Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 142


__ADS_3

Husein sedang berada di tengah meeting saat mendapatkan panggilan dari nomor yang dianggapnya cukup penting. Ada apakah gerangan? Padahal selama ini, Rico, orang kepercayaan yang diberinya tugas spesial itu tidak pernah menelponnya. Husein memilih pamit dan keluar dari ruang meeting untuk mengangkat panggilan itu.


Tanpa berbasa-basi, orang di ujung telepon langsung mengatakan maksudnya.


"Bos, hari ini saya menemukan target utama, sepertinya mereka janjian untuk bertemu dan makan bersama pagi ini..."


Husein lumayan terkejut mendengar kabar itu. Mengingat sudah lama Husein menunggunya dan sudah tidak berharap banyak.


"Ikuti dia dan jangan sampai lepas lagi!"


Perintah Husein kemudian.


"Siap Bos!"


Panggilan di matikan. Husein kembali ke ruang meeting, sementara Rico langsung melaksanakan perintah Bosnya.


Sambil mendengarkan presentasi, Husein lalu mengetik pesan untuk rico.

__ADS_1


Ikuti terus dan pantau semua kegiatannya, tandai semua tempat yang dia datangi, lalu laporkan semua padaku sampai detail terkecilnya.


Pesan terkirim.


Husein akhirnya bisa kembali melanjutkan meeting dengan tenang.


Malam harinya Husein sudah langsung menerima laporan dari rico yang dikirimkan lewat email pribadinya. Rico benar-benar bisa diandalkan. Semua informasi yang dimintanya lengkap tersaji dalam email berikut foto-foto Anya yang sudah lama dirindukannya.


Anya tinggal di sebuah kos-kosan sederhana dilingkungan yang agak kumuh. Seharian ini Anya mengunjugi satu tempat dan ketempat lain untuk mencari pekerjaan. Rico juga sempet merekam percakapan antara Anya dan Fitri saat mereka berada di warung makan. Dari rekaman percakapan yang dikirimkan Rico, Husein tahu bahwa Anya meminjam sejumlah uang pada Fitri untuk membayar kamar kosnya. Betapa miris hati Husein mengetahui itu semua. Bagaimanakah kehidupan Anya setelah melarikan diri? Apakah Anya benar-benar mengalami kesulitan hingga harus meminjam uang sekedar untuk membayar biaya sewa kamar yang tak seberaba. Mengetahui hal itu entah mengapa hati Husein terasa sakit. Ini adalah kesalahannya. Karena dirinyalah Anya pergi hingga harus mengalami semua ini. Dulu Anya telah begitu baik padanya, tapi sekarang apa balasan yang diberikannya? Dulu dengan segala keterbatasannya Anya rela menampungnya dan dengan ikhlas memenuhi semua kebutuhannya. Tapi lihatlah sekarang, bahkan dengan segala kelebihan yang dimilikinya Husein tidak mampu membantu Anya dalam kesulitannya.


Tak ingin buang waktu, keesokan harinya Husein segera menjalankan rencananya. Sebelumnya Husein sudah menyuruh Rico membuntuti Anya dan melaporkan padanya dimana Anya berada.


Husein segera mengambil posisinya, menunggu di tepi jalan di mana Anya akan melintas. Husein memasang matanya lekat-lekat kepada setiap kendaraan roda dua yang akan melintas ke arahnya. Hingga Husein kemudian mengenali sebuah motor berwana kuning menyala. Ya pasti itu adalah Anya. Husein tetap berdiri sambil menunggu sepeda motor itu makin mendekat dan saat sudah benar-benar dekat, barulah Husein memasang kakinya.


"Arrghh..."


Teriak Husein kesakitan saat kakinya benar-benar terlindas. Ternyata masih terasa sangat sakit. Ya begitulah bodohnya orang yang sedang jatuh cinta. Rela terluka dengan konyol hanya untuk mendekati sang pujaan hati.

__ADS_1


Anya yang baru saja mengerem mendadak ikut terjatuh di atas Husein.


"Anya, kamu tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?", tanya Husein dengan khawatir.


Husein sudah menempatkan orang-orangnya di sekitar TKP untuk menolong jika terjadi hal-hal di luar rencana. Tapi sepertinya Anya baik-baik saja, sebab gadis itu langsung bisa berdiri dan langsung membangunkan sepeda motor kesayangannya. Anya lalu berniat membantu orang yang baru saja ditabraknya, tapi terkejut saat mengetahui wajah pria itu.


"Kamu?", tanya Anya dengan wajah heran dan kebingungan.


"Hey, Anya? Kenapa kamu suka sekali menabrakku sih?"


Rutuk Husein sambil kembali berdiri.


Meski terlindas sepertinya keadaan kaki Husein juga baik-baik saja, sebab tadi Husein sudah sengaja mengenakan sepatu boots yang terbuat dari baja juga ada bantalan empuk di bagian dalamnya. Hanya ada sedikit luka lecet karena tergores aspal di tumitnya.


Anya masih berdiri mematung dengan bingung sambil menatap Husein.


"Kamu harus bertanggung jawab!", kata Husein kemudian.

__ADS_1


__ADS_2