
Anton bisa merasakan kepedihan dan kerapuhan dari cerita Anya. Sebelumnya Anton merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling tak berdaya akibat musibah yang dialaminya. Tapi ternyata apa yang di alami Anya lebih buruk daripada dirinya. Setidaknya dirinya bisa memperoleh pertolongan tanpa imbalan, berbeda dengan Anya yang harus menggadaikan harga dirinya. Dan cerita hidup Anya yang sangat berliku justru membuat Anton semakin kagum. Bagaimana Anya bisa menjalani hidupnya dengan tegar dan ceria seolah semua baik-baik saja, padahal di balik itu Anya menyimpan kepedihannya seorang diri.
Di sisi lain, kebenaran yang terkuak tentang pekerjaan haram Anya justru menjadi motivasi tersendiri bagi Anton untuk bisa secepatnya pulih. Anton terus menjalani fisioteraphy dan berlatih lebih serius lagi. Seandainya kondisi fisiknya sudah pulih nanti, Anton bertekad akan mencari pekerjaan apapun agar bisa sedikit meringankan beban Anya. Tapi hingga kini yang bisa dilakukannya hanyalah berdoa dan berusaha sekuat tenaga, sementara menunggu hasil yang diharapkan. Anton hanya bisa menjalani hari-harinya seperti biasa, dengan banyak bantuan yang diberikan Anya tentunya.
__ADS_1
Setelah selesai dengan sesi curhat Anya yang cukup menguras emosi dan airmata, akhirnya keduanya masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat sejenak. Sebab nanti sore masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Anya harus berkemas-kemas, membereskan semua barang-barangnya dan bersiap untuk segera pindah. Yah, sesuai dengan kesepakatan Anya akan pindah dari sana secepatnya. Alina bahkan sudah mempersiapkan rencananya dengan sangat matang. Alina telah menyewa sebuah rumah kecil, untuk tempat tinggal Anya sementara. Sebab memang tidak akan mudah mencari tempat dalam waktu semalam, dan dikhawatirkan jika terlalu lama suaminya akan kembali mendatangi Anya. Alina hanya menyewakan rumah itu selama tiga bulan saja. Dalam kurun waktu itu diharapkan Anya punya kesempatan untuk mencari rumah kontrakan baru yang lebih cocok.
Namun ternyata Anya malah tak bisa memejamkan matanya karena pikirannya tidak tenang. Anya sudah menempati rumah ini sejak awal-awal dirinya pindah ke ibukota. Tepatnya sejak Anya meninggalkan rumah penampungan Tante Bella, dan memilih mencari tempat tinggal pribadi yang tidak diketahui siapapun. Tanpa terasa barang-barang Anya sudah menumpuk banyak disana. Bukan hanya barang tapi juga begitu banyak kenangan saat Anya harus berjuang sendirian. Dan kini Anya harus pergi mengemasi semuanya dalam waktu yang sangat singkat. Dengan langkah berat Anya turun dari tempat tidurnya dan mulai memasukkan satu persatu barang-barangnya ke dalam kardus, koper, dan juga tas besar yang dimilikinya.
__ADS_1
Tidak banyak yang bisa dia lakukan untuk membantu Anya, tapi setidaknya dia ada disana untuk menemani dan menyemangati Anya.
Beberapa saat hanya duduk diam sambil melihat Anya yang sibuk berkemas, akhirnya Anton memilih beranjak pergi ke dapur. Anton ingin membuat teh dan mengambil beberapa camilan untuk Anya.
__ADS_1
Setelah dua jam lebih berkutat dengan tumpukan barang-barang, akhirnya Anya bisa beristirahat untuk menikmati secangkir teh juga berbagai macam camilan yang disiapkan Anton. Terasa sangat melelahkan sekaligus melegakan. Besok mereka akan segera pindah ke tempat baru, meninggalkan semua masalah dan kenangan buruk yang pernah terjadi ditempat lama. Anya hanya berharap ditempat yang baru hidupnya akan lebih tenang tanpa kedatangan orang-orang yang mengusiknya.