.