Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 47


__ADS_3

Setelah pengunjung itu pergi, entah mengapa seharian itu Anton tidak tenang bekerja. Harinya merasa resah. Tawaran kerja dengan gaji yang tinggi tentu sangat dia butuhkan untuk saat ini. Tapi entah mengapa Anton merasa ada sesuatu yang janggal dengan tawaran pekerjaan itu. Siapakah dia dan apakah kemampuan yang dimilikinya, sampai ada seseorang yang datang khusus meminangnya untuk bekerja. Ya, walaupun pekerjaannya hanya menjadi seorang pelayan sih. Yang pasti semua orang juga mampu melakukannya. Tapi kenapa harus dia yang ditawari secara langsung pekerjaan ini? Kenapa tidak memasang iklan lowongan kerja atau paling tidak mengambil pelayan terpercaya dari agen penyalur.


Setelah selesai bekerja, Anton langsung berkemas-kemas dan bergegas pulang. Biasanya Anton melakukannya dengan santai, tapi kali ini Anton ingin segera tiba dirumah. Anton ingin segera bertemu Anya dan membicarakan masalahnya dengan gadis itu. Ya hanya Anyalah satu-satunya orang yang dia miliki dan bisa dipercaya sepenuhnya saat ini. Meski tak ada hubungan apapun, tapi bagi Anton, Anya sudah seperti pengganti keluarganya yang hilang.


Sesampainya di rumah, Anton langsung mencari keberadaan Anya. Anton tidak melihat Anya dimanapun. Pasti Anya masih berada di kamarnya. Karena tidak ingin menganggu, Anton akhirnya memilih mandi dan membersihkan dirinya dulu. Benar saja, selesai mandi Anton melihat Anya sudah duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Anton segera menghampiri Anya dan duduk disampingnya.


"Anya ada sesuatu yang ingin kubicarakan..."


"Katakan saja..."


Anton lalu menceritakan semua kejadian yang dialaminya tadi pagi. Saat seorang pria pengunjung toko menawarinya sebuah pekerjaan yang menarik, tapi sedikit aneh.


"Jangan diterima!", kata Anya begitu Anton selesai bercerita.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Itu berbahaya, kita tidak mengenal orang itu. Dan dia memintamu bekerja di dalam rumah tanpa boleh keluar? Bukankah itu mencurigakan, bagaimana kalau dia melakukan hal yang buruk padamu di dalam rumah?", Anya tampak sangat khawatir.


"Tapi gaji nya lumayan tinggi dan aku membutuhkannya Anya..."


"Gaji tinggi, tapi pekerjaannya tidak jelas! Itu terlalu berisiko....jangan lakukan, uangku masih banyak dan sangat cukup untuk kita..."


"Anya aku seorang laki-laki, memangnya apa yang mungkin dia lakukan padaku? Sedang kau sendiri juga melakukan pekerjaan itu..."


"Ma..maaf...bukan maksudku untuk menyinggungmu..."


"Tidak apa, pekerjaanku memang hina, tapi aku sudah terlanjur masuk ke dalamnya. Kamu sebenarnya ingin minta pendapatku atau ingin berdebat denganku? Jangan ambil pekerjaan itu...", Anya bicara dengan tegas lalu masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Bukannya malah menjadi tenang, Anton malah semakin bingung. Entah mengapa semakin dilarang Anton malah merasa semakin tertantang untuk mencobanya. Dua hari, hanya dua hari waktunya beefikir dan lusa Anton sudah harus mendapatkan jawabannya. Anton akhirnya juga masuk ke kamar, mungkin dia juga perlu beristirahat sejenak agar pikirannya lebih tenang.


Akhirnya tiba juga hari yang dijanjikan. Inilah waktunya Anton memberikan jawaban pada seorang pria yang menawarinya pekerjaan. Apakah pria itu benar-benar akan datang?


Hari itu Anton tetap bekerja seperti biasa. Anton mengerjakan semua rutimitasnya seperti biasa tapi kali ini pikirannya seolah tidak berada disana. Anton terus saja memikirkan tawaran pria itu dan menunggunya datang. Sebab Anton sudah memantapkan hati dan membuat keputusan.


Ternyata pria itu baru datang saat jam istirahat siang. Pria itu langsung menghampiri saat melihat Anton berdiri di depan gerai pakaian.


"Selamat siang, apa kau menungguku? Kau pasti sudah punya jawabannya bukan? Dan jangan mengecewakanku"


"Aku akan menerimanya dengan satu syarat!", ucap Anton dengan tegas.


"Syarat, syarat apa itu?"

__ADS_1


"Berikan bayarannya di depan, baru aku akan ikut bekerja denganmu!"


"Hmm, baiklah...besok aku akan memberikan bayaranmu dan bersiaplah untuk pindah ke rumahku!"


__ADS_2