Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 113


__ADS_3

Fara terus menjalani hari-harinya seperti itu. Entah mengapa rumah tangganya terasa hambar, meski Husein selalu bersikap baik dan manis kepadanya. Di mata orang luar pastilah Husein adalah sosok suami yang sempurna. Tampan, kaya raya, baik hati, dan bertanggung jawab. Andai saja Fara tidak bertemu dan menikah dengan Husein bukan dengan cara seperti ini. Pastilah Fara akan sangat bahagia mempunyai suami seperti Husein. Tapi kini hatinya masih saja dipenuhi dendam dan kebencian, hingga sulit baginya membuka hati untuk suaminya. Sesekali Husein juga masih mengajaknya bercinta. Fara tidak menolaknya meski tidak juga menikmatinya. Semua hanya dijalaninya sebagai formalitas semata. Fara membenci Husein tapi Fara juga takut jika Husein meninggalkannya. Begitulah Fara menjalani rumah tangganya dan merasa tersiksa dengan perasaannya sendiri. Kalau sudah begitu Fara akan menghubungi Adrian. Dengan senang hati Adrian akan meladeni segala permintaan Fara yang manja. Bagi Fara, Adrian adalah tempat pelarian yang sempurna. Adrian akan dengan senang hati mendengarkan keluh kesahnya juga curhatannya yang panjang, lalu menyediakan pundaknya saat Fara menangis tersedu-sedu. Adrian akan menenangkan Fara dengan kata-kata manis sambil menepuk-nepuk punggungnya. Bersama Adrian, Fara merasa sangat nyaman. Bersama Adrian, Fara berani terbuka, mengungkapkan segala keluh kesah dan permasalahan hidupnya. Setelah puas bercerita biasanya Adrian akan menuntun Fara ke hotel.


"Percayalah, ini akan jadi cara yang paling ampuh untuk melepaskan segala beban pikiranmu dan membuatmu lebih bahagia..."


"Apa maksudmu?"


Adrian tak lagi menjawab pertanyaan Fara dengan kata-kata, melainkan dengan perbuatan. Dengan lembut Adrian menuntun Fara ke ranjang, lalu menciumi Fara dengan penuh nafs* sambil membaringkan tubuhnya.


"Aku akan memberikan kebahagian yang tidak bisa diberikan oleh suamimu, percayalah padaku..."


Bagaikan boneka, Fara hanya mengikuti saja bagaimana Adrian menuntun dan membimbingnya perlahan-lahan. Meraba, menyentuh, menciumi seluruh anggota tubuhnya. Dan entah mengapa sentuhan Adrian terasa lebih menggetarkan daripada sentuhan Husein. Fara menikmatinya sekaligus menginginkannya lagi dan lagi. Hanya dalam waktu satu jam mereka bisa melakukan penyatuan berkali-kali. Seolah waktu yang sedikit itu begitu berharga dan tak mau disia-siakan.


"Fara, jika kamu merasa tersakiti dan terus merasa bersalah pada keluargamu, kenapa kamu tidak balas dendam saja pada mereka?"

__ADS_1


"Balas dendam? Bagaimana bisa?"


"Tentu saja bisa, mari kita buat mereka merasakan apa yang kamu rasakan..."


"Maksudmu?"


Adrian tersenyun licik, lalu menjelaskannya lebih jauh pada Fara.


"Kita buat mereka merasakan bagaimana sakitnya kehilangan nyawa orang tersayang..."


"Tentu saja tidak, aku serius. Mereka telah membunuh semua keluargamu dan menolak untuk bertanggung jawab, kila lihat bagaimana jika kejadian yang sama menimpa keluarga mereka..."


"Tapi bagaimana caranya? Aku takut, apa itu berarti kita harus membunuh?"

__ADS_1


"Tenang saja Fara, aku akan menyusun setiap detail rencananya dengan matang. Kita tidak akan menyentuhnya secara langsung..."


"Apakah bisa seperti itu?"


Fara mulai tertarik dengan usulan Adrian.


"Tentu saja bisa, kita akan melakukannya bersama..."


"Lalu apa yang akan kita dapatkan?"


"Kamu akan mendapatkan semua yang kau inginkan. Asuransi, apartemen dam warisan sebagai isteri Husein. Setelah itu kita akan menjual semua aset dan pergi sejauh-jauhnya dari sinim Kita akan mulai segalanya dari awal. Membangun kekuarga kecil yang kita inginkan...."


"Baiklah, aku percaya padamu, mari

__ADS_1


kita lakukan..."


Begitilah awal mulanya mereka merencanakan pembunuhan terhadap Husein.


__ADS_2