Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 71


__ADS_3

Anya dan Fitri terus saja asyik mengobrol hingga tanpa terasa hari sudah beranjak sore. Tapi sepertinya mereka belum akan mengakhiri perbincangannya. Entah mengapa baik Anya maupun Fitri sama-sama merasa nyaman. Kapan lagi bisa menumpahkan isi hati segamblang ini tanpa merasa malu atau pun takut di cap negatif? Tentu, hanya dengan teman senasib yang akan paling mengerti dan tidak akan menghakimi. Mungkin satu-satunya kebutuhan mereka selama ini adalah ingin di dengarkan tanpa dihakimi.


"Fit, pernah nggak sih kamu ngerasain hidup ini terasa hampa dan kosong? Kadang aku bisa aja selalu senyum, berusaha untuk happy, cari hiburan kesana kemari...mulai dari nyalon, belanja, makan, nonton, biar aku nggak terlalu merasa kesepian, tapi ternyata tetap saja saat aku balik lagi ke rumah sendirian perasaan itu tetap ada...kayak ada sesuatu yang terus menghantui pikiranku, sampai kapan aku akan terjebak disini? bagaimana masa depanku nanti? Lalu pikiran-pikiran buruk yang lain mulai berdatangan. Aku hidup sebagai sampah. Sampai masyarakat. Semua orang yang tahu pekerjaanku pasti akan membenciku. Aku tidak punya siapapun dan tidak ada orang yang menyayangiku. Hidupku tidak berguna, bahkan lebih baik sepertinya aku mati saja. Apa emang mati lebih baik dari pada hidup yang seperti ini ya Fit, paling enggak kita tidak akan terus berkubang dalam dosa?", Tanya Anya dengan pandangan menerawang.


Ya, itulah yang ada di pikiran Anya selama ini. Pikiran yang kerap datang menganggunya dan selalu berusaha ditepisnya sekuat tenaga. Anya tidak punya tempat untuk berbagi dan mengadu. Semua hanya di pendamnya sendiri. Tapi sekarang dia benar-benar bisa mengatakannya di depan seseorang.

__ADS_1


"Astaghfirullah Anya...kamu nggak boleh sampai berfikir seperti itu sayang, pekerjaan kita memang kotor, tapi ini bukan keinginan kita...keadaanlah yang memaksa. Ubahlah cara berfikir kita. Jangan sampai kita menyerah dan meninggal dalam keadaan berkubang dosa. Kita harus berusaha untuk keluar dari lingkaran setan ini, lalu memperbaiki hidup kita..."


"Ya, kamu benar, memang seharusnya seperti itu, aku juga nggak mau mati dalam keadaan seperti ini, tapi bagaimana caranya Fit? Apa mungkin orang-orang seperti kita ini punya kesempatan untuk berubah?"


"Sebenarnya aku pun sama seperti kamu Anya, aku juga sempat punya pikiran seperti itu, sampai kemudian aku bertemu seorang wanita yang mengajakku untuk mengikuti sebuah kajian dan masuk ke dalam komunitas. Ada berbagai macam kegiatan positif yang bisa kita lakukan disana, sejak itulah pikiranku berubah...yang bisa kita lakukan hanyalah terus berdoa dan berusaha sambil terus meyakini, kalau Tuhan akan membukakan jalan...apa kamu tertarik untuk ikut?"

__ADS_1


"Tidak perlu malu, karena di dalam komunitas itu isinya memang orang-orang seperti kita. Para pekerja malam, juga kaum transgender. Yang menggagasnya adalah seorang dokter cantik, kalau kamu mau aku akan mengajakmu di pertemuan berikutnya..."


"Aku mau ikut, sepertinya akan menyenangkan daripada terus menghamburkan uang tak jelas, tapi apa benar-benar boleh?"


"Tentu saja, aku akan mengabarimu nanti.."

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih banyak.."


Hari sudah mulai gelap. Anya dan Fitri memilih menumpang shalat di mushola yang ada di cafe itu sebelum kemudian beranjak pulang ke rumah masing-masing.


__ADS_2