Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 151


__ADS_3

Husein tidak kembali ke kantor, melainkan mengajak Anya untuk mampir ke sebuah restoran agar bisa mengobrol lebih banyak dengan Anya. Selama ini Husein hanya menyimpan sendiri segala kesedihan, juga menutup rapat-rapat cerita hidupnya karena tak ingin ada orang yang memandangnnya lemah. Tapi entah mengapa Husein kini ingin berbagi kepada Anya.


"Kamu ingin makan apa?"


Tanya Husein sambil mengulurkan buku menu.


"Apa saja..."


"Baiklah..."


Husein lalu memesan dua porsi nasi goreng kambing, menu favorit mereka jika mampir ke resto ini, juga dua es coklat favorit Anya.


"Tentang Ibu kandungku, hanya sedikit orang yang tahu tentang masalah intern keluargaku. Ayahku sengaja menutup rapat-rapat cerita ini dengan alasan privasi. Tapi sepertinya, aku butuh teman untuk berbagi, sekedar mendengarkan isi hatiku yang lama terpendam. Anya, apa kamu bersedia mendengarkanku?", Ucap Husein kemudian.

__ADS_1


"Tentu saja, aku akan mendengarkan dan tidak akan menceritakannya kepada siapapun...", Meski sempat ingin menghindari Husein, tapi melihat tadi Husein begitu khusyuk berdoa di pusara Ibunya membuat Anya tersentuh.


Pada kenyatannya Anya senang Husein bisa percaya padanya sebagai seorang sahabat.


Beberapa saat Husein hanya diam, mencoba mengumpulkan keberanian.


"Ceritakanlah...semoga itu bisa membuatmu lega...", Anya mengenggam tangan Husein, mencoba memberi kekuatan.


Huseinpun akhirnya mulai bicara.


Sepanjang Husein bercerita, Anya hanya diam mendengarkan.


"Hari ini adalah ulang tahun Ibuku, sudah hampir tiga tahun beliau meninggal. Apa kau bosan mendengarkan ceritaku? Maaf Anya, aku tidak punya teman lain untuk berbagi cerita..."

__ADS_1


"Tidak apa-apa...aku senang bisa menemanimu dan mendengarkan ceritamu...kau bisa percaya padaku..."


Baru kali ini Anya melihat Husein menangis. Melihat sisi lain Husein membuat hati Anya tersentuh.


"Terimakasih banyak Anya, terimakasih sudah mau menemaniku hari ini...Anya, jika kamu masih memiliki keluarga, temuilah mereka sebelum terlambat atau kamu akan menyesal. Sebesar apapun kesalahan yang kamu lakukan, tidak mungkin orang tuamu akan membencimu selamanya, mereka juga pasti merindukanmu..."


Anya terdiam dan berfikir. Tadi sepanjang Husein bercerita pikiran Anya terus melayang kepada keluarganya. Dan Anya tahu apa yang di katakan Husein sangatlah benar.


"Tapi Husein...aku malu...aku malu dengan diriku...aku malu dengan pekerjaan kotor yang pernah ku lakukan..."


Di depan Husein Anya tak merasa takut, sebab Husein sudah tahu semua sisi kelamnya.


"Kamu tidak perlu menceritakannya, kamu berhak menutup aibmu Anya. Dan selama kamu sudah bertobat, Allah juga pasti akan menutup aib hambanya..."

__ADS_1


Anya kembali diam dan merenung.


"Ambilah cuti dan pulanglah, cari orang tuamu dan hadapi masalahmu..."


__ADS_2