Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 165


__ADS_3

Sebelum pulang kembali ke ibu kota, Hasan memyempatkan diri untuk memesan paket honeymoon di sebuah hotel berbintang dengan tipe kamar presidential suite tidak jauh dari rumah sakit tempat Ayah Anya dirawat.


"Selamat bersenang-senang bro, selamat menikmati malam-malam yang panjang..."


Begitu pesan Hasan pada saudara kembarnya sebelum benar-benar pulang.


"Kau ini! Suka sekali menggodaku...cepatlah menikah supaya kau tidak penasaran dengan kegiatanku nanti!"


"Sialan!"


Setelah itu barulah Hasan bisa


pergi dengan tenang.


Husein lalu memperhatikan Anya, yang daritadi sedang duduk menunggunya bercakap-cakap dengan Hasan. Anya tampak sedikit pucat.


"Apa kamu sakit?",


Tanya Husein sambil menghampiri Anya.


"Aku hanya sedikit pusing..."


"Kamu pasti lelah, ayo kita ke hotel, kamu harus beristirahat.."


"Ya.."


Husein menggandeng Anya yang terus berjalan sambil menunduk menyembunyikan wajahnya. Melihat tingkah Anya membuat Husein menjadi gemas dan akhirnya memutuskan untuk membawa gadis kecil itu dengan menggendongnya.


"Lepaskan aku! Ini dirumah sakit!"


"Tidak apa-apa, kita kan pengantin, mereka pasti maklum..."

__ADS_1


Anya mencoba meronta, tapi Husein semakin kuat memegangnya sambil tertawa bahagia melewati orang-orang yang memperhatikan mereka.


Akhirnya Anya hanya bisa pasrah hingga mereka masuk ke mobil yang sudah menunggu.


Sopir Husein sudah tahu kemana arah yang harus dituju untuk mengantarkan majikannya.


Sesampainya di lobby hotel, Husein sendiri yang membukakan pintu untuk Anya. Begitu Anya melangkah kekuar, Husein langsung menggending Anya lagi dan membawanya menuju kamar mereka.


Husein lalu menurunkan tubuh Anya ke tempat tidur.


"Beristirahatlah, kamu terlihat sangat lelah, apa perlu minum obat?"


"Tidak perlu, biasanya akan reda sendiri.."


"Baiklah..."


Husein berniat ingin membantu membuka kebaya Anya yang tadi dikenakannya untuk akad nikah, tapi Anya menepis tangannya.


"Aku bisa sendiri!"


"Tapi Anya..."


"Jangan!"


"Baiklah, aku akan ke kamar mandi, lakukanlah pelan-pelan, bilang padaku kalau butuh bantuan..."


"Ya..."


Husein lalu masuk ke kamar mandi karena tak ingin menganggu Anya. Husein berendam agak lama agar Anya punya waktu untuk sendiri. Pernikahan ini sangat mendadak, mungkin Anya butuh waktu untuk menerima kehadirannya.


Sementara itu, Anya memilih sudut paling tersembunyi dan berganti pakaian secepat ia bisa sebelum Husein keluar dari kamar mandi. Anya lalu membersihkan riasan tipis di wajahnya dengan kapas dan cairan pembersih. Setelah selesai Anya lalu berbaring dengan selimut menutup rapat tubuhnya. Anya ingin tidur sebentar tapi entah mengapa matanya tak kunjung bisa terpejam.

__ADS_1


Hasan tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan langsung melihat Anya yang duduk di tempat tidur dengan selimut membalut tubuhnya. Anya sebenarnya ingin pura-pura tidur, tapi terlambat karema Husein kekuar dengan tiba-tiba.


Husein keluar dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya, membuat Anya terkesiap saat melihat tubuh bagian atas Husein yang terbuka.


"Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu...setelah itu baru kita tidur..."


Ucapan Husein seketika membuat bulu kuduk Anya meremang. Entah apa maksud kalimat Husein. Tapi hal itu langsung membuat Anya berpikir yang tidak-tidak.


Anya langsung beranjak dan pergi ke kamar mandi untuk menghindari tatapan Husein yang membuatnya serba salah.


Anya menutup pintu dan memilih berlama-lama di kamar mandi, berharap saat keluar nanti Husein sudah tertidur karena kelelahan.


Tapi kemudian pintu kamar mandi justru di ketuk dari luar.


"Anya, sedang apa di dalam? Jangan lama-lama, nanti kamu masuk angin! Jangan khawatir, aku tidak akan menerkammu!"


Sialan. Bagaimana bisa Husein menebak pikirannya? Anya mengambil handuk, mengeringkan tubuh, lalu memakai pakaiannya dan keluar.


Husein sedang duduk di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.


Anya memilih berjalan menuju pantry kecil dan menyeduh secangkir teh, lalu menghidangkan untuk Husein.


"Terimakasih, kemarilah, jangan pura-pura sibuk!"


Husein menepuk-nepuk tempat disampingnya agar Anya kesana.


Anya menurut, dengan rikuh ikut berbaring di samping Husein yang saat ini juga tengah berbaring.


"Tidurlah..."


Husein lalu memeluk Anya dan memejamkan matanya. Sesaat Anya diam, tersihir dengan apa yang dilakukan Husein.

__ADS_1


Anya melihat mata Husein terpejam. Anya akhirnya ikut memejamkan mata. Rasa nyaman dan lelah akhirnya membuat mereka berdua sama-sama terlelap.


__ADS_2