
Anya kembali menjalani kehidupan 'normal'nya. Bekerja sebagai pelac*r di malam hari. Lalu tidur dan pergi bersenang-senang di siang hari. Rumah baru yang disewakan Husein sangat berbeda dengan dua rumah yang disewanya sebelumnya. Rumah itu sangat bagus dan modern karena masih baru. Juga sebenarnya terlalu besar untuk ditinggalinya seorang diri. Tapi Anya bisa sedikit lebih tenang karena sistem keamanan di perumahan itu sangat terjamin. Sebenarnya Anya lebih suka tinggal di kawasan perkampungan yang membaur dengan para tetangga. Tapi dalam keadaannya saat ini keamanan adalah prioritasnya.
Saat bosan sesekali Anya menghubungi Fitri. Mereka akan saling berkunjung, makan bersama, dan pergi bersenang-senang bersama.
Suatu hari adalah giliran Fitri yang berkunjung ke rumah Anya. Rencananya mereka akan memasak dan membuat kue bersama. Sekedar untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang positif. Fitri datang pagi-pagi dengan membawa bahan-bahan yang diperlukan. Anya menyambut kedatangan Fitri, lalu kedua perempuan itu segera menenggelamkan diri dengan kesibukan di dapur.
Disela-sela kesibukan mereka, tiba-tiba Anya terfikir sebuah ide.
"Fit, gimana kalau kita tinggal bareng disini? Rumah ini terlalu besar untuk kutinggali sendiri..."
"Kalau begitu kenapa kemarin kamu mau pindah kerumah sebesar dan sebagus ini? Pasti harga sewanya mahal kan?"
"Itu karena ada alasan yang cukup mendesak, dan ada seseorang yang menyewakan rumah ini agar aku lebih aman..."
"Seseorang? Apa dia seorang pria? Apa dia kekasihmu?"
Goda Fitri dengan penasaran.
__ADS_1
"Bukan, aku tidak punya kekasih, dan maaf aku belum bisa menceritakan masalah ini padamu karena ini juga menyangkut aib seseorang..."
Anya sebenarnya sangat percaya dan ingin bercerita pada Fitri. Tapi Anya ingat bahwa Fitri mengenal baik Dokter Alina. Dokter Alina adalah wanita baik yang amat dikagumi dan disegani Fitri. Anya tidak ingin merusak reputasinya dengan menceritakan aib rumah tangga yang kebetulan turut menyeretnya.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi.."
"Lalu bagaimana tawaranku, apa mau menemaniku tinggal disini?"
"Biayanya pasti cukup mahal kan? Maaf, aku rasa aku tidak cocok tinggal di tempat sebagus ini. Aku masih ingin menabung dan menghemat uangku. Aku sedang mengumpulkan uang dan berniat memulai usaha..."
"Kamu bisa tinggal disini dengan cuma-cuma Fit, aku hanya membutuhkan teman..."
"Kalau begitu kamu bisa membayar sejumlah sewa kamar kosmu sekarang, aku benar-benar membutuhkan teman..."
Sejenak Fitri berfikir, sebelum akhirnya memutuskan.
"Baiklah, aku akan pindah kemari dan membayar sejumlah uang kos ku..."
__ADS_1
"Terimakasih banyak Fit..."
"Sama-sama, harusnya aku yang berterimakasih karena diizinkan tinggal di rumah sebagus ini..."
Mereka pun berpelukan, sama-sama senang dengan keputusan itu.
Dan akhirnya Fitri benar-benar pindah untuk menemani Anya dirumah itu.
Di akhir pekan, Fitri kembali mengajak Anya pergi ke kajian rutin komunitas. Anya awalnya menolak, karena kemarin setelah mengikuti kajian itu, terjadi tragedi yang sangat tidak mengenakkan untuk dirinya. Bahkan berujung dia harus pindah kontrakan (lagi). Tapi Fitri terus memaksa dan membujuknya untuk ikut.
"Ayolah Nya, masa baru sekali ikut udah kapok sih? Emangnya ada apa? Biasalah yang namanya niat baik pasti banyak godaannya, masa gitu aja udah nyerah sih?"
Anya tidak ingin menceritakan alasan sebenarnya pada Fitri, karena itulah akhirnya Anya setuju untuk datang lagi. Dalam hati Anya terus berdoa, supaya tidak ada kejadian semacam kemarin lagi.
Pada hari yang dimaksud, Anya datang bersama Fitri ke rumah kediaman keluarga Dokter Alina. Acara kajian berjalan lancar dan menyenangkan. Sayangnya hingga akhir acara Dokter Alina tidak juga datang untuk ikut serta. Dari kasak kusuk panitia Anya sempat mendengar, Dokter Alina tidak datang karena harus menunggu suaminya yang kecelakaan.
Apa benar kabar itu? Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka?
__ADS_1
Anya sedikit penasaran, tapi memilih untuk berhenti mencari tahu. Lebih baik dia segera pulang sebelum terkena masalah lagi.