Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 156


__ADS_3

Anya akhirnya memilih menghabiskan jatah cutinya selama tiga hari untuk tinggal dirumah orang tuanya. Anya juga menyempatkan diri mengunjungi kakek neneknya di pondok. Anya sangat bersyukur bahwa kehadirannya diterima dengan sangat baik oleh semua keluarga yang dirindukannya. Tidak ada yang menanyakan dan mengungkit soal masa lalu. Semua hanya bersyukur melihat bahwa Anya dalam keadaan baik-baik saja. Anya juga memilih untuk tidak bercerita dan menyinggung masa lalunya yang pernah menjadi wanita malam. Biarlah itu menjadi aib yang akan disimpannya sendiri. Tak perlu orang tuanya tahu fan bersedih karena hal itu. Dan semoga Allah ridho menutup aibnya.


Anya hanya berkunjung ke pondok sekali saja, dan sisanya Anya hanya ingin bersama Ibu dan Ayahnya meski itu hanya duduk sambil menonton televisi dirumah. Anya ingin menebus waktu kebersamaan mereka yang hilang selama dirinya pergi meninggalkan rumah. Hingga pada suatu sore, bertemankan secangkir teh dan pisang goreng hangat buatan Ibunya, Ayahnya mengajaknya mengobrol di teras rumah.


"Nduk, apa kamu sudah punya pacar?", tanya Ayahnya tiba-tiba yang membuat Anya hampir tersedak saat sedang meneguk teh nya.


"Anya nggak punya pacar Pak, memangnya kenapa Pak?", jawab Anya setelah berhasil menenangkan diri.


"Ada baiknya kamu segera menikah nduk, Bapak ingin bisa melihat kamu menikah dan Bapaklah yang akan menikahkan kamu..."

__ADS_1


"Kenapa Bapak bicara seperti itu? Apa ada masalah dengan kesehatan Bapak? Bapak pasti akan panjang umur dan melihat Anya menikah.."


Ucap Anya untuk menenangkan Ayahnya. Meski dalam hati Anya ragu, bahkan sebenarnya Anya cukup tahu diri dan tidak berharap untuk menikah.


"Bapak sehat nduk, tapi kan umur orang tidak ada yang tahu. Bapak hanya berharap masih sempat melihatmu menikah dan hidup berbahagia. Juga Bapak ingin menunaikan kewajiban Bapak, menikahkanmu dan menitipkanmu kepada lelaki yang bisa Bapak percaya..."


Bapak menjawab untuk menenangkan Anya. Meski dalam hatinya merasa was-was, apakah umurnya akan sampai? Sebab diam-diam Ayahnya juga menyembunyikan sesuatu dari Anya dan berpesan pada istrinya untuk tidak bercerita. Dirinya memiliki riwayat penyakit jantung dan sempat beberapa kali mengalami serangan jantung. Untunglah nyawanya masih tertolong hingga kini dirinya sangat bersyukur bisa berjumpa lagi dengan putri kesayangannya.


Ayah Anya juga tidak mau memaksakan dan membebani putrinya dengan keinginannya. Karena itu Ayah Anya akhirnya hanya bisa menyimpan harapannya di dalam doa. Di dalam sholat dan setiap malamnya Bapak berdoa, supaya Anya hidup berbahagia dan mendapatkan pendamping terbaik yang bisa menjaganya. Dan jika diizinkan Bapak juga ingin dipanjangkan umurnya untuk bisa menunaikan kewajibannya sebagai seorang Ayah untuk putri kesayangannya.

__ADS_1


Tiga hari berlalu tanpa terasa. Anya senang bisa berkumpul dan menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya, seperti masa kecilnya dulu. Tapi Anya juga ingat akan pekerjaan dan kewajibannya. Jadi dengan berat hati akhirnya Anya berpamitan untul kembali ke Ibu kota dan kembali bekerja.


"Bapak Ibu jaga kesehatan, kabari Anya kalau ada apa-apa, Anya janji akan berkunjung kalau ada hari libur..."


"Ya nduk, kamu juga hati-hati diperantauan, anak gadis harus pintar jaga diri, kalau ada laki-laki yang berniat baik mendekatimu ada baiknya disegerakan agar tidak terjadi fitnah..."


Bapak masih saja berharap.


"Nggeh Pak, Anya pamit dulu.."

__ADS_1


Setelah memeluk Ayah dan Ibunya bergantian, akhirnya Anya beranjak pergi meninggalkan rumah yang akan selalu dia rindukan.


__ADS_2