
Setelah tiga hari menghabiskan jatah cutinya dirumah dengan bersantai, akhirnya hari ini Anya kembali masuk ke kantor meski sebenarnya dirinya masih merasa malas. Tinggal dirumah membuatnya merasa nyaman, apa-apa sudah dilayani oleh Ibu seperti saat dirinya masih tinggal di rumah dulu. Dan mungkin kenyamanan itu memunculkan kembali sifat malas Anya yang masih terbawa hingga sakarang. Akhirnya hari ini Anya jadi terlambat datang ke kantor.
"Kenapa datang terlambat, apa cuti tiga hari masih kurang?", tanya Husein setengah menyindir.
"Maaf, bukan begitu, aku terlambat bangun tadi pagi, mungkin karena kelelahan...", Jawab Anya mencari alasan.
Tentu saja dirinya tidak terlalu merasa lelah.
Dirumah Anya tidak melakukan pekerjaan apapun. Dan untuk kembali le ibukota Anya memilih menggunakan pesawat agar tidak memakan waktu dan dirinya bisa sedikit lebih lama dirumah.
"Ya sudah kalau begitu, siapkan berkas meeting seperti biasa, lalu jangan lupa nanti reservasi ke restoran sunda favoritmu untuk siang nanti, aku sedang ingin makan diluar!"
Itu hanya sebuah alasan, karena sebenarnya tiga hari tanpa kehadiran Anya membuat Husein dilanda rindu dan Husein ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama Anya di luar nanti siang.
"Baiklah..."
Anya segera melaksanakan tugasnya tanpa banyak bertanya. Dan Husein juga segera menenggelamkan diri dengan pekerjaannya sambil menunggu waktu makan siang tiba.
Anya kemudian teringat akan perkataan Ibunya bahwa atasannya pernah berkunjung ke rumah sebelum dirinya datang. Anya berfikir bahwa itu pastilah Husein, tapi untuk apa Husein sampai menemui orang tuanya? Anya berencana akan menanyakannya saat makan siang nanti.
__ADS_1
Akhirnya jam makan siang tiba. Husein memanggil Anya agar masuk ke ruangannya.
"Ayo kita berangkat, sudah reservasi kah?"
"Sudah, ayo..."
Husein berjalan keluar dari ruangannya, sementara Anya mengikutinya di belakang. Tapi kemudian Husein menarik tangan Anya dan menggandengnya.
"Berjalanlah disampingku..."
Tadinya Anya ingin menolak dan menarik tangannya, tapi melihat ada karyawan yang kemarin menggunjingkannya sedang menatapnya dengan pandangan iri, Anya memutuskan untuk pasrah dan tetap berjalan di samping Husein dengan percaya diri.
Sampai di tempat mereka langsung di sambut pelayan yang mengantar mereka ke sebuah gubuk di dekat kolam, tempat favorit Husein dan Anya jika datang kemari. Tidak lama berselang makanan dan minuman juga segera diantar, karena Anya memang sudah memesannya tadi sesuai dengan kebiasaan Husein.
Mereka pun mulai menikmati hidangan sambil berbincang ringan.
"Bagaimana acaramu pulang kampung kemarin? Menyenangkan bukan bisa melepas rindu dengan keluarga tercinta?", Husein memulai percakapan siang itu.
"Ya, aku tidak menyangka akan diterima dengan begitu hangat, terimakasih sudah mengingatkan dan menyadarkanku..."
__ADS_1
"Ya begitulah, terkadang kita begitu percaya pada anggapan kita sendiri, tapi ternyata kebenarannya tidaklah sama, dan kalau tidak pernah mencoba kita tidak akan pernah tahu kebenarannya..."
"Oh ya Ibuku bilang ada seorang temanku datang kerumah, apa itu kamu?"
Husein mengulum senyum dan menatap Anya dengan pandangan menggoda.
"Menurutmu?"
"Kemungkinan besar iya, karena aku tak banyak memiliki teman, apalagi yang bisa dengan mudah pergi ke luar kota..."
"Hahaha, kau pintar juga menebak..."
"Tapi untuk apa kau berkunjung ke rumah orang tuaku?"
"Hahaha, tidak apa-apa, hanya ingin bersilaturahmi dan berkenalan dengan calon mertua saja..."
Husein semakin senang menggoda Anya.
"Apa maksudmu?",
__ADS_1
Anya menatap Husein dengan tatapan tajam, menuntut sebuah penjelasan.