
Husein terbangun saat hari sudah siang dan mendapati tangan Anya melingkar di pinggangnya. Husein tersenyum dan melihat jam dipergelangan tangannya. Ternyata sudah lewat waktunya shalat dhuhur.
Husein lalu membangunkan Anya untuk menunaikan shalat berjamaah bersama istrinya itu.
Setelah selesai sholat mereka menyempatkan menelpon Kak Zaki untuk menanyakan kabar Bapak. Untunglah semua baik-baik saja dan mereka langsung memutus sambungan telepon karena tak ingin menganggu Husein dan Anya.
Setelah itu Husein memesan makan siang untuk diantar kekamar. Seperti kemarin, mereka makan siang berdua dengan lahap. Sebab tadi pagi mereka sampai lupa kalau telah melewatkan sarapan.
Bukan tanpa alasan Husein memilih makan siang di kamar saja. Sebab sebenarnya Husein sudah tidak sabar untuk melakukan sesuatu bersama Anya.
Setelah selesai makan Husein kembali berbaring di tempat tidur.
"Anya, kemarilah..."
"Maaf, aku tidak ingin tidur lagi.."
"Tidak apa, tolong temani aku tidur..."
Anta menurut, naik ke atas tempat tidur.
Husein mendekat dan menarik pinggang Anya mendekat, bersiap untuk mencium istrinya. Tapi tiba-tiba Anya memalingkan wajahnya.
"Kenapa?"
"Maaf, aku tidak bisa..."
"Tapi kenapa Anya?"
Husein terpaksa meredam gairahnya yang tengah memuncak.
"Maaf..."
Husein tidak ingin memaksa, Husein laku memeluk tubuh Anya dari belakang dan berbisik di telinga Anya.
__ADS_1
"Tapi kenapa? tolong beri aku penjelasan supaya aku bisa memahamimu..."
"A...aku...merasa sangat kotor, aku tidak pantas untukmu..."
Dengan terbata Anya menjawab.
Husein semakin mengeratkan pelukannya.
"Dengarkan aku Anya, tidak ada manusia yang luput dari dosa, dan sebaik-baiknya pendosa adalah mereka yang bertobat. Aku sudah tahu hal terkelam tentang dirimu dan aku sudah memutuskan untuk menerimanya, sebab aku tahu kamu punya hati yang tulus melebihi siapapun yang kukenal. Jadi tolong, jangan rendahkan dirimu sendiri dengan berfikir yang bukan-bukan. Jika sekarang kamu belum siap, aku bisa menunggu. Mari kita mulai perjalanan ini dengan meluruskan niat kita, semoga Allah senantiasa melindungi dan menjaga kita..."
Husein lalu membalik tubuh Anya dan menatap mata Anya dalam-dalam sebelum kemudian mencium kening Anya dengan penuh perasaan.
"Sekarang temani aku tidur, kamu tidak keberatan kan? Hanya tidur.."
Anya mengangguk lemah, lalu Husein kembali memeluk tubuh Anya erat-erat sambil memejamkan mata.
Husein benar-benar kembali tertidur. Sepertinya Husein benar-benar lelah. Dan selama Husein tidur Anya hanya bertahan di pelukan Husein sambil memandangi wajah suaminya. Tadi dia sudah menolak Husein, setidaknya Anya ingin menjadi istri yang berbakti dengan menuruti permintaan kecil Husein. Menemaninya tidur.
Husein terbangun saat hari sudah sore. Tidur terlalu lama membuat kepalanya terasa sedikit pusing. Dan sore itu Husein akhirnya mengajak Anya keluar untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya. Husein ingin mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di kota kelahiran Anya. Tapi karena keterbatasan waktu, Husein akhirnya memilih menyambangi sebuah pertokoan legendaris yang berada di pusat kota.
"Ada apa Anya? Apa ada masalah?"
"Tidak, tidak ada apa-apa..."
Sebenarnya Husein masih ingin berjalan-jalan di sana. Tapi melihat Anya yang kurang antusias, saat hari beranjak gelap akhirnya Husein memutuskan untuk mengajak Anya pulang ke hotel.
Hati Anya tidak bisa tenang dan sepanjang sore itu Anya terus memikirkan kata-kata Husein tadi siang. Husein telah banyak bersabar dan begitu baik padanya, tapi dirinya justru egois hanya memikirkan ketakutannya sendiri.
Meski pernikahan mereka terjadi dengan mendadak, tapi seperti semua pria, Anya memahami bahwa Husein juga sangat menantikan malam pertama mereka. Dan tidak baik jika Anya terus menghindar dan menolak suami sebaik Husein, meski Husein bilang masih bisa bersabar.
Akhirnya malam itu selepas sampai di hotel dan shalat isya berjamaah, Anya memberanikan diri memakai lingerie dan mendekati Husein.
Melihat istrinya mendekatinya dengan pakaian yang begitu menggoda membuat Husein langsung menatap Anya lekat-lekat dengan gairah membuncah.
__ADS_1
"Apa ini? Kau pasti berubah pikiran karena tergoda melihatku yang begitu tampan?"
Husein mencoba bercanda, sebelum kemudian meraih pinggang Anya dan membawanya duduk di pangkuannya.
"Apa kamu benar-benar sudah siap Anya?"
"Aku...hanya ingin menunaikan kewajibanku sebagai istri dan memberikan hakmu, maaf jika selama ini aku selalu egois..."
Husein memegang kepala Anya, lalu mencium bibirnya dengan lembut.
"Kalau begitu, mari kita lakukan malam ini..."
Husein menarik tubuh Anya ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat-erat.
"Dengar Anya, kamu adalah wanita tercantik dan terbaik dalam hidupku, tak peduli bagaimanapun masa lalumu. Jangan berpikir macam-macam, fokuslah pada diriku dan cintai aku seperti aku mencintaimu, terimakasih sudah percaya padaku..."
Setelah mengatakan itu, Husein mulai menyentuh setiap jengkal tubuh Anya, menghujani dengan ciuman-ciuman yang begitu mendamba. Husein melakukannya dengan lembut, hingga membuat Anya terbuai.
Husein tidak mau terburu-buru, Husein menjelajahi setiap jengkal tubuh Anya dan memberikan sentuhan sepenuh hati hingga dia merasakan tubuh wanitanya menegang.
"Anya, apa kamu sudah siap?"
Dalam rengkuhan tubuh kekar suaminya Anya mengangguk. Dan kemudian terjadilah penyatuan yang begitu dasyat. Dua insan bersatu dengan penuh cinta, saling merasakan dan memberikan kenikmatan yang tiada duanya.
Mereka memang bukan yang pertama bagi satu sama lain, tapi cinta yang telah dibalut dengan ikatan halal dan ketulusan menjadikan mereka manusia yang paling bahagia.
"Terimakasih Anya.. terimakasih kamu sudah melawan ketakutanmu demi melayaniku. Kamu adalah istri yang terbaik di dunia ini bagiku.."
Husein mengecup lembut kening Anya setelah mereka selesai.
Sejak hari itu dan hari-hari selanjutnya, Husein terus menghujani Anya dengan cinta. Membuat Anya percaya bahwa dirinya begitu berharga terlepas dari apapun masa lalunya. Jika dulu bersama Fara Husein melakukannya sekedar karena kewajiban dan tanggung jawab, bersama Anya Husein benar-benar memberikan seluruh hatinya.
Anya merasa sangat beruntung, seolah kebahagian bertubi-tubi menghujaninya setelah liku-liku perjalanan hidup yang pahit dilaluinya. Masa-masa sulit telah berlalu dan kini pelangi telah datang menyambutnya. Anya merasa menjadi wanita paling bahagia di sisi Husein yang menerima segala kekurangannya.
__ADS_1
Kondisi kesehatan Bapak juga terus membaik dan tidak ada masalah sejak operasi. Mungkin karena hati yang gembira membuat hati Bapak dan Ibu menjadi tenang. Dan kebahagian mereka semakin lengkap saat akhirnya Kak Zaki menikah dengan pujaan hatinya. Mereka memang hidup terpisah. Anya dan Zaki tinggal di ibu kota bersama keluarga masing-masing. Sedang Bapak dan Ibu memilih menikmati masa tuanya berdua di kampung halamannya. Tapi hati mereka tetap utuh sebagai satu keluarga, saling mendukung dan saling menyayangi, dan tak jarang mereka saling mengunjungi satu sama lain.