
Anya memikirkan baik-baik saran Husein untuk menemui keluarganya. Sebenarnya Anya merasa heran, mengapa tiba-tiba Husein membahas hal itu dan menyuruhnya pulang? Seperti ada maksud lain yang tidak di ketahuinya. Entah apa. Tapi semakin merenung Anya semakin menyadari bahwa dirinya memang sudah lama merindukan keluarganya. Anya bisa mengingat dengan jelas kenangannya saat hidup di dalam keluarganya yang hangat dan amat menyayanginya. Dirinyalah yang melakukan kesalahan besar hingga membuat keluarganya marah sampai akhirnya tega mengusirnya.
Bagaimana kabar orang tuanya saat ini? Anya jadi semakin penasaran. Apakah mereka masih marah dan tidak lagi menganggapnya sebagai anak, sama seperti yang dipikirkannya selama ini?
Jika mengingat hal itu, Anya masih merasa takut untuk pulang. Tapi setidaknya Anya ingin tahu tentang keadaan orang tuanya. Apakah mereka masih sehat dan baik-baik saja? Anya tidak ingin menjadi anak yang menyesal seperti apa yang di alami Husein.
Pulang. Satu kata yang teramat menakutkan bagi Anya. Bahkan untuk memikirkannya saja Anya tak memiliki keberanian. Karena itu selama ini Anya menipu pikirannya sendiri dengan selalu menganggap dirinya sudah tak punya keluarga lagi. Tapi apa yang diceritakan Husein kemarin membuatnya kembali berfikir dan merenung. Hamil di luar nikah saja sudah membuatnya diusir dari rumah. Apalagi jika sampai keluarganya tahu bahwa dirinya pernah menjadi pelac*r. Pasti kelauarganya akan sangat malu untuk mengakuinya sebagai anak.
Kebimbangan terus menghantui pikiran Anya. Anya lalu membawa kegalauannya di dalam doa. Anya memohon petunjuk pada Tuhan untuk melangkah dan meyakinkan hatinya. Anya ingin pulang, meski hanya sekedar melihat dari kejauhan, memastikan bahwa keluarganya hidup baik-baik saja tanpa dirinya. Itu saja sudah cukup baginya. Anya sudah tidak berharap lagi untuk diterima atau kembali.
Setidaknya setelah berdoa dan berdoa, Anya merasa hatinya menjadi lebih tenang. Dan Anya pun semakin yakin, bahwa dirinya memang harus pulang. Anya tidak mau selamanya menjadi pengecut yang lari dari kenyataan. Anya sudah mengambil keputusan. Ia akan pulang dan memohon maaf dan ampun sedalam-dalamnya kepada kedua orang tuanya. Setelah itu Anya hanya akan menerima apapun yang harus dia terima sebagai anak durhaka yang telah mempermalukan keluarga. Entah itu kemarahan, caci maki, bahkan jika dirinya nanti akan diusir lagi. Anya akan menerimanya dan menuruti apapun kemauannya orang tuanya nanti.
Hari itu Anya berangkat kerja seperti biasa. Jika diizinkan, hari ini Anya akan mengajukan cuti untuk besok selama tiga hari. Anya akan pulang ke kampung halamannya, bertemu orang tua dan keluarga yang sudah lama ditinggalkannya. Dan mungkin setelah itu, Anya akan butuh waktu untuk menenangkan diri selama beberapa saat.
__ADS_1
Begitu Husein datang dan masuk ke dalam ruangannya, selang beberapa saat Anya langsung menyusul. Anya mengetuk pintu, lalu masuk setelah Husein mempersilahkannya.
"Ada apa?"
"Aku ingin mengajukan cuti..", jawab Anya tanpa basa-basi.
Husein tersenyum penuh arti.
"Jadi, kamu benar-benar akan pulang?"
"Ya, sepertinya aku memang harus pulang...aku ingin cuti tiga hari..."
"Baiklah..."
__ADS_1
Husein langsung menandatangani form cuti yang diajukan Anya.
"Gunakan waktumu sebaik mungkin, habiskan waktumu bersama keluargamu dan nikmatilah kebersamaan itu selagi masih sempat..."
Husein tersenyum dengan begitu optimis.
Anya hanya tersenyum getir. Bahkan dia tidak yakin apakah keluarganya akan menerimanya kembali.
"Ya, tolong doakan aku.."
Ucap Anya akhirnya.
"Tentu saja, aku selalu berdoa untuk kebahagianmu...", ucap Husein dengan tulus.
__ADS_1
"Aku akan menyelesaikan tugasku hari ini sebaik mungkin lalu menitipkannya pada Rayhan, terimakasih banyak sudah memberiku izin..."
Setelah mengatakan itu Anya segera keluar dari ruangan Husein dan mencoba menghalau pikiran-pikiran buruknya dengan fokus bekerja.