Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia

Wanita Malam Penyelamat Tuan Amnesia
Bab 149


__ADS_3

Hanya berselang satu hari saja, Husein sudah mendapatkan laporan tentang keluarga Anya. Orang-orangnya bekerja dengan sangat baik. Zaman sekarang memang informasi apapun lebih mudah di dapat. Ayah dan Ibu Anya masih tinggal di kota asal kelahiran Anya, sedangkan kakak laki-laki Anya tinggal dan bekerja di Jakarta. Anya dulu memang di besarkan di lingkungan pesantren milik kakeknya. Namun sejak Anya pergi kabarnya orang tuanya juga keluar dari lingkungan pondok dan tinggal di sebuah rumah sederhana di perkampungan. Kakek dan nenek Anya sekarang sudah lanjut usia dan di rawat oleh keluarga paman Anya yang tinggal di pondok. Mereka juga lah yang meneruskan mengurus dan mengelola pondok Kakek Anya.


Berbekal informasi itulah akhirnya Husein memutuskan untuk pergi sendiri untuk menemui keluarga Anya. Husein mengambil cuti dan meminta ditemani orang-orang kepercayaannya pergi ke kota kelahiran Anya. Tadinya Hasan menawarkan untuk ikut menemani, tapi Husein menolaknya karena kali ini menyelesaikan urusannya sendiri.


Hari itu juga, akhirnya Husein berangkat dengan pesawat menuju kota kelahiran Anya. Sampai di sana, Husein lalu melanjutkan perjalanan dengan mobil langsung menuju kediaman orang tua Anya. Husein ingin bertemu dan bertanya langsung pada mereka tentang putrinya.


Husein mengetuk pintu rumah orang tua Anya dan mengucap salam. Menunggu sebentar. Lalu kemudian terdengar jawaban dari dalam.


"Walaikum salam..."


Suara langkah dari dalam rumah terdengar, lalu kemudian pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya memandang Husein dengan tatapan bertanya, mengamati tamunya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Maaf, anda siapa ya?"


"Saya Husein, teman Anya..."


"A...Anya...Anya puteri saya?"


Ibu itu terlihat amat terkejut.


"Ya...jadi benar Ibu mempunyai puteri yang bernama Anya?"


"Ya benar, tapi puteri saya sudah lama pergi dari rumah...."

__ADS_1


Ibu itu berbicara dengan pandangan menerawang.


"Oh maaf, mari silahkan duduk nak, kita bicara di dalam saja, biar saya siapkan minum dulu..."


"Tidak perlu repot-repot Bu, ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan dengan Ibu dan Bapak, apakah Bapak juga ada dirumah?"


"Bapak ada dikamarnya, tapi maaf, kondisi Bapak tidak begitu baik, jadi sebaiknya bicara dengan Ibu saja..."


"Baiklah Bu..."


"Maaf kalau boleh tahu, anda teman Anya dimana? Teman sekolah atau..."


Kalimat si Ibu terpotong, Ibu itu terlihat bingung untuk melanjutkan kata-katanya.


"Anya, di jakarta? Apakah Anda tahu tempat tinggal Anya? Apakah Anda bisa memberi tahu saya? Sudah lama Anya pergi dari rumah dan kami terus mencarinya. Tapi sampai sekarang kami sekali tidak tahu kabar Anya"


Ibu Anya terlihat sangat antusias, hingga membrondong Husein dengan banyak pertanyaan.


"Sabar Bu...sebelum itu saya lebih dulu ingin mendengar cerita dari Ibu tentang Anya. Sebab Anya bilang dia sudah lama tidak berhubungan dengan keluarganya dan Anya takut untuk pulang..."


Terpaksa Husein berbohong.


"Kenapa? Kenapa Anya harus takut untuk pulang, bahkan selama ini kami kebingungan mencarinya dan sudah lama kehilangan jejaknya..."

__ADS_1


"Anya bilang bahwa dia diusir oleh keluarganya, karena itu dia tidak berani pulang sampai sekarang..."


"Itu tidak benar!"


Ibunya sedikit berteriak karena terbawa emosi.


"Ma..maaf, maksud saya..."


"Tidak apa-apa bu, cerita saja pelan-pelan Bu...saya akan mendengarkan..."


Ibu Anya duduk dan menarik nafasnya, sebelum kemudian kembali berbicara.


"Dulu kami memang ada masalah...tepatnya Anya melakukan sebuah kesalahan yang membuat kami marah, terutama Ayah Anya...kami memang mengusirnya waktu itu...tapi sungguh, kami tidak serius dengan kata-kata itu. Kami hanya ingin memberi pelajaran pada Anya, supaya dia mengerti apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan fatal. Kami pikir Anya hanya pergi sebentar dan akan kembali. Kami yakin karena sebelumnya Anya tidak pernah meninggalkan rumah walau hanya sehari. Tapi kami salah, nyatanya Anya tak kunjung pulang dan saat berusaha mencarinya kami benar-benar kehilangan jejak. Keberadaan Anya benar-benar tak terlacak. Bahkan saat Dzaki, kakak Anya menyusulnya ke ibu kota, Anya tetap tak berhasil ditemukan. Kami menyesal dengan ucapan kami pada Anya waktu itu. Kami sengaja pindah rumah, keluar dari lingkungan pondok, agar jika Anya pulang Anya bisa hidup dengan lebih nyaman. Tapi ternyata Anya tidak pulang sampai sekarang. Suami saya selalu saja memikirkan dan menanyakan keberadaan Anya setiap hari. Sekarang Ayah Anya terkena stroke, kemungkinan juga karena beban pikiran yang terlalu berat. Jika Anda mengenal dan tahu tentang keberadaan Anya, tolong beritahu kami....saya mohon nak..."


Ibu Anya hampir saja bersimpuh di kaki Husein. Tapi Husein buru-buru mencegahnya.


"Ibu...tenanglah, saya pasti akan membantu Ibu untuk bertemu dengan Anya...karena itu juga tujuan saya datang kesini, tapi tolong beri saya waktu, saya janji akan datang lagi kesini..."


Husein lalu memberikan kartu namanya sebagai jaminan.


Setelah berhasil meyakinkan Ibu Anya bahwa dia akan menepati janjinya, barulah Husein berpamitan.


Husein harus kembali ke jakarta untuk berbicara pada Anya.

__ADS_1


__ADS_2