
Kelimpahan materi yang diberikan keluarganya nyatanya tak lantas membuat Adrian hidup dengan bahagia. Yang Adrian ingat kebahagiannya yang utuh hanya dirasakannya di masa kecil. Saat usianya masih polos dan belum mampu mencerna kerumitan masalah orang dewasa.
Saat beranjak remaja, Adrian mulai mengerti bahwa keluarganya yang nampak baik-baik saja di permukaan, ternyata bukanlah keluarga harmonis seperti yang diimpikannya. Ayah dan Ibunya sering bertengkar di rumah. Kedua orang tuanya memang jarang berada di rumah karena kesibukan mengurus usaha masing-masing. Selama ini yang selalu menemani Adrian dan memberikan Adrian perhatian, kehangatan, dan kasih sayang adalah Mbok Sum, pengasuh sekaligus ART yang bekerja di rumanya sejak lama.
Ayah dan Ibunya hanya akan pulang kembali ke rumah saat malam telah larut dan Adrian sudah mengantuk. Tapi sesekali Adrian rela menahan rasa kantuknya demi berjumpa dengan orang tuanya. Sekedar bercerita dan mengobrol sebentar, itu yang diharap Adrian dari kedua orang tuanya yang sangat sibuk. Secuil perhatian dan sedikit waktu untuknya. Tapi, di satu malam saat Adrian memutuskan pergi ke kamar orang tuanya untuk bertemu, dari balik pintu yang tertutup Adrian justru mendengar suara keributan. Ada suara makian dan bentakan saling bersahut-sahutan, kemudian suara-suara benda dilemparkan, dan kemudian suara tangis yang terdengar memilukan. Adrian remaja terlalu takut untuk mengetuk pintu. Adrian memilih kembali ke kamarnya dengan perasaan sakit dan kecewa.
Kejadian itu bukan sekali saja terjadi melainkan selalu terulang lagi dan lagi. Sudah tak terhitung berapa kali Adrian memergoki kedua orang tuanya bertengkar, meski hanya di balik pintu.
__ADS_1
Dari pertengkaran yang kerap di dengarnya, Adrian bisa menyimpulkan, kalau kedua orang tuanya sama-sama egois dan mau menang sendiri. Baik Ayahnya maupun Ibunya merasa paling hebat dan merasa paling berjasa dalam mengangkat ekonomi keluarga dengan bisnisnya masing-masing. Lalu mereka akan saling serang, mengungkit kesalahan dan kelemahan pasangannya.
Begitulah kondisi keluarga Adrian yang terlihat utuh tapi rapuh di dalam. Sementara itu, sepanjang orang tuanya sibuk bertengkar, dua kakak Adrian juga jarang sekali berada di rumah. Mereka lebih suka menghabiskan waktu bersama teman-temannya diluar rumah. Entah apa yang dilakukan kedua kakaknya, Adrian selalu saja dianggap anak kecil yang tak boleh ingin tahu dan ikut campur dengan urusan kedua kakaknya.
Adrian merasa sendirian dan kesepian di rumah. Hanya Mbok Sum yang selalu ada untuknya. Sampai kemudian terjadi badai besar dalam keluarganya. Orang tuanya akhirnya memutuskan untuk bercerai. Adrian sudah mengira bahwa perceraian cepat atau lambat pasti terjadi diantara orang tuanya. Tapi yang sangat menyakiti hatinya, kedua orang tuanya dengan bangga mengaku sudah mempunyai calon pasangan masing-masing. Itu artinya baik Ayah maupun Ibunya sama-sama sudah berselingkuh sebelum pernikahan mereka benar-benar berakhir. Bagaimana mungkin mereka dengan bangga mengakui dosa menjijikkan di depan anak-anaknya?
Bisnis toko pakaian di tanah abang nantinya akan diwariskan dan dikelola oleh Aldi, kakak tertua Adrian. Sedangkan usaha bakery Ibunya akan diserahkan pada Anggita, kakak perempuan keduanya.
__ADS_1
Adrian dianggap masih terlalu kecil dan belum cukup umur. Karena itu hak Adrian hanyalah aset keluarga, berupa rumah yang kemudian masih mereka tinggali bersama.
Tumbuh rasa iri di hati Adrian pada kedua kakaknya. Keputusan itu sangat tidak adil bagi dirinya.
Sebagai gantinya Adrian berusaha sebaik mungkin untuk sukses di masa depan. Adrian ingin membuktikan bahwa dengan kemampuannya sendiri dia bisa mengungguli kesuksesan kakaknya yang mewarisi bisnis orang tuanya.
Dan satu lagi, rasa iri hati dan kedengkian pada kakaknya membuat Adrian nekat merebut pacar kakaknya waktu itu. Yaitu Fara.
__ADS_1