
Anya terkesiap menyaksikan pemandangan di depannya. Sebuah dekorasi yang sangat indah dan manis ala restoran fine dining yang hanya pernah dilihatnya di televisi. Selama hidupnya Anya bukanlah orang yang berkekurangan. Tapi Anya juga bukan orang kaya raya yang rela menghabiskan puluhan juta hanya untuk satu kali makan. Hal ini jelas menunjukkan bahwa dirinya dan Husein berada pada level yang berbeda.
"Duduklah, aku sudah memesan makanan terbaik untuk kita..."
Pelayan datang mengantarkan dua gelas minuman berwarna dan air putih.
"Apa maksudmu? Kenapa membawaku ke tempat seperti ini?"
"Minumlah dulu, Anya...jangan terburu-buru..."
Anya menurut. Mengambil gelas dan meminumnya beberapa teguk, lalu kembali memandang Husein dengan tatapan menuntut.
"Anya, aku ingin bicara berdua denganmu sebagai seorang teman...", jawab Husein kemudian.
"Teman?"
"Ya, teman, bukankah kita berteman? Kamulah satu-satunya teman yang aku punya selama aku hilang ingatan, tidak punya apa-apa dan tidak punya siapa-siapa. Bukankah kau bilang aku juga temanmu?"
"Teman? Temanku adalah Anton, bukan Husein. Sekarang kamu sudah punya segalanya, jadi untuk apa punya teman sepertiku?"
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Anya, hidupku mungkin terlihat sempurna di mata banyak orang, tapi tidak seperti itu kenyataannya. Orang-orang di sekelilingku, apakah mereka benar-benar tulus kepadaku? Atau mereka hanya melihatku karena keluarga, harta dan kedudukan yang aku miliki? Kamu tahu bukan tentang kasus kecelakaanku? Bahkan istriku sendiri hanya menginginkan hartaku dan tega merencanakan pembunuhan atas diriku. Aku merasa kosong dan kesepian. Aku tidak bisa sepenuhnya mempercayai orang-orang di sekelilingku..."
__ADS_1
"Lalu, apa hubungannya itu semua denganku?"
"Anya, kamu adalah temanku, kamu adalah satu-satunya teman yang aku percaya tulus kepadaku, karena kamu yang ada di saat aku tidak punya apa-apa...tolong jangan menghindariku, tolong jangan pergi dariku..."
Husein bahkan berlutut sambil memegang tangan Anya. Anya terkesiap dan berusaha menepis tangan Husein, tapi Husein semakin erat menggenggamnya.
"Husein, lepaskan!"
Anya berusaha menarik tangannya sekuat tenaga, tapi Husein tetap tidak melepaskannya.
"Anya berjanjilah satu hal padaku, berjanjilah kamu akan tetap menjadi temanku dan tidak akan pergi dari sisiku! Berjanjilah untuk tidak menghaindariku lagu"
Anya yang terkejut dengan permintaan itu hanya diam dan berfikir.
"Baiklah, aku akan jadi temanmu...."
Jawab Anya kemudian. Dan Husein pun melepaskan tangannya.
Sebenarnya Anya tidak mengerti, kenapa harus seperti ini, kenapa Husein harus membawanya ke tempat seperti ini dan berbicara begitu. Tapi Anya memilih menelan pertanyaannya dan hanya mengikuti saja apa yang diinginkan Husein.
"Anya, aku juga ingin minta maaf karena tidak menemuimu setelah hari itu. Ada beberapa urusan yang ingin aku selesaikan sebelum aku menemuimu, tapi ternyata Hasan sudah menemuimu lebih dulu. Hasan benar, seharusnya aku tidak mengulur waktu dan seharusnya aku bertindak cepat untuk segera menebusmu, tapi itu tidak kulakukan..."
__ADS_1
"Sudahlah, lagi pula sebenarnya kalian tidak harus melakukannya..."
"Harusnya aku yang melakukannya, harusnya aku yang menebusmu bukan Hasan, Anya maafkan aku..."
"Sudahlah, tidak ada yang perlu dimaafkan..."
"Anya tolong jangan menghindariku lagi, aku ingin kita kembali berteman seperti dulu, berbincang dan berbagi apa saja tanpa perlu merasa canggung, anggaplah aku Anton, masih sama seperti dulu, bisakah begitu?"
Anya mengangguk dan tersenyum. Hal itu cukup untuk membuat Husein lega.
"Harusnya kamu tidak perlu mengajakku ke tempat ini hanya untuk bicara seperti ini..."
"Tidak apa-apa, ini tidaklah seberapa di banding apa yang kamu lakukan untukku dulu..."
Kemudian pekayan mukai berdatangan mengantarkan makanan pesanan Husein.
"Makanlah yang banyak Anya dan jangan terburu-buru..."
"Bagaimana dengan meetingnya? Apa kita perlu kembali kesana?"
"Tidak perlu, meeting itu tidaklah penting, mari kita nikmati waktu kita disini..."
__ADS_1
Mereka lalu menikmati makan malam bersama sambil berbincang ringan, mengenang kembali saat-saat menjadi Anton dan mengikis jarak yang ada diantara mereka.