
Husein memutuskan akan mencari tahu sendiri kebenaran tentang teka teki hidupnya. Dua fakta yang telah diketahuinya. Dirinya adalah seorang lelaki yang sudah menikah. Itu artinya dia tidak boleh sembarangan dekat dengan perempuan. Dan fakta kedua adalah hal yang sangat mirs, istrinya adalah dalang pembunuhan atas dirinya. Jadi bagaimanakah nasib pernikahannya kelak? Entahlah, Husein belum mau memikirkannya.
Tapi sekarang entah mengapa Husein benar-benar ingin menemui Anya. Sudah cukup lama sejak pertemuan terakhir mereka. Tepatnya sejak Hasan membawanya ke rumah ini. Dan belum sekalipun Husein menengok Anya. Husein merasa dirinya buruk sekali, pergi begitu saja tanpa tahu balas budi. Maka akhirnya hari itu Husein meminta izin pada Hasan untuk pergi ke rumah Anya. Ya, dirumah itu Hasan lah yang diserahi tanggung jawab untuk menjaga dirinya oleh Ayah mereka. Ada-ada saja, dirinya bahkan diperlakukan seperti anak kecil.
"Hasan, aku ingin pergi menemui Anya, wanita yang waktu itu menolongku, boleh kan?"
Sesaat Hasan terdiam, memikirkan permintaan Husein yang tiba-tiba.
"Baiklah, biar aku cari waktu yang tepat..."
Hasan lalu terlihat sibuk dengan ponselnya, memeriksa agendanya.
__ADS_1
"Aku ingin pergi sendiri..."
potong Husein kemudian.
"Jangan!", reflek Hasan menjawab.
Sejujurnya Hasan tidak terlalu suka Husein dekat dengan wanita itu. Hasan sudah menyelidiki semuanya dan dia telah mengetahui pekerjaan wanita itu adalah wanita malam. Tapi Hasan juga tidak bisa memungkiri bahwa wanita itu berjasa besar bagi keluarganya, khususnya dalam menyelamatkan hidup Husein. Jadi sudah sepantasnya mereka berterimakasih dan membalas budi.
"Maksudku, biarkan aku mengantarmu...aku juga ingin bertemu dan berterimakasih padanya..."
Sejenak Hasan berfikir dan menimbang.
__ADS_1
"Baiklah, tapi biarkan satu pengawal ikut dan melihatmu dari kejauhan. Ini demi keamananmu saudaraku, kau tahu kan betapa sedihnya kami saat kamu hilang dalam kecelakaan itu?"
"Baiklah, aku akan pergi dengan satu pengawal saja, terimakasih banyak..."
Akhirnya kesepakatan pun dibuat.
Dan hari dimana Husein datang kedatangan Heru ke rumah Anya. Husein merasa geram. Untuk apa pengacau itu menganggu hidup Anya lagi? Bahkan yang lebih tidak masuk akal, istrinya juga berada di sana bersamanya. Tapi dengan tidak tahu malunya laki-laki itu ingin membawa Anya.
Husein sangat bersyukur, dia datang di waktu yang tepat. Berkat bantuan dari warga sekitar yang merasa terganggu dengan keributan, akhirnya Heru bisa diusir pergi. Husein juga bisa lebih tenang karena telah membayarkan hutangnya. Ya, dia tahu dari penyelidikan yang dilakukan keluarganya, bahwa semua biaya perawatannya dibayarkan oleh Dokter Heru, yang kemudian ditebus Anya dengan tubuhnya. Betapa terluka harga dirinya mengetahui kenyataan itu. Dan betapa besar pengorbanan Anya untuknya, pria asing yang tak punya apa-apa.
Heru memang telah berhasil diusir pada hari itu. Tapi itu tidak menjamin lelaki itu tidak akan datang di hari-hari yang lain. Karena itu secepatnya Anya harus segera pindah dan mencari tempat baru.
__ADS_1
Anya menolak bantuan yang ditawarkannya. Husein tahu Anya tulus menolongnya dan tidak mengharap balasan apapun, tapi sungguh kali ini Husein ingin sedikit saja bisa membantu. Lagi pula, jika Anya mencari tempat tinggal sendiri mungkin akan memakan waktu. Tapi dengan kekuasaan dan harta yang dimiliki keluarganya, Husein bisa mengusahakannya hanya dalam hitungan jam, bahkan menit.
Jadi kali ini dia akan memaksa Anya, mau atau tidak mau Husein akan mencarikan Anya tempat dan membawanya pergi dengan segera.