
Dari kantor Hasan, Husein langsung bergegas ke rumah Anya. Berkali-kali Husein menekan bel, tapi tak ada jawaban sama sekali dari dalam rumah. Husein lalu bertanya pada satpam yang berjaga di komplek perumahan itu. Tapi jawaban yang di dapat sama sekali tidak memuaskan. Satpam yang bertugas tampaknya abai dalam tugasnya, hingga tidak bisa memberikan jawaban valid, apakah Anya keluar dari komplek perumahan atau tidak.
Siang itu Husein terpaksa pergi dengan tangan kosong. Husein berusaha tetap bersikap tenang meski pikirannya kalut. Sementara ini dia akan pergi makan siang dan mengurus beberapa pekerjaan secara online. Setelah itu Husein akan kembali mendatangi rumah Anya. Untunglah Anya punya teman satu rumah yang tinggal bersamanya. Jika benar Anya pergi dari rumah, pastilah Husein masih bisa bertanya pada temannya bukan?
Husein akhirnya memilih mampir ke sebuah resto yang tak jauh dari rumah Anya. Disana Husein langsung membuka laptopnya. Dan saat pelayan datang, Husein hanya memesan makanan dengan asal. Yang ada di pikiran Husein hanyalah dia harus secepatnya menyelesaikan pekerjaan dan makan siangnya, setelah itu Husein akan kembali ke rumah Anya.
Tapi ternyata tubuhnya berkata lain, karena terlalu lelah dan kurang tidur, Husein justru tertidur di resto itu saat menunggu email balasan dari Rayhan.
Pelayan restoran membangunkannya saat hari sudah sore. Husein segera mencuci muka, lalu bergegas kembali le rumah Anya. Hanya satu kali menekan bel, seseorang sudah mrmbukakan pintu untuknya. Tapi itu bukan Anya. Dan hatinya merasa kecewa.
"Maaf, apa Anya ada dirumah?"
Tanyanya langsung dengan tidak sabar.
__ADS_1
"Saya baru pulang, sepertinya Anya ada dikamarnya, biar saya panggilkan dulu...", jawab gadis itu dengan sopan.
Gadis itu pun masuk ke dalam rumah setelah menyuruh Husein menunggu. Tapi entah mengapa hingga setengah jam lebih gadis itu tak kunjung keluar. Dan firasat Husein mulai tak enak.
Tak ingin menunggu lebih lama lagi, Husein kembali menekan bel agar gadis itu keluar.
Tak berselang lama gadis itu keluar dengan raut wajah panik dan kacau.
"Ada apa?"
"Apa maksudmu? Pergi kemana dia? Jangan coba-coba menyembunyikan Anya dariku!", Teriak Husein dengan kesal.
Bukan bermaksud bersikap kasar, Husein hanya khawatir pada Anya.
__ADS_1
"Aku tidak menyembunyikannya, aku sendiri baru tahu kalau Anya pergi dari rumah dan aku juga sangat khawatir!"
Fitri lalu membawa Husein masuk ke kamar Anya agar laki-laki itu percaya. Anya tidak berpamitan dan sama sekali tidak bilang mau pergi kemana. Dia atas meja di kamarnya Anya hanya
meninggalkan secarik kertas untuk Fitri.
Fitri, aku pergi dulu, tolong jangan mencariku, kelak aku yang akan menghubungimu lagi jika keadaan sudah kondusif. Terimakasih banyak atas kebaikanmu selama ini...
Fitri tidak percaya Anya pergi begitu saja tanpa tanda apapun. Fitri berusaha menghubungi ponsel Anya berulang kali, tapi hasilnya sama saja. Nomor Anya tidak bisa dihubungi. Fitri bahkan sampai lupa kalau dia meninggalkan tamu yang sedang menunggu Anya di depan.
Setelah melihat sendiri ke dalam kamar Anya, barulah Husein percaya tentang apa yang dikatakan Fitri.
Husein hanya bisa terduduk lemas di lantai kamar Anya. Husein benar-benar merasa bodoh. Seandainya dia lebih cepat menyadari apa yang dialami Anya, mungkin dia bisa mencegah Anya agar tidak pergi dan meyakinkan Anya bahwa semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
Tapi sekarang semua sudah terlambat, kemana dia harus mencari Anya? Otaknya benar-benar buntu sekarang