
Seperti biasa, hari ini lagi-lagi Husein memaksa Anya untuk pulang bersama sekaligus minta ditemani untuk mampir makan malam di luar. Anya setuji saja tanpa banyak bertanya. Sebab biasanya jika membantah, yang akan terjadi adalah perdebatan panjang yang ujungnya sama saja. Anya selalu harus menuruti keinginan bos nya.
Saat keluar dari kantor, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan sekelompok perempuan yang tadi membullynya di toilet. Anya sengaja terus mengajak Husein mengobrol untuk memarik perhatian mereka. Husein mennaggapi Anya dengan sangat antusias bahkan sampai tertawa-tawa. Hal itu membuat sekelompok perempuan itu merasa iri dan sebal. Tapi mereka hanya bisa menatap sinis, lalu cepat-cepat pergi menghindari Anya. Anya pun tertawa puas.
"Ada apa?", tanya Husein yang heran dengan tingkah Anya.
"Tidak apa-apa, ini urusan perempuan!", jawab Anya masih dengan tersenyum.
"Bilang aku jika ada yang menganggumu, aku akan membereskannya!"
"Tidak perlu, ini memyenangkan, kamu tidak perlu ikut campur!"
Husein hanya geleng-geleng kepala. Sedikit banyak dia mengerti apa yang dimaksud Anya. Bagaimanapun usahanya untuk membersihkan nama Anya atas peristiwa yang telah lalu, masih banyak orang yang membicarakan Anya di belakang. Mungkin mereka juga iri akan perhatian dan kedekatannya dengan Anya. Husein pun tak ingin pusing dengan hal itu.
Mereka masuk ke dalam mobil, dan Husein memberitahukan tujuan mereka kepada sopir yang duduk di depan. Anya terkejut saat mendengar Husein menyebut sebuah restoran mewah sebagai tujuan mereka.
"Kenapa pergi kesana? Apa ada meeting malam dengan klien penting?", tanya Anya ingin memastikan.
__ADS_1
"Tidak ada, aku hanya ingin makan malam denganmu disana!", jawab Husein sambil mengulum senyum.
"Ah, aku tidak suka pergi ke tempat semacam itu hanya untuk makan saja! antarkan aku pulang saja..."
Ucap Anya yang terlihat kesal dan itu justru terlihat menggemaskan bagi Husein.
Hubungan Anya dan Husein memang tidak seperti atasan dan bawahan, melainkan seperti teman. Anya sangat berani berteriak atau membatah Husein sesuka hatinya. Seperti kata Husein, dia ingin hubungan mereka tetap seperti dulu, dan Anya menganggapnya sebagai Husein saja, bukan sebagai atasam atau anak pemilik perusahaan.
"Sekali ini saja Anya, ada hal penting yang ingin kulakukan disana..."
Husein menggenggam tangan Anya dan menatap dengan pandangan memohon.
Anya yang merasa salah tingkah langsung menyetujui dan cepat-cepat menarik tangannya. Anya benci kebodohannya yang selalu saja salah tingkah saat Husein memperlakukannya dengan manis. Tidak. Tidak! Anya menepis pikiran konyolnya. Mereka hanyalah atasan dan bawahan sekaligus teman. Dirinya tidak bileh berfikir yang tidak-tidak.
Sepanjang perjalanan Anya menyibukkan diri dengan ponselnya untuk menutupi kegugupannya. Atau sesekali memandang keluar jendela. Sedangkan disampingnya Husein justru selalu tersenyum memandangi wajah Anya yang semakin terlihat cantik alami itu.
Sampai kemudian mobil berhenti, Husein membukakan pintu untuk Anya, menggandeng tangan Anya dengan lembut dan tersenyum pada para pelayan yang menyambut mereka.
__ADS_1
Entah mengapa Anya merasa makan malam kali ini sangat berbeda. Anya merasa kurang nyaman berada di restoran mewah itu, sebab dirinya hanya memakai pakaian kerja. Dan wajahnya sudah kusam setelah seharian bekerja. Bahkan para pelayan yang menyambutnya tampak lebih rapi dan segar.
"Ayo, aku sudah memesan tempat untuk kita makan malam..."
Dengan diantarkan seorang pelayan, mereka tiba di sebuah ruangan yang dikelilingi jendela kaca, dengan pemandangan lampu kota yang indah.
Anya masih diam membisu, hanya mengikuti langkah Husein dan tersenyum pada pelayan yang satu persatu datang melayani mereka. Hingga kemudian semua pelayan pergi, meninggalkan Anya berdua dengan Husein di meja yang sudah dipenuhi aneka hidangan lezat itu.
"Makanlah Anya, kamu pasti lapar kan?"
Ucap Husein sambil memotong daging dan meletakkannya di piring Anya.
Tapi Anya justru menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Husein sebenarnya ada apa ini?"
Baiklah, sepertinya Anya sudah tidak sabar.
__ADS_1
"Aku ingin melamarmu, aku mencintaimu Anya, maukah kamu menjadi istriku?"
Ucap Husein langsung ke pokoknya.