
"Maafkan aku...maafkan aku Husein..tolong jangan tinggalkan aku...aku benar-benar tidak punya siapapun sekarang...", ucap Fara dengan putus asa.
"Hahahaha..."
Husein tertawa. Nasib rumah tangganya sudah di ujung tanduk. Tapi dia tidak merasa sedih saat ini.
"Fara, apa kau ingin makan sesuatu lagi?"
"Tidak, aku sudah kenyang..."
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang ke apartement..."
Tanpa menunggu jawaban dari Fara, Husein segera melangkahkan kaki keluar dari area restoran. Dengan terseok-seok Fara mengikuti langkah kaki Husein hingga berhasil mensejajarinya. Dengan mengumpulkan keberaniannya, Fara meraih lengan Husein. Husein sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Fara, kemudian langsung menepisnya dengan kasar.
Fara sadar, dirinya telah benar-benar kehilangan Husein. Suami yang sangat sabar dan baik hati. Yah, mungkin dirinya lah yang tidak tahu diri. Sudah bagus Husein mau memaafkan bahkan menebusnya hingga bebas. Harusnya Fara tidak berharap lebih dari hubungan yang jelas hancur berkeping-keping. Tapi kenapa sekarang dirinya sungguh tak rela? Fara benar-benar membutuhkan Husein. Hanya pria inilah yanh dimiliki Fara saat ini. Hanya Husein lah satu-satunya orang yang masih peduli pada nasibnya. Fara tahu dia telaj salah mengambil langkah. Tapi kali ini dia tak mau keliru lagi. Fara tak ingin kalah dan menyerah begitu saja. Fara sudah memutuskan untuk membuang harga diri, Fara akan rela melakukan apa saja meskipun harus bersimpuh dan memohon, agar Husein tidak meninggalkannya.
Tiba di apartement, Husein hanya berdiri di depan pintu.
"Masuklah ke dalam dan istirahatlah, aku akan pulang..."
__ADS_1
Fara menahan tangan Husein yang hendak beranjak pergi.
"Kamu tidak tinggal disini?"
"Tidak, aku tinggal dirumah bersama keluargaku..."
Husein menepis tangan Fara dan kembali melangkah.
"Husein!"
Husein menoleh. Fara melangkah beberapa langkah untuk berbicara pada Husein.
"Tolong beri aku waktu, aku akan berubah dan membuatmu mencintaiku...aku akan berusaha jadi istri yang baik..."
Husein mengacuhkan Fara dan kembali melangkah.
"Husein aku mohon..."
Fara memegang tangan Husein dan berlutut.
__ADS_1
"Apalagi yang kau inginkan? Apa ini tidak cukup?"
"Aku takut sendirian...aku benar-benar takut sendirian...tolong jangan tinggalkan aku...."
Husein kembali menepis tangan Fara.
"Sudah cukup! Sudahi sandiwaramu! Kalau kau takut sendirian, akan kukirimkan orang untuk menemanimu..."
Husein kembali melangkah pergi.
"Lihat saja, aku tidak akan membuat proses perceraian kita berjalan mudah...", batin Fara sebelum akhirnya masuk ke dalam apartement.
Husein segera berjalan keluar dari gedung apartemen. Husein tak habis fikir dengan keberanian Fara setelah apa yang dilakukan padanya. Wanita itu benar-benar tidak punya rasa malu. Benar apa yang dikatakan Hasan, wanita itu licik dan berbahaya. Dia harus lebih berhati-hati jika berhadapan dengan wanita itu.
Husein tiba-tiba teringat pada seseorang. Orang yang sangat berjasa dalam hidupnya dan sangat dia rindukan. Hasan lalu melajukan mobil ke rumah orang itu. Rumah yang dia sewakan khusus untuk Anya. Tapi kali ini Husein hanya ingin melihat Anya dari kejauhan. Sejenak Husein bisa memandang wajah Anya yang sedang duduk diteras sambil menikmati secangkir kopi bersama temannya. Lalu kemudian Anya masuk ke dalam, menghilang dari pandangannya.
"Anya...tunggu aku sebentar lagi, aku pasti akan datang untukmu...", ucap Husein dalam hati.
Tanpa sadar ada seorang pria yang sejak tadi mengikuti Husein. Dari sejak menjemput Fara di lapas hingga kini Husein pergi ke rumah Anya. Pria itu mengamati setiap apa yang dilakukan Husein.
__ADS_1