
"Fara katakan padaku, benarkah semua ini? Benarkah kau tega melakukan semua ini? Begitu benci kah kamu kepada suami mu? mana mungkin wanita seperti dirimu tega melakukan kecurangan ini?"
Teriak Husein dengan putus asa.
"Ya benar, akulah yang melakukan semua ini aku telah menyusun rencana ini sejak jauh-jauh hari...aku membencimu Husein, aku sangat membencimu waktu itu! Aku benci ayahmu yang telah membunuh semua keluargaku! Aku benci keluargamu, hanya karena punya uang dan kekuasaan, kalian dengan mudahnya membeli hukum, menganggap urusan nyawa bisa ditebus dengan uang! Aku pikir dengan membunuhmu aku bisa membalaskan dendamku dan menyembuhkan sakit hatiku...aku pikir, aku akan lebih bahagia jika melenyapkanmu dan membuat semua keluargamu merasakan sedikit saja rasa sakit dan kehilangan seperti yang kurasakan. Ya sedikit saja, sebab kehilangan satu orang keluarga tidaklah sebanding dengan kehilangan semua anggota keluarga dan harus hidup sebatang kara...tapi ternyata aku salah. Membalas dendam pada orang-orang berkuasa seperti kalian tidaklah semudah yang kubayangkan. Aku hanya seujung kuku di bandingkan raksasa seperti kalian. Pada akhirnya, aku hanya menghancurkan diriku sendiri.."
Fara akhirnya menumpahkan semua hal yang menyesakkan dadanya. Mengakui semua dosa-dosa yang telah dilakukannya, juga alasan dibaliknya. Tidak ada gunanya lagi bersembunyi dan memungkiri. Setidaknya Fara merasa lega setelah mengatakannya.
"Fara...maafkan aku...maafkan ayahku...maafkan keluargaku yang telah dholim terhadapmu, tidakkah semua yang kami lakukan bisa menebus kesalahan itu? Aku telah berusaha sebaik mungkin, memperlakukanmu sebaik yang aku bisa. Memberikan apa yang bisa aku berikan, berusaha membahagiakanmu sepenuh hatiku...apa itu tidak cukup Fara? Apa kamu begitu mencintai pria itu hingga tidak bisa menerimaku? Aku akui ayahku telah bersalah, kami sangat bersalah padamu dan keluargamu. Tapi aku hanyalah seorang anak yang tidak tega jika Ayahku yang telah tua harus menghabiskan sisa waktunya di penjara..."
"Ya begitulah memang, kalian tidak tega melihat orang yang kalian sayangi menderita sedikit saja, tapi kalian tega mempermainkan hidup orang lain..."
"Fara...jangan bicara begitu, katakan padaku...apa yang harus kulakukan agar kau bisa memaafkanku, ayahku, dan juga semua keluargaku? Tolong katakan padaku, aku akan berusaha"
"Keluarkan aku dari sini, keluarkan aku dari sini secepatnya! Pasti mudah bagimu dan keluargamu untuk melakukannya bukan? Semudah dulu kalian bisa melepaskan Ayah kalian dari jerat hukum..."
__ADS_1
Sejenak Husein terdiam. Memikirkan permintaan Fara. Permintaan yang sebenarnya amat wajar dan sederhana. Sungguh, apa yang dilakukan Fara pada dirinya tidaklah sebanding dengan penderitaan yang Fara rasakan karena kesalahan Ayahnya.
"Baiklah, aku akan memikirkannya Fara...aku akan mempertimbangkannya...tunggu aku..."
"Jika kau sungguh-sungguh ingin minta maaf, harusnya kau tidak perlu mengulur waktu untuk memikirkannya!"
"Baiklah Fara...baiklah, aku pastikan aku akan membebaskanmu! Secepatnya Fara....secepatnya....bersabarlah sebentar saja..."
"Baiklah, sekarang aku pamit...aku pastikan akan mengurus semuanya..."
"Husein, tunggu!", teriak Fara tiba-tiba.
"Aku punya satu permintaan lagi?"
Husein berbalik dan kembali mendekati Fara.
__ADS_1
"Apa lagi yang kamu inginkan Fara? katakan saja, aku akan berusaha memenuhinya..."
Fara menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha menguatkan hati dan mengumpulkan keberanian. Sungguh Fara sangat malu, tapi dia harus mengatakannya.
"Aku tahu aku pasti tidak tahu malu, tapi tolong Husein...tolong jangan ceraikan aku, aku mohon..."
Husein terkejut dengan permintaan itu.
"Kenapa? kenapa kau meminta itu? Bukankah alasan kau ingin membunuhku agar kau mendapatkan hartaku dan bisa pergi bersama Adrian, pria yang kau cintai? Aku bisa mengabulkannya jika kau mau. Aku akan melakukan itu demi menebus kesalahanku, kesalahan Ayahku, dan kesalahan semua keluargaku?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Fara semakin malu. Betapa bodoh dirinya.
"Pergilah Husein, pergilah...mari bicarakan ini lain kali saja..."
Husein akhirnya melangkah pergi. Meski masih banyak pertanyaan menggantung di kepalanya.
__ADS_1