Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 95


__ADS_3

Pagi itu, Husein benar-benar akan menepati janjinya untuk mengurus semuanya. Tapi sebelum itu semua, Husein ingin bertemu Fara sekali lagi, untuk bicara dari hati ke hati.


Sebelum berangkat, sekali lagi Hasan menahannya dan mencoba untuk membujuknya.


"Apa kau benar-benar akan melakukannya?"


"Ya, tentu saja...."


"Berhati-hatilah, wanita itu licik, suka berbohong dan bersandiwara, setelah melepaskannya dari penjara, kuharap kau segera menceraikannya dan tidak berurusan dengannya lagi..."


Husein hanya tersenyum dan mengangguk, lalu mereka berpisah, berangkat untuk beraktivitas dengan tujuan masing-masing. Dalam hati Husein merasa sanksi, bisakah dia menceraikan Fara semudah itu? Mengingat permintaan Fara kemarin? Entahlah.


Husein melangkahkan kakinya memasuki area lapas. Dia menghampiri seorang sipir dan menyampaikan maksudnya untuk menemui Fara. Husein disuruh duduk dan menunggu. Beberapa saat berselang seorang sipir datang dan mengatarkannya ke ruang besuk.


Fara terlihat lebih tenang saat melihat Husein sekarang, tidak seperti kemarin saat Fara terlihat terkejut.


"Kamu datang lagi?"


"Ya, aku akan menepati janjiku. Tapi sebelum itu aku ingin bertanya beberapa hal padamu..."


"Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Apa aku juga harus membebaskan kekasihmu, Adrian?"

__ADS_1


"Tidak, kau tidak perlu membebaskannya dan jangan sampai dia bebas!"


"Kenapa, bukankah dia alasanmu untuk melakukam semua ini? Kenapa kau berubah pikiran apa telah terjadi sesuatu?"


"Kenapa kau ingin tahu? Itu bukan urusanmu?"


"Tentu saja itu urusanku, kamu masih istriku, tapi kamu masih berhubungan dengan pria lain, bahkan merencanakan pembunuhan atas diriku bersamanya!"


"Kamu juga bukan menikahiku karena cinta, tapi untuk membungkamku agar aku tidak bisa menuntut orang tuamu! Kamu pikir aku bodoh hingga tidak tahu tujuan kalian?"


"Lalu kenapa kamu bilang tidak ingin bercerai denganku, bahkan setelah semua yang terjadi?"


"Karena aku adalah tanggung jawabmu, karena kalian telah bersalah melenyapkan semua keluargaku, jadi kalianlah yang harus bertanggung jawab atas diriku! Bukankah itu maksud kalian? Sekarang aku sudak tidak punya siapa-siapa, jadi kamu tidak boleh membuagku begitu saja..."


"Tidak, dia tidak mencintaiku dan dia sudah mengkhianatiku. Apa kau puas?"


"Baiklah, ternyata dia juga sudah membuangmu. Dan sekarang kau ingin aku membantumu juga untuk balas dendam padanya?"


"Ya begitulah aku, aku hanya orang biasa, tidak punya pekerjaan yang pasti. Aku sebatang kara, tidak punya keluarga, sekarang kekasihku sudah membuangku, aku sangat menyedihkan bukan? Jadi sudah sewajarnya kalau kau juga membuangku, lagipula aku sudah sangat jahat padamu...."


Fara menangis terisak sambil menelungkupkan kepala. Jika melihat Fara begini, seperti anak kecil yang sedang menangis, Husein jadi merasa iba. Ingin rasanya Husein mengacak-acak rambut Fara, seperti yang kerap dilakukannya dulu, tapi itu tak mungkin.


"Sudahlah Fara, hilangkan semua dendam di hatimu dan mulailah hidupmu yang baru...aku akan membantumu mengurus semuanya..."

__ADS_1


Husein akhirnya pamit dan berjanji akan mengurus semuanya.


Sepulang dari lapas, Husein pergi menemui polisi yang mengurus kasus Fara.


"Pak, saya selaku korban ingin mencabut tuntutan atas nama Fara..."


Polisi itu membuka kembali berkas kasus Husein.


"Ini adalah kasus percobaan pembunuhan, apa Anda yakin ingin membebaskannya? Saya khawatir dia akan melakukan upaya serupa..."


"Dia tidak mungkin melakukannya sendirian, dia melakukannya karena hasutan tersangka lain, tolong bebaskan Fara dan tetap amankan Adrian. Fara masih istri saya, saya ingin menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan..."


Husein mengangsurkan sebuah amplop tebal dinatas meja. Polisi itu meliriknya sekilas.


"Baiklah, saya akan memprosesnya..."


"Dan satu lagi pak..."


"Apa?"


"Tolong rahasiakan ini dari media"


Polisi itu mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah..."


__ADS_2