
Adrian mengamati pria itu dari berbagai sisi. Benar-benar mirip dengan Husein. Hanya saja, badannya sedikit lebih kurus dan cara berjalannya sedikit terseok-seok. Walaupun tidak pernah mengenal Husein secara langsung, tapi memata-matai Husein selama berbulan-bulan, membuat Adrian sangat hafal dengan wajah, suara, maupun kebiasaan Husein. Ya, benar. Orang itu pasti benar-benar Husein.
Yang dilakukan Adrian kemudian adalah mengikuti kemana Husein pergi. Adrian harus secepatnya mencari tahu tentang apa yang terjadi dan bagaimana kehidupan yang di jalani Husein setelah kecelakaan itu. Maka sore itu Adrian benar-benar mengikuti Husein, berjalan sampai ke halte, lalu menaiki bus hingga kemudian turun di suatu halte yang lain. Adrian terus mengikuti Husein yang turun dari bus dan kemudian berjalan kaki memasuki perkampungan. Sesekali Husein melihat ke belakang. Mungkin Husein sadar jika sedang diikuti seseorang. Tapi Adrian terus berjalan seolah dia memang punya tujuan sendiri. Dan Husein pun kembali meneruskan jalannya tanpa menoleh lagi. Adrian terus berjalan mengikuti Husein, hingga kemudian Husein berhenti dan masuk ke salah satu rumah. Adrian tetap berjalan sewajar mungkin sambil mengamati dan mengingat baik-baik bentuk dan letak rumah itu. Hari ini sepertinya cukup. Tubuh dan kaki Adrian terasa sangat lelah. Tapi setidaknya kerja kerasnya tidaklah sia-sia. Adrian mendapatkan hasil yang cukup setimpal. Adrian berhasil menandai dua tempat penting, rumah dan tempat kerja Husein. Lain kali Adrian akan menyelidiki lebih lanjut tentang semua kehidupan baru Husein sambil menyusun rencana baru bersama Fara.
Sekarang sudah waktunya dirinya pulang dan beristirahat.
Keesokan harinya, Fara kembali menelpon Husein untuk menanyakan apakah Adrian berhasil menemukan Husein kemarin. Tapi rasanya membicarakan ini di telepon bukanlah pilihan yang tepat. Akhirnya Adrian mengajak Fara bertemu pada jam makan siang, untuk menceritakan semua informasi yang didapatnya kemarin dan membicarakan rencana selanjutnya.
Fara setuju dengan usul itu, dan pada jam makan siang yang dijanjikan, Fara berangkat ke sebuah restoran tidak jauh dari daerah perkantoran Adrian. Disanalah mereka sepakat untuk bertemu.
__ADS_1
Tak mau membuang waktu, Adrian menceritakan bagaimana lelahnya dia mencari-cari Husein ke semua penjuru gerai pakaian tapi hasilnya nihil, dan Adrian malah melihatnya saat keluar dari kedai minuman, lalu mengikutinya sampai ke rumah.
"Menurutmu apakah mungkin Mas Husein terkena amnesia?"
"Mungkin, dan itulah kemungkinan yang masuk akal, sebab jika kulihat dia sama sekali bukan Husein yang dulu. Sepertinya sekarang dia punya identitas dan kehidupan baru..."
"Baguslah kalau begitu, setidaknya dia tidak akan mengusik rencana kita dalam waktu dekat...",
"Jangan senang dulu, bagaimana jika Hasan atau keluarga lain melihatnya di jalan? Mereka pasti tidak mungkin tinggal diam kan?"
__ADS_1
"Ya kamu benar, lalu apa yang harus kita lakukan?", tanya Fara dengan raut yang kembali khawatir.
"Kita harus membuat Hasan dan juga keluarga yang lain tidak bisa menemukannya..."
"Tapi, bagaimana caranya..."
"Tenanglah dulu, pertama-tama kita harus menyelidiki dulu baik-baik, tentang segala rutinitas, pekerjaan, dan juga identitas Husein yang baru. Setelah itu baru kita bisa menyusun rencana..."
"Apakah itu akan memakan waktu yang lama?'
__ADS_1
"Entahlah, semoga saja tidak. Tapi paling tidak kita sudah satu langkah di depan dibanding mereka karena kita sudah tahu keberadaan Husein..."
"Baiklah, lakukanlah secepatnya apa yang menurutmu baik..."