
"Sepertinya Bapak sudah sadar Bu...", ucap Anya sambil terus memperhatikan reaksi Ayahnya.
Perlahan-lahan mata laki-laki itu terbuka.
"Anya...kamu datang nak?"
Ibu yang sudah melangkah kembali berbalik demi mendengar suaminya bicara.
"Bapak, Bapak sudah bangun pak? Bagaimana Pak? Apa saja yang dirasakan?"
Bapak tak menjawab, masih mencoba mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Sudah Bu, jangan banyak ditanya dulu, biar Anya keluar panggil perawat..."
Baru saja akan melangkah, Bapak kembali menahan tangan Anya.
"Sepertinya Bapak ingin kamu temani, biar Ibu saja yang panggil perawat nduk..."
Anya menurut, menemani Ayahnya sambil terus menggenggam tangannya agar Ayahnya merasa lebih tenang.
Tidak berselang lama Ibu datang bersama dokter dan perawat.
"Silahkan keluar dulu, biar kami memeriksa kondisi pasien.."
"Baik dok..."
Dengan berat hati Bapak melepas tangan Anya.
__ADS_1
Anya melangkah keluar dan bergabung dengan Ibu, Zaki, dan Husein di ruang tunggu. Tanpa sengaja matanya bertatapan dengan Husein yang langsung tersenyum melihatnya.
Entah mengapa ditatap seperti itu membuat Anya salah tingkah dan segera mengalihkan pandangannya.
Anya memilih duduk di samping Ibu, sedang Husein melanjutkan bercakap-cakap dengan Kak Zaki. Dari pembicaraan mereka, Anya bisa menangkap bahwa Husein berada dirumah bersama orang tuanya saat Ayahnya jatuh. Zaki berterimakasih karena ada Husein yang sigap menolong dan membawa Ayahnya kerumah sakit. Tapi kemudian Husein justru meminta maaf, bahwa mungkin karena ucapannya lah Ayahnya jadi begini.
Tapi apa yang diucapkan Husein sampai bisa membuat Ayahnya begini? Anya penasaran, tapi hanya bisa menyimpan pertanyaannya di dalam hati saja.
Kemudian perawat keluar dan memberitahu bahwa Ayah Anya akan dipindahkan ke ruang perawatan.
Ibu, Anya, Husein, dan Zaki mengikuti saat ranjang Bapak didorong oleh perawat ke ruang perawatan. Sesampainya disana, Anya dan Zaki menemui dokter yang memeriksa kondisi Bapak.
"Kondisi Ayah kalian sudah cukup stabil, tapi saran saya operasi pemasangan ring segera dilakukan karena terjadi penyumbatan pembuluh darah arteri. Jika tidak serangan serupa dikhawatirkan bisa terjadi sewaktu-waktu. Sebaiknya hal ini segera didiskusikan agar kami bisa segera melakukan tindakan..."
"Baik dok, kami akan segera mendiskusikannya, tolong lakukan perawatan yang terbaik untuk Ayah kami..."
Dokter kemudian pergi meninggalkan kamar perawatan.
"Anya...anya..."
Dari dalam ruang perawatan Bapak memanggil dengan suara lemah.
"Ya pak?", Anya segera menghampiri Ayahnya.
"Bapak mau apa? Apa perlu sesuatu?"
"Tolong panggilkan temanmu!"
__ADS_1
"Teman siapa Pak?"
"Halah, teman atau pacarmu, yang katanya atasanmu di kantor itu!"
Anya menjadi malu sendiri mendengar Bapak bicara begitu.
Tapi kemudian, semua orang sudah masuk ke ruang perawatan Bapak.
"Apa saya yang Bapak maksud? Nama saya Husein Pak..."
"Ya..ya...kamu! Kamu sudah bikin saya jantungan, sekarang saya ingin kamu tanggung jawab, nikahi putri saya Anya!"
Anya tidak tahu lagi sudah semerah apa wajahnya saat ini. Anya benar-benar malu mendengar Bapak bicara begitu pada Husein.
"Pak, Bapak pasti salah paham, dia bukan pacar Anya, dia hanya atasan Anya Pak, mana mungkin kami menikah..."
Anya mencoba menjelaskan walaupun tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.
"Bukan pacar bagaimana? Dia sendiri yang kemerin tiba-tiba datang ke rumah, bilang ingin melamar dan menikahi kamu! Nih, sampai bikin Bapak jantungan saking kagetnya...."
Melihat Bapak yang mulai banyak bicara dan terlalu bersemangat, membuat Zaki khawatir dan akhirnya mencoba menengahi.
"Bapak tenang saja, aku akan memastikan Anya nanti akan menikah dengan laki-laki yang tepat. Yang terpenting sekarang Bapak harus sembuh dulu, tadi dokter menyarankan agar segera dilalukan operasi..."
"Pokoknya Bapak tidak mau dioperasi, sebelum melihat Anya menikah! Bapak tidak mau mati, sebelum melihat anak perempuan Bapak menikah. Bapak tidak bisa tenang kalau begini!"
Bapak semakin ngotot dengan keiinginannya.
__ADS_1
"Saya akan menikahi Anya, jika memang Bapak dan Ibu merestui..."