
Hari-hari berikutnya, Adrian benar-benar menjalankan misinya untuk mengawasi Husein. Kali ini Adrian tidak melakukannya sendiri karena tidak mungkin dia meninggalkan pekerjaannya seharian hanya untuk membuntuti orang tak penting. Adrian menyuruh Iwan, orang kepercayaannya untuk melakukannya. Mengawasi Husein dan mengikutinya sampai mencari informasi tentang Husein sebanyak-banyaknya.
Dan hasilnya tidak mengecewakan, hanya dalam waktu dua hari saja Iwan sudah mendapatkan berbagai macam informasi yang berharga.
Adrian pun memutuskan untuk turut mengundang Fara untuk mendengar hasil kerja Iwan, agar tak perlu mengulang informasi dan menjelaskan dua kali.
Jadilah sore itu mereka bertemu di sebuah cafe untuk membahas masalah ini.
"Nama barunya adalah Anton...", kata Iwan langsung ke pokok pembicaraan.
Sementara Adrian dan Fara mendengarkan dengan serius.
"Dia baru sekitar satu bulan bekerja digerai pakaian itu. Sebelumnya dia memakai kursi roda dan rutin melakukan fisoteraphy di sebuah rumah sakit dan dinyatakan sembuh belum lama ini. Dan aku berhasil mendapatkan informasi dari perawat disana, bahwa pasien atas nama Anton memang menderita amnesia. Dan sekarang dia tinggal bersama perempuan bernama Anya. Gadis itulah yang mengaku telah menabrak dan bertanggung jawab atas pengobatan Husein. sepertinya ada salah paham disini..."
"Menabrak? Bukanlah mobil Husein mengalami kecelakaan tunggal?"
"Ya kecelakaan tunggal dan mobilnya masuk ke jurang....tapi berdasarkan kronologi kecelakaan yang dialami Anton, petugas rumah sakit bilang dia tergeletak di jalan tanpa kendaraan apapun, alias disebutkan dia berjalan kaki saat tertabrak. Jadi kemungkinan dia sempat keluar dari mobil sebelum mobil jatuh ke jurang, dan berjalan keluar..."
__ADS_1
"Oh.."
"Sekarang dia tinggal bersama dengan perempuan itu. Perempuan itu bekerja sebagai wanita malam..."
"Apa? Bagaimana mungkin suamiku tinggal bersama wanita malam?"
"Diamlah Fara! Apa kau cemburu? kau bahkan sudah mencoba membunuh suamimu sendiri, jadi jangan konyol!"
Fara menutup mulut dengan telapak tangannya.
"Ups, apa aku sudah sejahat itu?", ucapnya tak percaya.
Adrian memberikan amplop yang cukup tebal sebagai bayarannya. Selain uang bayaran, itu juga termasuk uang operasional, karena mencari informasi penting juga membutuhkan uang pelicin.
Setelah menerima amplop itu, Iwan pamit pergi meninggalkan Adrian dan Fara.
"Jadi bagaimana ini?", tanya Fara setelah Iwan pergi.
__ADS_1
"Ini mudah, biar aku yang membereskannya, nanti kau tinggal terima saja hasilnya..."
"Mudah bagaimana? Katakan padaku apa rencanamu?"
"Kita harus menyembunyikannya di suatu tempat, agar orang lain tidak bisa menemukannya. Setidaknya sampai warisan dan uang asuransi jatuh ke tanganmu!"
"Baiklah tapi bagaimana caranya menyembunyikan orang?"
"Aku akan menawarinya pekerjaan...sudahlah ayo kita pulang dulu...aku ingin beristirahat, besok pagi aku akan menemuinya dan bicara padanya...tapi tolong kau transfer uangnya, aku akan butuh biaya besar nantinya, uang peninggalan suamimu masih banyak kan?"
"Tentu saja, kau tidak perlu khawatir..."
Begitulah, Fara dan Adrian selalu menggunakan uang Husein untuk melancarkan rencana buruk mereka.
Mereka lalu pulang bersama. Adrian benar-benar butuh beristirahat, sebab rencana jahatnya belakangan ini sungguh membuatnya tak tenang, membuatnya merasa selalu lelah.
Tapi dia sudah tidak bisa berhenti. Keesokan harinya, seperti rencana, Adrian berangkat pagi-pagi sekali untuk menemui Anton alias Husein. Bahkan Adrian rela untuk tidak masuk kerja sehari itu.
__ADS_1
Adrian memilih menemui Anton di tempat kerjanya dan benar saja, pagi itu Anton sudah berada disana.