Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 155


__ADS_3

"Maaf, sejak kapan Bapak terserang stroke dan memakai kursi roda? Sudah berobat kemana saja Pak?"


Anya lalu memberanikan diri untuk bertanya. Sejak awal melihat keadaan Ayahnya Anya cukup terkejut dan merasa khawatir.


"Sudah nduk, Bapak tidak apa-apa, namanya orang sudah tua ada-ada sakitnya...Bapak baik-baik saja, hanya belum bisa pulih. Untung Ibumu selalu setia membantu Bapak. Apa kamu kecewa nduk punya Bapak cacat?"


"Nggak Pak, tidak seperti itu...Anya hanya khawatir, maaf selama ini Anya tidak tahu kabar Bapak dan Ibu sampai seperti ini..."


"Nggak papa nduk, kamu akhirnya pulang saja kami senang sekali...bagaimana kabarmu selama ini? Tinggal dimana kamu dan apa saja yang kamu lakukan?"


Ayahnya mulai.membrondong Anya dengan banyak pertanyaan karena rasa penasarannya.


Anya hanya tersenyum, bingung harus menjawab apa dan memulai dari mana.


"Sudah-sudah nduk, nggak usah dijawab pertanyaan Bapakmu dulu, kamu pasti capek, sudah sana istirahat dulu saja..."


Timpal Ibunya yang seakan mengerti, mungkin Anya belum siap bercerita, apalagi membahas masa lalu yang menyakitkan.


"Nggak papa Bu, Anya sudah kenyang dan sudah nggak capek lagi...alhamdulillah sekarang aku tinggal di rumah kontrakan di jakarta dan sudah bekerja di kantor..."


"Wah bagus sekali nduk, Bapak jadi bisa sedikit tenang sekarang, lalu kalau boleh tahu gimana kabar cucu Bapak? Apa dia tinggal sama kamu juga?"


Anya terkesiap, tidak menyangka Ayahnya akan menanyakan hal itu.

__ADS_1


"Tidak pak...cucu Bapak sudah berada di surga sekarang, Anya keguguran waktu itu..."


Jawab Anya sambil mengenang nasib calon anaknya dengan rasa bersalah. Jika mengingat hal itu Anya merasa menjadi orang yang sangat buruk, dirinya telah melakukan dosa besar dan lalai menjaga calon buah hatinya.


"Maafkan Bapak nduk, pasti kamu mengalami banyak kesulitan sampai kehilangan calon bayimu, seandainya waktu itu Bapak tidak mengusirmu dan menjagamu di rumah..."


"Sudah...sudah Pak, bukan salah Bapak, sudah takdirnya seperti itu..."


Anya berusaha menenangkan Ayahnya, meski dia sendiri merasa sedih kalau mengingat hal itu.


"Oh ya, kakakmu Zaki, sekarang merantau dan bekerja di Ibu kota, niatnya ingin sekalian mencarimu Anya, tapi sempai sekarang belum menemukan jejakmu...mungkim setelah ini kamu bisa menghubunginya. Kamu anak gadis, ada baiknya kalau ada yang menjagamu diperantauan..."


Ibu sengaja membicarakan hal lain untuk mengalihkan pembicaraan.


"Nanti simpanlah nomornya dan hubungi dia kalau sudah kembali bekerja...Oh ya Anya berapa hari kamu disini? Kamu akan menginap disini kan?"


Anya belum merencanakan untuk menginap. Sebab sebelumnya Anya tidak terpikir kalau kehadirannya akan diterima dengan sehangat ini. Sejenak Anya berpikir. Sepertinya ada baiknya dia menghabiskan waktu cutinya untuk tinggal dan memperbaiki hubungannya dengan keluarganya.


"Aku cuti tiga hari Bu, kalau diizinkan Anya akan menginap disini..."


"Tentu saja nduk, kamu harus menginap disini, memangnya mau dimana lagi?"


"Baik Bu, oh ya kalau boleh tahu sejak kapan Bapak dan Ibu pernah kesini? kenapa sudah tidak tinggal di pondok pesantren lagi?"

__ADS_1


Ibu pun terdiam. Sementara Bapak terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Anya.


"Kami pindah sejak kamu pergi nduk....sungguh tidak ada niatan Bapak dan Ibu untuk benar-bemar mengusir kamu, kami hanya ingin memberimu sedikit pelajaran...kami tidak mengira kamu benar-benar pergi nduk...maafkan Bapak nduk..."


"Sudah Pak, tidak apa-apa...memang Anya yang salah..."


"Bapak sama Ibu, juga simbahmu memang kecewa dengan perbuatanmu, tapi kami tetap menyayangimu nduk...kami pindah ke rumah ini, berharap kamu segera pulang dan bisa tinggal dengam nyaman, bagaimanapun nama baik pondok harus tetap terjaga dan kami tidak ingin ada yang bicara tidak-tidak dan menyakitimu kalau kita masih tinggal disana...maafkan kami ya nduk..."


"Sudah-sudah Pak, Anya mengerti, yang penting semua sekarang baik-baik saja. Bapak fokus saja untuk pengobatan agar bisa segera sembuh, apa perlu Bapak pergi ke Ibu kota untuk berobat?"


"Tidak perlu nduk, Bapak tidak apa-apa dan masih bisa berobat disini..."


"Ya sudah, sekarang kita mengobrol yang ringan-ringan saja, bagaimana dengan pekerjaanmu sekarang? Kamu sangat beruntung Anya bisa bekerja dan punya atasan yang tampan juga baik hati..."


Ibu Anya mengalihkan pembicaraan sambil mengulum senyum.


"Apa maksud Ibu, bagaimana Ibu bisa tahu?"


"Kemarin atasanmu sempat berkunjung kemari, bukannya beliau juga yang membujukmu untuk pulang?"


"Untuk apa dia kesini Bu?"


Ibu hanya menggeleng tak mengerti, sementara Anya mencoba menyusun teka-teki, sebenarnya apa maksud Husein dengan semua ini?

__ADS_1


__ADS_2