Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 147


__ADS_3

Anya terkejut dengan kata-kata yang baru saja meluncur dari mulut Husein. Meskipun selama ini Anya kerap merasa besar kepala dengan perlakuan Husein, tapi mendengarnya langsung Husein bicara dengan segamblang ini benar-benar di luar dugaannya.


"Apa maksudmu? Kamu sedang bercanda kan?"


Tanya Anya dengan tatapan tajam.


"Tidak Anya, tentu saja aku serius, untuk apa aku bercanda dengan hal semacam ini..."


Anya menatap ke dalam mata Husein, mencari kesungguhan dari sana.


"Husein hanya karena aku pernah menolongmu, kau tidak perlu merasa terus berhutang budi, apa yang kamu lakukan dengan memberiku pekerjaan yang layak sudah lebih dari cukup..."


"Anya, ini bukan masalah hutang budi, aku rasa aku sungguh-sungguh mencintaimu..."


Jawab Husein tanpa ragu.


Anya kembali menatap Husein. Semakin Anya melihat ketulusan dan kesungguhan dari bola mata Husein, semakin Anya merasa takut. Tidak. Bukan hal semacam ini yangbseharusnya terjadi. Seharusnya dirinya bisa hidup tenang tanpa harus pusing memikirkan masalah cinta.


"Kamu salah, itu bukan cinta. Itu pasti hanyalah perasaan kasihan karena kamu terlalu banyak tahu tentang kehidupanku yang menyedihkan..."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Anya langsung berdiri dan beranjak pergi dari hadapan Husein.


"Anya...anya...mau kemana kamu?"


Husein mengejar Anya yang tiba-tiba berlari meninggalkannya. Husein berhasil menyusul Anya dan menggenggam tangan Anya.


"Mau kemana? aku belum selesai bicara. Setidaknya kita bisa membicarakannya baik-baik dan makan malam bersama..."


Tapi yang terjadi kemudian, Anya justru meronta dan berusaha melepaskan genggaman tangannya. Husein mencoba menahannya sekuat tenaga. Meski tidak bermaksud menyakiti Anya, tapi Husein semakin erat mengenggam karena tak ingin Anya pergi.


"Tolong...tolong...!"


Anya kemudian berteriak, memancing perhatian semua orang yang ada disekitar mereka, bahkan kemudian Anya menggigit tangan Husein yang tak kunjung lepas.


Saat genggaman tangan Husein terlepas,


Anya langsung berlari sekencang-kencangnya.


Mendengar keributan yang terjadi seorang satpam menghampiri Husein untuk menanyakan apa yang terjadi. Dan karena hal itu juga Husein jadi kehilangan jejak Anya.

__ADS_1


Husein merasa sangat khawatir, apalagi jika mengingat dirinya pernah kehilangan jejak Anya dalam waktu yang cukup lama. Husein tidak ingin peristiwa itu terulang kembali. Husein segera menelpon orang kepercayannya untuk segera menyusul Anya ke tempat-tempat yang mungkin di datanginya. Sementara itu Husein hanya bisa berputar-putar di jalanan dengan pikiran kalut sambil menunggu kabar Anya.


Hingga akhirnya Husein mendapatkan telepon dari orang kepercayaannya yang mengatakan bahwa Anya sudah kembali ke rumah kontrakannya.


"Terus ikuti dia kemanapun dia pergi dan jangan sampai kamu kehilangan jejaknya, mengerti?"


"Siap Bos!"


Husein akhirnya bisa bernafas lega dan memilih pulang kembali ke rumahnya.


Setelah menemukan Anya dan meminta Anya kembali bekerja di kantornya, Husein juga menyuruh Anya kembali ke rumah yang dikontrakannya bersama Fitri. Untunglah Anya tidak menolak permintaannya. Dan Husein pun langsung membayar rumah itu untuk tiga tahun agar Anya tidak pergi.


Husein merasa kecewa sebab makan malam romantis yang telah direncanakannua sedemikian rupa berakhir kacau. Husein kurang memperhitungkan perasaan dan kondisi mental Anya yang belum siap menerima ungkapan cinta. Tapi Husein juga bersyukur Anya masih berada di dalam jangkauannya. Setidaknya, Husein tidak ingin masalah ini membuat Anya menghindar dan menjauhinya.


Keesokan harinya, di kantor Husein menunggu Anya dengan harap-harap cemas. Apakah Anya akan datang ke kantor setelah kejadian kemarin malam?


Akhirnya Anya datang dan masuk ke dalam ruangannya.


"Selamat pagi Anya, senang melihatmu lagi...", sapa Husein sambil tersenyum.

__ADS_1


Anya lalu mengangsurkan sebuah map ke meja Husein.


"Aku mengajukan surat pengunduran diri.."


__ADS_2